ALAN: Different Season'S

ALAN: Different Season'S
Tak Ternilai



"Bahagia, satu kata yang tak ternilai dan tak bisa di beli dengan uang."


***


Tiba-tiba Eza teringat sesuatu.


"Melody?"


Mendengar itu Melody langsung berbalik. Menatap Eza dengan dahi mengkerut.


"Lo tahu gak, tadi si Alan negbuat para suster-suster cantik di sini tercyidukk..."


Apa-apaan itu? Tentu saja Alan tak terima mendengar itu, dengan tatapan tajam Alan yang tadinya menunduk langsung mendonggak dan menatap Eza.


Sementara Melody hanya mendengus, apalah lagi itu Tercyidukk, Melody tak mengerti.


"Iya, tadi si Alan buat suster-suster sini kehabisan oksigen." kali ini suara Gio yang mendominasi dan mengganggu telinga Melody. Alan yang mendengar itu hanya merutuki dirinya sendiri, bagaimana bisa ia memiliki sahabat yang cerewet.


"Kok kedengarannya genit yah kak? Kakak tebar pesona yah sama suster-suster disini?"


"Iya, pake ngepamerin roti sobek-sobeknya lagi." mendengar itu Melody langsung mengarahkan pandangannya pada bagian tubuh Alan.


Mata Melody membulat saat Melihat Alan tengah bertelanjang dada, hingga tubuh atletisnya sangat terlihat.


"Kakak kok gak pake baju?" rupanya Melody baru sadar. Padahal tadi Melody sempat memeluk Alan erat tapi tak merasa jika Alan tak memakai baju.


Melody sebenarnya tahu, jika Alan sangat tak suka bila tidur harus memakai baju, Alan lebih suka bertelanjang dada. Walaupun saat itu tengah hujan deras dan dingin, Alan tetap akan membuka baju. Bahkan Alan tak tahu tempat, semestinya tak usah di sini, tak usah di rumah sakit.


"Genit dasar." gerutu Melody sambil mencubit pelan perut Alan.


Alan yang melihat Melody seperti itu langsung heran, kenapa bisa perubahan mood Melody sangat cepat seperti ini, tadi Melody menangis, sekarang terlihat kesal. Ini luar biasa sekali.


"Sakit sayang." Alan meringis sambil memegangi perutnya.


"Sekarang pake bajunya!" desak Melody dengan kesal.


"No!"


Mendengar itu Melody langsung memasang wajah memelas. Entahlah, melihat itu Alan langsung tak tega.


"Baju gue mana?!" teriak Alan kepada Eza dan Gio.


Eza dan Gio yang melihat wajah kesal Alan langsung terkekeh.


"Gak tahu." kompak Eza dan Gio. Alan yang mendengar itu semakin kesal. Kenapa sahabatnya bisa berubah menjadi sekampret ini.


"Lo..." desis Alan tajam sambil mengepalkan tangannya kuat. Hingga memperlihatkan otot kekarnya.


Melody yang melihat itu hanya terdiam sebentar lalu kembali sadar.


Melody bergerak menjauh, hingga matanya menangkap kaos oblong, yang Melody yakini itu milik Alan.


Dengan langkah cepat Melody bergerak meraihnya dan membawanya ke Alan, hingga membiarkan cowok itu memakainya.


"Gue mau pulang!" pinta Alan kepada Melody.


"Kakak itu belum sehat!"


"Gue baik."


Keras kepala. Itulah Alan.


"Tapi..." suara Melody terhenti saat suara Alan kembali terdengar.


"Gue mau pulang." suara Alan seperti seorang yang sedang merajuk. Terdengar sangat manis.


"Huekk... gue yang dengernya jadi pengen muntah, ada kantong kresek gak nih!" suara Eza kembali membuat Alan semakin kesal.


"Sialan." dengus Alan.


Suara tawa pun memenuhi ruangan ini. Karena semakin kesal, Alan langsung mancabut selang infus di tangannya dengan paksa.


Membuat semua yang ada di sana langsung terdiam. Alan memang nekat.


"Ehh gila loh, itu bahaya." bentak Gio.


Alan hanya diam tak menggubris. Sekali Alan mengatakan ingin pulang, yah sudah Alan ingin pulang.


"Kita pulang!" Alan sudah menapakkan kakinya di lantai. Menarik pelan tangan Melody yang masih membeku, terdiam, karena kaget.


"Gue rasa si Alan kali ini benar-benar tercyidukk..." bisik Eza pelan, tapi masih bisa terdengar oleh Alan.


Alan tak mau peduli, Alan ingin pulang. Itu saja.


"Gue mau pulang!"


"Jangan Lan, jangan...lo belum bertaubat, pahala lo juga belum banyak. Please gue juga gak bakal..."


Gio memukul punggung Eza keras. Bodohnya, kenapa Eza malah berkata seperti itu.


"Alan pengen balik ke rumahnya, bukan ke sang pencipta! Lo mah **** yah..."


"**** gini, lo juga sayang kan! Sini-sini peyukk..." Eza berhambur ke pelukan Gio, membuat Gio merasa geli sendiri.


"Lepasin gue...ahh sial." teriak Gio sambil berusaha melepaskan pelukan Eza yang erat.


Merasa malas Alan langsung berlalu keluar dengan menarik pelan tangan Melody.


Sementara Satya, cowok itu terlihat jijik menyaksikan adegan konyol yang sedang berlangsung di hadapannya. Dengan langkah tergesah cowok itu pun berlalu, membiarkan Eza dan Gio yang masih berpelukan.


***


Sedari tadi Satya hanya mengumpat kesal. Tidak di rumah sakit, tidak di dalam mobil, dirinya selalu di hadiahi oleh tontonan yang seharusnya tak dilihat oleh para jomblo.


Mengapa harus sesak begini? Rasanya sangat tak keren. Satya melirik ke belakang. Di sana Melody tengah menyandarkan kepalanya ke dada bidang Alan.


Satya menggeram kesal, astaga ini cobaan terberat bagi para jomblo.


"Mesraannya boleh di pending dulu gak nih? Gue, jomblo dan gue nyesek ini."


Alan dan Melody sama-sama tak peduli, Satya semakin frustasi. Beginilah nasib jomblo, yang selalu tertekan oleh kebahagiaan orang yang sedang pacaran.


Dengan perasaan tak enak, Satya pun berusaha fokus. Tak mau peduli dengan Alan dan Melody. Meski rasanya sangat sesak.


Merasa sangat nyaman. Itulah rasa yang mampu Melody utarakan. Degupan jantung Alan sangat keras di telinga Melody, membuat Melody merasa bahagia. Karena Melody detakan jantung Alan tak terkontrol.


"Lo denger?" pertanyaan Alan di hadiahi anggukan senang oleh Melody.


"Cuman elo yang bisa ngebuat gue gini!"


Melody tersenyum manis. Alan yang melihat itu semakin memeluk Melody erat.


"Lo tahu?" tanya Alan lagi.


"Apa kak?" Melody hanya bersuara kecil sambil masih berusaha mendengar detakan jantung Alan.


"Ini rahasia."


"Rahasia?" Melody hanya mengerutkan alisnya.


"Iya." singkat Alan dan mengusap pucuk kepala Melody pelan. Lalu menjadikan kepala Melody sebagai tumpuan dagunya.


"Mau tahu." kata Melody dengan cepat. Alan sedikit tersenyum, sesakali Alan mencium aroma rambut Melody yang sangat menenangkan.


"Gue..." Alan menjeda ucapannya.


Melody terdiam seraya menunggu, apa yang akan Alan katakan.


"Lo jangan bilang yah ke orangnya, kalau gue itu cinta sama cewek yang namanya Melody Nicella. Gue pengen jadiin dia Ibu dari calon kesebelas anak-anak gue nanti. Gue pengen ngelewatin masa tua bareng dia. Pokoknya gue sayang bangat sama cewek yang namanya Melody itu."


Melody terdiam. Rasanya bahagia.


"Kakak, Melody bahagia bisa punya kakak."


"Gue lebih bahagia."


"Aku lebih bahagia kak."


"Gue lebih-lebih."


"Aku lebih, lebih dan lebih bahagia."


Cup...


Alan mengecup pucuk kepala Melody dengan singkat. Itu membuat Melody terdiam, detakan jantung Melody tak kalah dengan detakan jantung Alan. Itu yang pertama dan itu mampu membuat Melody melayang karena bahagia.


"I Love You Melody-nya Alan." Melody semakin di buat grogi oleh Alan. Ingin membalas I Love You too tapi malu. Jadi Melody hanya mampu diam.


"Balas dong."


"Dasar pemaksa." dengus Melody, tapi itu malah membuat Alan terkekeh. Ah, itu semakin membuat Melody salah tingkah.


"I Love You too Kakak."


Mendengar itu Alan kembali menenggelamkan Melody ke dalam pelukannya. Membiarkannya merasakan kehangatan yang selalu Alan ingin berikan pada Melody.


Alan mencintai Melody dengan menjaga. Saat Alan masih mampu bernafas, maka saat itupun Alan tak akan membiarkan seorang pun menyakiti Melody.


Sekarang, Alan merasa bersalah. Ada satu kebohongan yang Alan sembunyikan. Dan Alan tak sanggup menyatakannya. Kebohongan sekaligus kenyataan. Alan tak mau membuat Melody merasa takut ataupun khawatir. Yang sekarang Alan harus lakukan adalah mejaga dan menjaga.


***