
"Jangan membuatnya menangis, jika itu terjadi, maka besok aku tak akan menjamin, kau masih bernafas atau tidak."
***
Alan menambah kecepatan langkahnya, menerobos orang-orang yang ada di koridor, tujuannya lapangan.
Gio, Eza dan Bayu yang ada di belakangnya hanya mampu menghela nafas kasar. Lihat, sebentar lagi amarah Alan akan membuncah.
Gio, Eza dan Bayu kembali di buat khawatir oleh cowok dingin itu. Bodohnya, saat ini malah nekat ingin lompat dari lantai satu sekolah yang langsung mengarah pada lapangan olahraga.
"Sinting, ****, lo mau ngapain hah?" teriakan frustasi terdengar dari Gio.
"Lo jangan bodoh setan, lo bukan kucing yang punya nyawa sembilan." teriakan itu kembali keluar dari mulut Eza.
"Butuh di ingatkan, di sini masih ada tangga." Bayu menunjuk tangga yang ia maksud. Lantas dengan cepat Alan berlari menuruni anak tangga.
Saat sampai di lapangan, pandangan Alan terkunci saat melihat Melody di jambak oleh seorang cewek yang bajunya kekurangan bahan. Alan kenal cewek yang sedang menjambak Melody. Cewek gila itu seangkatan dengannya, hanya beda kelas saja. Namanya, Mega.
"Jauhin tangan lo, sialan!" teriakan Alan menggema di penjuru lapangan, semua orang langsung menatap ke arah Alan, aura tak bersahabat yang di tampilkan Alan membawa dampak buruk bagi orang yang melihatnya.
Mata Alan di penuhi kilatan amarah, tangannya mengepal kuat, dengan rahang yang mengeras.
Dengan langkah cepat Alan berjalan menerobos, membelah kerumunan lautan manusia yang menjadikan Melody-nya sebagai pusat tontonan. Bahkan di sana yang Alan liat hanya Dena yang mencoba menghalangi Mega agar tak menyiksa Melody, tapi sialnya Dena di tahan oleh dayang-dayang Mega.
Mega yang melihat Alan mendekat langsung menjauhkan tangannya dari rambut Melody.
Melody pun langsung lunglai dan hampir terjatuh ke lapangan, untungnya tangan kekar Alan langsung menahan pinggang Melody. Alan langsung merengkuhny dengan pelan, membawa Melody merasakan kenyamanan yang luar biasa.
Melody masih menangis sesegukan, matanya memerah, dengan rambut berantakan. Demi apapun Alan tak suka melihat pemandangan ini.
"Atas dasar apa lo nyakitin pacar gue?" Alan berteriak kencang membuat semuanya menuduk.
"Mega, gue tanya sama lo, sekarang lo jawab!" nada suara Alan naik satu oktaf.
"Gue, gak suka lo pacaran sama babu itu." Mega seolah-olah memandang Melody dengan jijik.
"Lo gak suka? Kenapa Melody yang harus lo sakitin? Lo gak suka yah itu urasan lo. Dan inget, jangan ngomong yang enggak-enggak tentang Melody, lo gak sadar aja, cewek kayak lo itu gak pantes untuk gue."
Jleb, itu sangat menyakitkan bukan?
"Maksudnya apa? Gue cantik, sexy, kurang apa lagi Lan? Kalau di bandingin sama cewek ini, dia gak ada apa-apanya sama gue." tunjuk Mega pada Melody.
"Sayangnya lo murahan, gampangan dan gak tahu diri. Dan gue alergi sama yang begituan."
Mendengar jawaban itu, Mega langsung membulatkan matanya, begitupun dengan yang lainnya semua menatap Alan tak percaya.
"Dan, lo nikmati hari terakhir lo di sekolah ini. Karena gue gak jamin, besok, lo masih di sini apa gak." Alan tersenyum miring membuat semua orang merinding. Tanpa terkecuali, Mega yang mendengar ucapan Alan jadi takut dan menyesal sudah mengganggu Melody.
Perlu di pertegas, sekolah ini milik Ayah-nya Alan, jadi dengan gampangnya Alan bisa mengeluarkan cewek gila itu dari sekolah ini.
Alan merasa tubuh Melody sudah kian melemah, Alan menunduk menatap Melody dan ternyata dia itu pingsan. Demi apapun Alan sangat tak suka jika melihat Melody seperti ini.
Alan langsung mengangkat Melody dengan ala bridal style, membawanya ke UKS. Membuat kaum hawa menahan jeritannya masing-masing.
"YA ALLAH JODOH GUE."
"KOK GUE MALAH NEYESEK BANGET YAH LIATNYA."
"EH, TAPI MEREKA COCOK LOH!."
"IYA, SATU CANTIK, SATUNYA LAGI GANTENG."
"COUPLE GOALS BANGET YAH?"
"BIASA AJA."
"GAK COCOK."
"ALAN ITU CALON GUE."
"GAK USAH MIMPI, ALAN ITU CALON GUE."
"ALAN ITU UDAH PUNYA PACAR. SADAR WOI..."
"GUE MAH OKE-OKE AJA, ASAL ALAN JANGAN SAMA MEGA CABE."
"LO BENER GUE JUGA."
"SWEET YAH SI ALAN, PAKE GENDONG SEGALA."
"BIKIN IRI TAU."
"COUPLE GUE ITU."
"COUPLE KESAYANGAN GUE."
"GUE SUKA BANGET LIATNYA."
Mendengar itu Alan hanya mampu menghela nafas berat, banyak yang tak suka tapi lebih banyak yang suka hubungan Alan dan Melody.
***
"Ada yang sakit?" Melody memutar bola matanya jengah, pertanyaan itu sudah berulang kali Alan tanyakan.
"Kakak cerewet!" mendengar itu Alan malah mendengus kesal, salah kah jika ia perhatian?
"Tinggal jawab! Susah yah?" Melody menjulurkan lidahnya ke arah Alan, membuat Alan menatap dingin ke arah Melody.
"Melody udah jawab, Melody itu gak apa-apa, tapi kakak malah nanya-nanya terus. Pertanyaannya pun gak kreatif." Melody menekuk wajahnya.
"Gue khawatir."
Senyum Melody kembali menggoda Alan, membuat Alan ingin membuang cewek itu ke rawa-rawa, tapi sayangnya itu tidak akan terjadi, karena Alan sayang pada cewek itu.
"Kak Alan khawatir sama Melody? Ih kok kedengarannya manis banget yah!" Melody menoel-noel pipi Alan, membuat cowok itu memejamkan matanya.
"Ehem-ehem, stop berlagak kalau di sini cuma ada kalian berdua." protes Eza yang sudah mulai jengah melihat kemesraan keduanya.
"Kita mah apa atuh Za" celetuk Gio sambil tersenyum kecut.
"Keluar!" dengus Alan.
"Wah, kampret! Kita di usir bero..." dengan perasaan tak tentu Eza menatap Alan dengan meringis.
"Yaudah yuk Za, kita keluar, tunggu aja entar juga Alan dapet karma." nendengar itu Alan hanya memutar bola mata jengah.
"Gak usah drama." Alan itu, ngomong singkat, tapi nyakitinnya sampe ke akar-akar paling dalam.
"Gue jadi bingung, kenapa bisa kita sahabatan sama orang kayak Alan yang kalau ngomong singkat tapi nyakitin." Gio mulai berfikir.
"Gue juga bingung, gue rasa kita khilaf!"
"Keluar apa susahnya?"
Tanpa aba-aba, Gio dan Eza keluar.
"Awas Melody, Alan itu ngegigit loh!"
Mendengar itu Melody terkekeh. Di tambah lagi wajah kusut Alan yang mendominasi di sana.
"Kakak mukanya biasa aja." Melody semakin gemas.
"Ini udah biasa." balas Alan dengan sedikit frustasi.
"Jelek."
"Makasih."
Melody tersenyum kecil.
"Jeleknya ngangenin."
Alan tersenyum hingga membuat matanya menyipit, ini nampak sempurna, senyumannya ekstra indah.
***