
"Dia pergi, membawa hati. Meninggalkan luka dan harapan yang berkepanjangan."
***
Pagi yang sangat tak biasa, hujan turun dengan derasnya seolah mengerti dengan perasaan Alan yang sedang tak baik, hey, bukan tak baik lagi, tapi sangat tak baik.
Jam masih menunjukkan pukul 6 pagi dan Alan sudah di suguhi oleh pemandangan yang cukup menyesakkan. Sebuah amplop berwarna putih tergeletak tak berdaya di atas nakas Alan. Entahlah, Alan sendiri merasa ragu dan tak punya keberanian untuk membuka amplop itu.
Tapi entah dorongan dari mana, Alan berdiri dari duduknya dan bergerak mendekat, meraih amplop itu. Saat amplop itu sudah berada di tangannya, Alan diam dan memandanginya dalam.
Sedikit demi sedikit Alan membukanya, dan amplop itu ternyata berisi surat. Alan membuka lipatan surat yang nampak terlihat rapi itu.
Hingga saat sepenuhnya surat itu terbuka, menampilkan sebuah tulisan tangan yang sangat rapih. Di sana juga tertera nama Alan. Dan tentu saja nama pengirimnya.
Alan memejamkan mata kuat, menarik nafas dalam dan berusaha menguatkan dirinya sendiri.
Mata Alan pun kembali terbuka, menampakkan sederet huruf-huruf yang terangkai menjadi kata yang di dalamnya menyatakan suatu perpisahan.
Terima kasih untuk kenangannya kak, terima kasih. Aku harap kakak bisa baik-baik aja, secepatnya kakak harus bisa lupain aku. Cari pengganti aku dan mulailah hidup baru.
Dan, kakak harus temuin mama kakak. Banyak kebenaran yang harus kakak dengarkan! Dan semuanya akan kembali.
Aku pergi kak..
Jangan menunggu, karena mungkin tak akan ada kata kembali di kepergian ini.
Tertanda, Melody Nicella
Alan kembali terdiam, tangannya meremas surat Melody. Itu surat perpisahan dan Alan tak suka itu.
Berkali-kali Melody mengingatkan agar Alan bisa melupa dan tak menunggu, tapi jangan salahkan Alan jika rasa cintanya yang terlalu besar membuatnya semakin berkeras kepala. Lagi pula, menunggu tidak akan membunuh Alan. Jadi kenapa harus ragu? Mungkin Alan akan menjadi seorang yang ahli dalam menunggu.
Alan kembali teringat pada isi surat itu, yang mengatakan bahwa Alan harus menemui mamanya. Apa Alan kuat? Tidakkah kalian tahu, Alan sekarang merasa bahwa ia adalah manusia paling rapuh yang pernah ada.
Tapi ini adalah pesan Melody dan bodohnya hatinya mengiyakan. Hatinya mengatakan bahwa akan ada hal besar yang akan Alan ketahui.
Alan mengacak rambutnya asal. Entahlah ini terasa rumit. Seketika rasa sesak menyerangnya. Kenyataannya saat ini, Melody-nya pergi membawa hati Alan.
Apakah Alan kuat melewati hari tanpa mendengar suara Melody, tawa Melody, senyum Melody dan wajah damai Melody.
Tapi entahlah ini tuntutan diri dan hati, semuanya menuntut Alan agar bangkit. Jangan terlalu lama tenggelam dalam kesedihan. Alan akan menunggu, menunggu dengan kesabaran.
Hingga nanti tiba waktunya, Melody akan kembali. Kembali bersama Alan, kembali melengkapi diri Alan dan sudah semuanya akan terasa indah.
***
Melody menarik nafas panjang, setelah melakukan perjalanan udara yang memakan banyak waktu, kini Melody telah sampai di tempat tujuan.
London, di sinilah Melody sekarang, berniat untuk melanjutkan sekolah dan melakukan pengobatan untuk dirinya.
Penyakit yang Melody derita memang sangat berbahaya. Melody mengalami masalah dengan jantungnya. Jantungnya sama sekali tak mau berdetak normal di waktu tertentu dan itu memaksa Melody untuk selalu berpura-pura terlihat baik-baik saja.
Inilah yang membawa Melody pergi menjauh, kata dokter untuk kebaikan Melody maka harus dilakukan pengobatan secara berkelanjutan dan oleh karena itu Melody di bawa ke London untuk menjalani pengobatan di sana.
Ada rasa bersalah yang selalu membuat Melody tak nyaman. Seperti Satya, Satya harus kembali pindah kampus untuk mendampingi Melody. Begitupun dengan Ayah dan Bunda-nya, semua masing-masing mempersiapkan dan mengorbankan diri untuk merawat Melody di tempat baru ini.
Dan tentu, Melody tak mau mengecewakan semuanya. Melody akan berusaha untuk sembuh, tak peduli dengan akhirnya.
"Abang, maafin Melody, Melody udah buat Abang repot." Melody memeluk Satya dengan erat.
Satya yang mendengar itu langsung tersenyum. Apapun untuk adiknya. Apapun dan yang Satya inginkan saat ini adalah kesembuhan adiknya.
"Di maafin, tapi beliin Ice cream yah?"
Melody mencibir.
"Hah? Gak mau, mestinya Abang yang beliin Melody Ice cream!"
Satya mengusap pelan rambut Melody dan sudah itu kembali mengingatkan Melody kepada seseorang yang tengah Melody tinggal jauh.
"Sama pabrik-pabriknya juga gue beliin dik, tapi tunggu yah, sampe gue dapet jodoh!"
"Gimana mau dapet jodoh bang, kalau hobinya nge PHP-in anak orang!" cibir Melody.
Satya yang mendengar itu langsung meringis. Adiknya ini kalau berbicara kadang sangat menusuk.
"Bukan gitu dek, cuman anu..." Satya menggaruk tengkuknya yang tak gatal, saat ini Satya kehabisan kata-kata.
"Apa?" Melody sengaja mendesak Satya agar Satya semakin terpojok.
"Astaga itu ada Manu Rios, gantengnya..."
Mendengar itu Melody langsung menoleh dan mengedarkan pandangannya. Mencari cari sosok yang di maksud oleh Satya. Dan hasilnya nihil. Satya menipunya.
"Abang..." teriak Melody saat melihat Satya sudah berlari menjauh.
Lihat saja Melody akan mengadu kepada Bundanya jika Satya membohongi Melody.
Melody pun berjalan ke arah Bunda dan Ayahnya yang tengah berbicara dengan salah satu dokter yang kira-kira akan merawat Melody hingga benar-benar sembuh.
Tapi langkah Melody terhenti saat rasa sesak kembali terasa. Oh, tunggu ini bukan hanya rasa sesak tapi ini rasa sakit yang sangat parah. Melody sudah mulai kesulitan bernafas. Hingga Melody pasrah dan terkulai lemas dengan rasa sakit yang berlebihan.
Akhir-akhir ini kondisi Melody memang sangat buruk. Tapi Melody selalu berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
Dan untuk saat ini Melody tak bisa berpura-pura lagi, semuanya sangat berlebihan dan Melody tak sekuat itu.
Akhirnya kegelapan mulai merenggut kesadaran Melody, pendengarannya pun sudah tak berfungsi dengan baik. Apa ini akhir untuk kehidupan Melody? Jika iya, Melody tetap bersyukur, karena Melody telah merasakan bahagia yang meski singkat tapi sangat bermakna. Melody hanya meminta jika ini benar detik-detik terakhirnya, Melody ingin semua orang yang di sayanginya selalu baik-baik saja.
Meskipun Melody sudah pergi, Melody ingin semua bahagia. Meski tanpa kehadiran Melody di sekitarnya.
Dan, tiba saatnya Melody sudah benar-benar terenggut oleh kegelapan hingga semuanya mungkin akan berakhir seperti ini.
Mungkin benar, tak akan ada kata kembali atas kepergian Melody saat ini, langkahnya sudah semakin menjauh dan itu berbahaya.
***