ALAN: Different Season'S

ALAN: Different Season'S
Saatnya Cemburu?



"Cemburu itu tanda cinta yang sangat luar biasa."


***


Melody meringis saat melihat kamarnya yang berantakan. Dalam hati Melody bertanya, bukankah sedari tadi sebelum Melody pergi dengan Alan kamarnya sudah rapih? Iya, betul. Melody tak mungkin pikun, jelas-jelas Melody sudah merapihkannya.


Hingga sebuah teriakan menggema dari luar pintu kamar Melody.


"Adik?!"


Suara cempreng itu membuat Melody tercengang. Tunggu, itu suara yang sangat Melody rindukan.


Dengan cepat Melody berlari, membuka pintu kamar dan jreng...jreng... Melody melihat sosok cowok tinggi tegap dengan tampang so cool-nya.


"Surprise, Abang pulang! Sini-sini peyukk." tentu saja, Melody langsung berhambur ke pelukan Abang-nya. Walaupun sedikit agak geli dengan nada bicara Abang-nya yang super duper alay itu, tapi mau apa lagi, rindu sudah membutakannya.


"Woi, lo mau bunuh gue dik? Ini lo meluknya erat banget. Gila nyata banget kalau lo itu jomblo." terdengar sangat tak bersahabat, tapi biarlah. Lagi pula apa yang kakaknya bilang itu tak benar, Melody tak jomblo lagi, Melody sudah punya pacar.


"Bunda, tolongin Satya!!!" teriakan itu seolah memecah ketenangan yang ada di dalam rumah. Begitupun itu mengganggu pendengaran Melody.


Abang-nya ini memang memiliki suara yang melengking dan cempreng.


"Bunda, Ayah, tolongin Satya, ini ada anak monyet yang tiba-tiba nemplok kayak lintah, kagak mau lepas lagi ini..." lagi dan lagi teriakan itu membuat Melody meringis karena telinganya terasa sakit. Tapi tetap saja ia tak mau melepaskan pelukannya.


"Ya ampun Abang, rusuh banget sih!" Nesa akhirnya datang karena mendengar teriakan Satya yang luar biasa sangat dahsyat.


"Bunda, tolongin Satya, masa ada anak monyet yang nemplok ini." Satya memasang wajah memelas agar Bundanya itu mau mengerti.


Pletak...


"Abang kok ngomong gitu, kalau Melody monyet, Abang sebagai kakaknya apa?" merasa kesal dengan tingkah Satya yang luar biasa ajaib itu, Nesa dengan sengaja menoyor kepala Satya.


"Abang gorila." celetuk Melody dengan masih memeluk Abangnya.


"Mana ada gorila ganteng kayak gue dik?"


Melody terkekeh pelan.


"Wah...lagi pada ngapain ini?" kali ini Melody kembali membulatkan matanya. Suara itu, Melody juga rindu mendengarnya.


"Ayah...." teriakan Melody tak kalah nyaring dengan Satya. Melody langsung melepaskan pelukannya dari Satya dan berlalu memeluk Ayahnya, Derga.


"Akhirnya tuh anak lepasin gue." Satya bernafas lega, saat melihat Melody sudah pindah tempat.


"Anak Ayah manja banget deh." Derga memeluk putri kecilnya dengan sayang, beberapa hari ini memang ia tak pulang karena harus mengurus kepulangan anak pertamanya, Satya.


Satya memutar bola matanya jengah. Perutnya sudah lapar, kenapa harus melakoni drama seperti ini lagi? Apa semua ingin melihat Satya mati karena kelaparan? Oh sungguh itu sangat tak keren. Masa orang terganteng sekecamatan harus mati tragis seperti itu. Tidak, Satya harus bertindak.


"Bisa di lanjutin entar kan? Ini Satya udah laper, jangan sampai kadar kegantengan Satya berkurang karena kelaparan berkelanjutan."


Semua yang ada di situ langsung memutar bola mata jengah, beginilah suasana rumah jika Satya pulang. Hal sekecil apapun akan terasa heboh. Bahkan Satya akan dengan bahagianya membesar-besarkan suatu yang tak ada pentingnya sama sekali.


"Aduh...tuhkan, cacing di perut Satya udah nendang-nendang. Gawat bentar lagi pasti ada tawuran antar sesama nih di dalem perut Satya."


"Yaudah ayo kita makan." akhirnya Derga harus menuruti keinginan Satya, karena memang dia juga sudah lapar.


"Ayo...." Satya langsung berteriak kencang berlari turun dari anak tangga dengan penuh semangat yang membara.


Akhirnya malam ini adalah malam yang sangat luar biasa bagi Melody, semuanya lengkap. Tapi pikirannya terarah pada satu nama,  Alan. Coba saja dia ada di sini. Pasti Melody akan membawa Alan masuk ke dalam hangatnya keluarga Melody yang lengkap. Jauh dari dalam hati Melody, sebenarnya Melody tahu, Alan sangat rindu akan kehangatan keluarga yang lengkap seperti ini.


***


Satya mendengus geli saat dirinya sudah ada di dalam mobil bersama adiknya, Melody.


Melody memang sangat senang karena Satya kembali, akhirnya supir pribadi Melody kembali.


Satya yang merasa selalu di manfaatkan hanya bisa pasrah. Terlebih lagi adiknya itu sangat cerewet di suatu waktu, seperti sekarang.


"Abang, di sana lama banget! Pasti udah banyak macarin cewek. Coba, mantan abang berapaan?"


"Eh bocah, lo pikir gue cowok apaan?"


"Abang kan tergolong dalam spesies aneh. Suka gonta-ganti cewek."


"Itu dulu dek, gue sekarang udah insaf, gue udah bertaubat"


Melody mendengus, memang iya? Luar biasa sekali.


"Sudahlah lupakan!"


"Wah dek lo parah, kok lo main lupakan-lupakan aja. Nyesek tahu..."


"Kok malah baper!"


"Gue juga gak tahu dek, gue kayaknya belum makan tadi."


"Itu laper...." teriak Melody geram.


"Beda dikit doang, kok lo sensi amat!" Melody tak menjawab tapi ia hanya mencibir.


Tak butuh waktu lama, mobil Satya pun sudah memasuki halaman sekolah Melody.


Melody membuka pintu mobil dan turun diikuti dengan Satya yang ikut turun. Tentu saja Melody tahu niatnya, pasti ingin tebar pesona dengan cewek-cewek yang ada di sekolah Melody.


Melody yang merasa kesal langsung meraup wajah so cool Satya membuat Satya meringis.


"Muka ganteng gue, ya ampun!" Satya mengusap wajahnya pelan, berharap wajahnya yang ganteng itu tak berubah.


"Dasar genit!"


"Suka-suka dong! Jomblo gini."


Satya yang menurut langsung memilih masuk ke dalam mobil, tapi sebelum itu Satya mencubit gemas kedua pipi Melody membuat Melody meringis karena nyeri.


"Abang...." bersamaan dengan teriakan Melody, Satya pun sudah membalap mobilnya berlalu.


"Hm..." suara deheman itu kembali membuat Melody meringis, itu suara...


"Kak Alan." Melody tersenyum kaku.


Alan menatap Melody dengan tatapan campur aduk, ada rasa tak suka ketika melihat Melody berduaan dengan cowok lain.


Alan merasa ada suatu desiran hebat yang juga membuat hatinya panas. Dan itu sangat tak nyaman.


Apa sudah Alan tegaskan? Jika ia tak suka miliknya di dekati orang lain, Alan tak suka.


Untungnya tadi Alan menahan diri, coba kalau tidak, pasti cowok itu akan mati.


Melody yang melihat tatapan Alan langsung menunduk, jangan sampai Alan salah paham, nanti dia akan mengamuk.


"Siapa?" singkat Alan sambil menuntun Melody berjalan.


Belum sempat Melody menjawab, tiba-tiba suara Alan kembali terdengar.


"Jangan bikin gue ngerasa sakit!"


Melody terdiam.


"Lo bikin gue hampir kehilangan akal. Apa gue boleh bunuh orang yang sama lo tadi, yang cowok itu."


Melody membulatkan matanya kalut, tapi ada rasa senang di sana. Rupanya Alan salah paham.


"Kakak cemburu?"


Alan berdecak. Apa perlu di tanya lagi? Bukannya semua sudah jelas.


"Gak." singkat Alan, hei, itu bohong.


"Itu..."


"Gue gak mau denger apa-apa." keras kepala, itulah Alan.


"Cowok tadi itu..."


"Diam."


Melody memutar bola mata jengah.


"Dengar dulu kak..." Alan melangkah pergi tapi baru beberapa langkah ia sudah berhenti lagi.


"Gue bakal bunuh tuh cowok." tiba-tiba saja Melody tak sanggup menahan tawa. Akhirnya suara tawanya mengudara, membuat Alan mengepalkan tangannya.


"Gue gak main-main." tangan Alan semakin kuat mengepal, seolah-olah menyalurkan amarah yang sudah ada di ubun-ubun.


"Emang berani?" pertanyaan Melody seakan-akan menantang Alan.


"Why not?" suara Alan berubah datar dan tak bersahabat.


"Gak takut di marahin Bunda?" Alan menautkan alisnya bingung.


"Bunda?" gumam Alan pelan.


"Iya, Bunda. Cowok tadi kan anak Bunda juga."


Merasa ada yang aneh, Alan segera berbalik menatap cewek yang sudah membuatnya kehilangan kendali, membuatnya cemburu. Oh tidak, apa itu pantas di sebut cemburu? Kurasa itu melebihi.


Alan melihat Melody tertawa kecil sambil menatap Alan dengan tatapan menggoda. Tentu saja Alan perlu penjelasan, dengan cepat Alan melangkah mendekat ke arah Melody. Mengikis jarak di antara mereka. Tak peduli ini ada di halaman sekolah. Sungguh Alan tak peduli. Biar saja mereka jadi tontonan, biarkan. Supaya satu sekolah tahu bahkan biarkan seisi dunia tahu jika Melody hanya miliknya, wanitanya dan tak ada yang boleh merubah itu.


"What?"


"Cowok tadi itu Abang aku kak."


Benarkah?


"Saudara?"


Melody mengangguk cepat lalu kembali tesenyum jail.


"Kakak tipe cowok cemburuan ternyata."


Tentu tidak, ini hanya bentuk ketidaksukaan yang semata-mata Alan lakukan untuk menjaga wanitanya dari cowok lain.


"Gue gak cemburu." suara tegas itu ternyata tak dapat membohongi keadaan. Nyatanya Alan cemburu berat.


"Masa sih? Hahah...lucu banget." Melody kembali tertawa hingga pipinya terlihat sangat menggemaskan. Itu godaan terberat untuk Alan, tanpa tertahan lagi, Alan langsung menarik pipi Melody gemas.


"Kenapa gak ngomong?!"


"Gimana mau ngomong, orang kakak itu gak mau berhenti ngomel-ngomel. Uhhh cerewet kakak." mendengar itu Alan mendengus, benarkah ia cerewet? Tentu saja tidak, Melody hanya berlebihan.


"Oh iya, tadi itu namanya Abang Satya. Mungkin kakak emang gak pernah liat Bang Satya pas main ke rumah, kan Bang Satya kuliah di luar Negeri kak. Tapi kemarin Bang Satya balik, katanya bosan kuliah di luar Negeri dia mau lanjutin kuliahnya di sini aja, katanya. Jadi kakak bakal sering deh ngeliat Bang Satya bareng Melody. Lain kali deh Melody kenalin sama Abang Satya."


Mendengar itu Alan bernafas lega, lalu mengangguk.


Melody langsung mendorong pelan tubuh Alan yang terasa sangat dekat dengannya.


"Jauhan kak, diliatin orang tuh."


"I don't care." Melody berdecak sebal, dasar keras kepala. Tapi sayangnya Melody mencintainya. Aneh yah?


***