ALAN: Different Season'S

ALAN: Different Season'S
Ketakutan Terbesar



"Kamu harus tahu, jika ketakutan terbesar dalam hidup ku adalah kehilangan diri mu."


***


Sesampainya di rumah, Melody terlihat gelisah. Entah karena apa? Perasaannya tak enak.


"Kenapa lo dik? Lo pengen mendem di kamar mandi?"


Melody memutar bola mata jengah. Kenapa lagi dengan Satya? Melody rasa ini karena efek jomblo yang berkelanjutan, makanya dia jadi gila urusan.


"Yee...ini lagi di tanya sama orang ganteng se-kecamatan kok malah diam, budeg yah? Gak denger. Sono periksa ke rumah sakit."


"Abang cerewet."


"Makasih loh, gue tahu gue ganteng."


Melody berasa ingin muntah, benar tingkat percaya diri Satya terlalu tinggi.


"Abang yang budeg."


"Ah...iya gue tahu. Makasih dek. Gantengnya gue ngalahin Manu Rios."


"Ih...gak, Manu Rios mah gantengnya kayak Kak Alan, Abang mah gak ada apa-apanya."


"Gue ada apanya emang."


"Serah deh."


Handphone Melody berdering keras, menandakan ada telepon masuk di sana. Dengan perasaan kalut, Melody memegangi Handphone-nya. Menatap layar yang di sana sudah menampilkan satu nama, sang penelepon dan itu Gio.


Perasaan Melody semakin tak enak, tumben sekali Gio menelpon.


Melody menggeser tombol hijau, menghubungkan panggilan itu. Hingga suara Gio terdengar dengan jelas saat Melody mendekatkan Handphone-nya ke telinganya.


"Halo?!"


Suara berat itu membuat Melody tak bergeming, terdiam beberapa saat.


"Halo?!" Gio mengulangi apa yang dikatakn sebelumnya karena merasa tak ada jawaban.


"Halo...halo kak?" Melody menjawabnya dengan gagap, entah kenapa Melody pun tak tahu.


"Melody..."


"Iya kak?"


"Alan, kecelakaan!"


Tubuh Melody langsung menegang, bersamaan dengan detakan jantungnya yang tak berirama, dadanya sesak penuh dengan gemuruh. Dengan susah payah Melody meneguk salivanya.


Melody terdiam. Tak peduli dengan apa yang di katakan Gio. Tapi sesaat kemudian, Melody tersadar.


"Kak Alan sekarang di mana?"


"Rumah sakit, tapi..."


"Rumah sakit mana kak?"


"Rumah sakit Cinta Kasih. Gue mau bilang kalau..."


"Aku kesana kak."


Tut..tut..tut...


Panggilan di putuskan secara sepihak.


"Lo kenapa dek?" sudah pasti Satya khawatir melihat adiknya itu terdiam, dengan air mata yang bercururan. Apa adiknya itu sedang akting atau apa?


"Bang, Kak Alan kecelakaan." mendengar itu Satya merasa kaget, pasalnya tadi ia melihat Alan baik-baik saja.


Tentu saja, itu mungkin kenapa Alan tak mau mengantar pulang Melody. Karena Alan tak mau ada hal-hal aneh yang akan menimpa Melody.


"Bang...anterin Melody ke sana, Melody mohon." air mata Melody sudah membanjiri pipi chubby-nya, isakan tangisnya pun sudah mendominasi.


"Iya, tapi lo ganti baju dulu." mendengar itu Melody langsung mengangguk dan berlari ke kamarnya untuk mengganti baju.


***


Melody turun dengan tergesa dari mobil Satya, berlari cepat memasuki rumah sakit yang di maksud oleh Gio.


Melody terus berlari mencari kamar yang di tempati oleh Alan.


Tentu saja perasaan takut menguasai hati Melody. Melody tak peduli dengan keadaanya, lihat semua mata menatap Melody. Sebab, Melody datang dengan wajah yang di penuhi oleh air mata serta wajah yang memerah khas orang yang menangis.


"Dik...pelan-pelan, entar kalau lo yang jatuh. Masuk rumah sakit juga deh lo."


Melody tak mengindahkan ucapan Satya yang sedikit berteriak itu. Hingga matanya menangkap dua sosok cowok yang Melody kenali tengah bercakap-cakap.


"Kak Gio? Kak Eza? " merasa namanya terpanggil kedua cowok itu pun menoleh. Mata mereka menatap Melody dengan tatapan aneh.


"Kak, Kak Alan gimana? Gak apa-apa kan kak?"


"Alan lagi..." ucapan Gio terpotong saat Melody kembali heboh.


"Melody pengen ketemu kak Alan." tangisan Melody semakin pecah.


Ah, itu apapun itu tercyidukk. Melody tak mau tahu.


Melody berlari cepat memasuki kamar rawat Alan. Membuat Gio dan Eza saling memandang.


Tatapan Melody terhenti saat melihat Alan tengah menutup mata dengan damai, tangannya tersambung oleh infus.


Mata semakin banyak mengeluarkan cairan bening. Langsung saja Melody berlari mendekat ke arah Alan. Memeluk Alan erat, tentu saja dengan isakan yang pilu.


"Kakak, bangun! Jangan gini, Melody takut."


Lama tak ada respons, pikiran Melody semakin kacau.


"Kakak ayo bangun, jangan pergi terlalu jauh kak. Melody sayang kakak."


"Tadi kakak bilang, gak mau di tinggalin Melody, tapi kenapa sekarang kakak yang ngebuat Melody ngerasa kalau kakak akan ninggalin Melody."


"Kakak bangun." tangisan pasrah Melody mengisi ruangan ini.


Mendengar ada suara isakan tangis, perlahan Alan membuka matanya berat. Rasa kantuk masih ia rasakan.


Tangannya langsung terulur mengusap punggung Melody dengan penuh sayang.


Entahlah, Alan sangat tak suka jika Melody menangis seperti ini.


Merasakan pergerakan di punggung Melody, Melody pun mengangkap kepalanya untuk menatap Alan yang tengah menatapnya dengan sayang.


"Kakak..." cicit Melody lalu kembali berhambur ke dada bidang Alan.


"Iya, sayang?" jawab Alan sambil berusaha memberikan ketenangan pada Melody-nya yang masih sesegukan.


"Kakak jangan tinggalin Melody." Alan menggeleng kuat, bagaimana bisa ia meninggalkan Melody. Bukankah itu hal yang sangat mustahil.


Alan bangkit dari tidurnya, membiarkan dirinya terbawa dan membiarkan Melody semakin dalam jatuh ke pelukannya.


Apa pun akan Alan lakukan, asalkan Melody bisa bahagia dan berhenti menangis.


"Gue baik." Melody menggeleng pelan, membiarkan Alan merasakan jika bulir air mata Melody mengenai dada bidangnya yang kini terekspos tanpa baju.


Melody melepaskan pelukannya dengan wajah kesal. Baik? Apa itu di bilang baik. Lihat tangannya tersambung dengan infus, wajah Alan juga terlihat lebih pucat. Apa itu pantas di sebut baik? Tidak.


"Kakak itu abis jatuh dari motor, bukan jatuh dari tempat tidur! Jadi gimana bisa bilang baik-baik aja." kesal Melody sambil menatap Alan.


Alan yang mendengar itu menunduk, tapi benar, nyatanya Alan baik-baik saja. Ini semua tak berarti apa-apa.


"Aelah...Melody, santai aja, Alan mah kuat, jangankan jatuh dari motor, jatuh dari lantai dua sekolah aja dia masih hidup. Yakin dah gue..." suara itu berasal dari belakang Melody. Itu suara Eza, sedari tadi memang Eza menyaksikan tontonan tak bermutu dari sepasang kekasih itu.


Selain Eza, disana juga ada Gio dan Satya.


"Lo pikir Alan kucing, yang punya nyawa sembilan?" timpal Gio sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Wah parah, masa lo bilang Alan kucing. Jahat banget..."


Gio memutar bola mata jengah, bukan itu maksudnya. Hanya saja Eza salah menangkap. Dasar bodoh.


"Lo budeg yah!!! Sini gue korek tuh telinga pake linggis, mau?" teriak Gio sambil menatap tajam Eza.


"Kagak usah, lo terlalu baik."


"Sialan."


"Udah, jangan perebutkan gue. Gue tahu gue ganteng, tapi gak usah gitu juga kali." tiba-tiba saja suara Satya terdengar, dengan kompak Gio dan Eza kembali memutar bola mata jengah.


Satya, cowok itu sudah sedari tadi mengganggu Gio dan Eza. Pas tahu jika Satya adalah kakak Melody, awalnya Gio dan Eza kaget. Bagaimana bisa Melody yang lemah lembut itu memiliki kakak dengan model tak berwibawa seperti ini. Tak punya malu lagi.


"Abang Satya diam! Atau entar Eza panggilin cabe-cabean loh."


"Wah...suka-suka, gue boleh request gak? Gue mau yang bodynya kayak gitar Spanyol yah!" Satya bertepuk tangan ria, membuat suasana kamar rawat Alan seperti pasar.


Entahlah, Alan berpikir jika Eza, Gio dan Satya adalah makhluk yang sama-sama dari planet, yang jika berbicara pasti selalu absurd dan tak jelas.


"Wah, lo ternyata suka main cabe-cabean bang?" Kini Gio menatap Satya dengan kagum.


"Astagfirullah...lo fitnah gue yah! Gue itu anak baik-baik."


Gio dan Eza kembali memutar bola mata jengah, tadi siapa yang heboh ingin di panggilkan cabe-cabean, sekarang malah berlagak sok polos dan menjadi anak yang baik-baik.


"Terus kenapa tadi Abang minta di panggilin cabe-cabean yang bodynya kayak gitar Spanyol?" Gio berusaha mengingatkan Satya yang bersih keras mengatakan jika dirinya itu orang baik-baik.


"Eh...apaan, tadi khilaf gue." protes Satya cepat.


"Khilaf apaan, kagak!"


"Tahu tuh, bilang aja kali.."


"Eh, kagak, gue gak gitu. Gue itu orang baik-baik. Gak suka main cabe." tetap, Satya tak mau mengalah.


"Jangan berisik!" dengus Melody tak suka. Masalahnya dengan Alan belum selesai tapi kenapa tiga mahkluk itu malah membuat keributan di sini.


Tiba-tiba Eza teringat sesuatu.


***