
"Mencintai tanpa di buat bodoh oleh cinta, ternyata sulit yah!"
***
Melody memanyunkan bibirnya kesal, bagaimana tidak, hari ini adalah hari Rabu, dan itu adalah jadwal olahraga untuk kelas XI IPA 2, kelas Melody.
Berbeda dengan Melody, Dena terlihat semangat empat lima dan mulai melakukan pemanasan dengan berlari keliling lapangan basket dengan 3 kali putaran.
"Melo sayang, semangat dong!" suara Dena membuat Melody menghembuskan nafas kasar.
"Aku gak tahu main basket!" Melody berucap dengan lirih sambil berusaha agar air matanya tak jatuh.
"Entar gue ajarin," Dena berusaha menenangkan Melody agar Melody sedikit lebih tenang.
"Gimana mau ngajarin, kamu aja gak tahu mainnya," dengus Melody sambil berhenti berlari dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil memanyunkan bibirnya kesal.
"Heheh iya yah!" cengir Dena sambil menampilkan wajah polosnya.
Sementara dari arah lain tiga cowok tengah berlari, peluh membasahi wajah mereka. Ketiga cowok itu adalah Alan, Eza dan Gio.
Alasan mereka berlari adalah kerena mereka bertiga tengah membolos pada jam pelajaran Matematika.
"Gue berasa pengen mati tahu gak?!" kata Eza sambil menetralkan nafasnya. Mulut Eza terlihat mangap-mangap khas orang yang telah berlari.
"Gue juga gitu, " timpal Gio dengan ekspresi yang tak jauh berbeda dari Eza.
Alan? Entahlah cowok itu nampak biasa saja meski kini peluh jelas membanjiri wajahnya.
Melihat pemandangan itu Melody langsung menampakkan wajah berbinarnya. Seketika ia melupakan bahwa tadi ia tengah gusar karena akan berhadapan dengan salah satu olahraga yang paling ia tak kuasai.
Dengan langkah cepat, Melody berlari ke arah pohon yang di bawahnya ada tempat duduk panjang. Di sana tadi Melody meletakkan sebotol air mineral.
Lalu Melody mengambilnya dan kemudian berlari lagi ke arah tiga cowok yang masih berdiri di pinggir lapangan volly.
Dengan rasa tak menentu, Melody berusaha meyakinkan diri. Mengumpulkan keberaniannya hingga ia bisa memberikan sebotol minuman itu ke Alan.
Dena yang melihat tingkah Melody hanya mampu menggeleng-gelengkan kepala.
Saat sudah sampai di dekat ketiga cowok tersebut. Melody langsung mulai membuka suara.
"Kak Alan?! Ini ada air minum buat kakak, pasti kakak haus kan?" suara bergetar Melody kembali membuat ketiga cowok itu menoleh, Eza dan Gio menampakkan ekspresi bersahabat sementara Alan malah menatap Melody dengan sinis.
"Enak banget jadi Alan, selalu diperhatiin sama adek kelas ini." celetuk Eza membuat Melody menunduk menahan malu.
"Apalah daya kita, " kata Gio sambil memasang wajah iri.
Sementara Alan masih menatap cewek mungil yang ada di hadapannya ini, cewek itu menunduk sembari tangan kanannya menyodorkan sebotol air mineral.
Bosen gue liat ini orang, Mood Alan kembali buruk saat melihat cewek yang ada di hadapannya.
Entah bisikan dari mana Alan langsung meraih sebotol air meneral itu.
Tentu saja, hal itu membuat Eza dan Gio melongo, sedari dulu Alan tak akan menerima pemberiaan apapun dari seorang cewek. Tapi, kali ini malah Alan mengambil sebotol air mineral itu.
Rasa bahagia Melody pun kian membuncah, bersama dengan degupan jantung yang tak terkontrol, senyum bahagia tercetak indah di bibir tipis Melody.
Byurr...
Eza dan Gio menganga melihat apa yang barusan Alan lakukan.
Sementara Melody hanya mampu memejamkan matanya sembari merasakan dinginnya sebotol air mineral yang Alan siramkan padanya. Seluruh wajah melody basah dan menjurus ke pakaian Melody.
Pemikiran Melody salah, ia pikir Alan akan meminum air pemberiannya, namun nyatanya malah menyiramkannya pada Melody.
"Alan, lo gila!" teriak Eza, ingin rasanya mencakar wajah dingin yang terpampang jelas di wajah Alan.
Sementara Gio menatap nanar pada cewek yang tadi di siram air oleh Alan, datang dengan niat baik, tapi malah disiram.
Dena yang berada tak jauh dari tempat Melody berdiri langsung menutup mulutnya tak percaya.
Melody yang kini sudah membuka matanya langsung menatap sosok tinggi tegap yang ada di hadapannya, Alan kini menatap Melody dengan tatapan yang masih tajam.
Sementara Melody malah berlari ke arah belakang Alan, saat melihat sebuah bola volly yang saat itu juga akan melayang dengan keras mengenai badan Alan.
Bruk...
Bersamaan dengan bunyi bola volly yang mengenai kepala Melody, tubuh Melody pun ambruk dan jatuh di rerumputan.
Kajadian cepat itu kembali membuat Eza dan Gio kaget.
Langsung saja Eza dan Gio berlari ke arah adek kelasnya yang sudah terkapar lemah dan tidak berdaya di atas rerumputan tersebut.
Alan yang melihat kejadiaan itu, sama sekali tak mau ambil pusing. Dengan langkah cepat Alan berlalu. Pilihan terbaik kali ini adalah bolos sekolah, rasanya bolos saat jam pelajaran belum cukup untuk Alan.
"Melo...." teriakan Dena membuat Eza dan Gio semakin kaget.
"Kak, kenapa diem? Bantu angkatin ke UKS dong kak." Dena meminta bantuan kepada Eza dan Gio. Langsung saja Eza dan Gio membopong tubuh mungil Melody dan langsung membawanya ke UKS.
Saat sampai di UKS, Melody di letakkan di atas tempat tidur yang ada di dalam UKS. Wajah Melody terlihat sangat pucat, tentu saja keadaan itu membuat Dena semakin cemas.
"Melo, lo bangun dong!" Dena berusaha membangunkan Melody yang masih setia pingsan, kedua tangan Dena menggosok-gosokkan kedua tangan Melody. Merasa tak ada respons. Dena semakin gusar.
Sementara Eza dan Gio bingung harus berbuat apa, wajah mereka terlihat sama paniknya dengan wajah Dena. Di tambah lagi wajah pucat adek kelasnya itu sangat mendominasi.
"Za, ambil selimut, kasian pasti adek kelas itu kedinginan." mengingat tadi Alan sempat menyiramkan sebotol air mineral ke arah adek kelasnya itu, langsung saja Gio memerintahkan Eza agar mengambil selimut.
Dengan patuhnya Eza mengambil selimut yang tersedia di UKS tersebut.
"Nih, gue ambil semua selimutnya supaya adek kelas ini gak kedinginan." Eza langsung menyodorkan empat lembar selimut yang tadi ia ambil.
"Satu aja cukup ****!" Gio merutuki kebodohan Eza, saat genting seperti ini masih sempat-sempatnya melakukan hal bodoh.
"Makasih kak." Kata Dena dengan parau, ternyata cewek itu tengah menangis.
Mendengar suara parau itu, Gio langsung merasa tak tega.
"Jangan nangis dek, dia gak apa-apa kok." Gio mengusap pelan bahu adek kelasnya itu.
Tak berselang beberapa lama, Melody sudah mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Eghhh...." ringisan Melody membuat semuanya menatap Melody.
"Melo, akhirnya lo sadar." Dena langsung memeluk sahabatnya.
"Iya, aku gak apa-apa Dena." dengan lirih Melody tersenyum.
"Adek kelas gak apa-apa kan?" tanya Eza.
"Duh gak enak ah masa manggilnya adek kelas mulu, nama kalian siapa?" sebenarnya ini salah satu strategi Gio untuk mengetahui nama dari sahabat Melody.
Sebab Gio suka melihat wajah sahabat Melody, itu terlihat sangat manis.
"Kenalin kak nama aku Dena Andara, panggil aja Dena. Dan ini Melody Nicella, panggil Melody atau Melo aja." Dena mengenalkan dirinya tak lupa juga mengenalkan Melody.
"Oh, kenalin nama gue, Gio." singkat Gio sambil melemparkan senyumannya kepada kedua adek kelasnya itu.
"Dan gue, Eza anaknya papa Hendriawan sama mama Zera." mendengar ucapan Eza, Gio langsung saja menabok punggung Eza, membuat Eza meringis.
"Oh iya, Melody maafin Alan yah tadi." sebagai sahabat yang baik, Gio mewakili dirinya untuk meminta maaf atas kesalahan Alan.
"Alan itu emang gitu, kurang micin." singkat Eza membuat Melody terkekeh.
"Gak apa- apa kok kak, lagian aku yang salah!" kata Melody tulus.
"Gak, si es batu kurang micin itu yang salah." bantah Eza sambil mengepalkan tangannya gemas.
"Es batu?" kompak Melody dan Dena.
"Es batu itu si Alan." jelas Gio sambil menatap tajam ke arah Eza.
Melody ber oh ria sambil terkekeh ringan. Setelah itu Eza dan Gio pamit pergi. Sementara Melody digiring Dena untuk menuju kamar mandi untuk ganti baju.
***