ALAN: Different Season'S

ALAN: Different Season'S
Merasa Tertipu



"Jangan bangunkan aku jika ini nyatanya mimpi, tapi jika ini nyata maka beri aku batas untuk menyadarkan diri."


***


Suasana yang hening membuat Melody menjadi takut sendiri, rasanya semua kemungkinan terburuk ingin menggotongnya dan mengepungnya hingga merasa tersudutkan.


Tapi, demi apa pun, tolong selamatkan Melody jika salah satu kemungkinan terburuk itu mengenainya, misalnya : Alan akan menenggelamkannya di rawa-rawa, membuangnya ke jurang, menguburnya hidup-hidup, menggantungnya di pohon beringin, bahkan mencingcang-cincang tubuh Melody lalu di gunakan untuk memberi makan ikan. Memikirkan hal itu Melody menggeleng kuat.


Semestinya tadi, saat Dena datang Melody tak menurut dan tidak pergi, walaupun bertemu Alan, tapi jujur bukan ini yang Melody inginkan.


"Kenapa lo?" suara dingin nan ketus itu membuat Melody tertegun, hingga meremas hoodie berwarna pink muda yang Melody kenakan saat ini.


"Kak, tolong jangan tenggelamin aku di rawa-rawa, jangan buang aku ke jurang, jangan ngubur aku hidup-hidup, jangan gantung aku di pohon beringin, jangan cingcang-cincang tubuh Melody." mendengar ucapan cewek yang ada di sampingnya itu membuat Alan semakin geram.


"Cerewet." singkat Alan dengan dingin. Bagaimana tidak, pipi cewek itu langsung menggembung saat berceloteh dengan kata kata yang tak masuk akal.


Saat sampai di suatu tempat yang Alan ingin sekali kunjungi Alan langsung memarkirkan mobil.


"Taman?!" pekik Melody dan langsung turun.


Alan berdecak kesal, ini bodoh, Alan seperti membawa anak TK untuk liburan di taman, cewek yang Alan belum tahu namanya itu terlihat bersemangat turun dari mobil Alan dan berlari kecil.


"Lo, berhenti!" karena semakin di buat geram, Alan memperlebar langkah kakinya menuju cewek itu.


Entar gue iket juga nih di pohon! Alan langsung menggenggam tangan mungil itu dan membuat sang pemilik tangan itu ingin memekik kuat menyalurkan rasa bahagia yang membuncah, tapi sebisa mungkin Melody mencoba menahan.


Alan langsung menggiring Melody berjalan, meyisiri taman yang nampak lumayan luas dengan keadaan yang cukup ramai di minggu pagi ini.


"Ice cream!" pekik Melody membuat Alan kembali berdecak. Suara itu sangat nyaring.


Sadar akan perbuatannya Melody langsung menutup mulutnya cepat.


Tapi merasa godaan Ice Cream kembali membuatnya tak sanggup menahan diri, Melody langsung mengambil ancang-ancang untuk berlari.


Sayang, tangan Alan sudah dahulu menahan Melody dengan menggenggam siku kiri Melody dan itu membuat Melody semakin melayang.


Seperti mengisyaratkan untuk tetap diam di tempat. Segera Alan melepaskan tangannya dari siku Melody dan berlalu dengan langkah lebar. Kemana?


Jika kalian ada di posisi Melody, pasti kalian akan kehabisan oksigen, sekarang bolehkah Melody bersyukur untuk hari Minggu ini.


Alan kembali sambil membawakan Ice Cream dengan rasa coklat kesukaan Melody.


Melody langsung ingin meraih Ice Cream itu tapi gerakannya lambat, hingga Alan mengangkat tinggi Ice Cream tersebut membuat Melody berjinjit-jinjit untuk menggapai Ice Cream itu, tapi tetap saja gagal.


"Mau apa?" ketus Alan sambil menatap Melody tajam.


"Ice Cream." jawab Melody dengan lirih.


Mata mereka saling menembus satu sama lain, menatap lekat sampai tak menyadari waktu. Mata cokelat terang Melody beradu dengan mata kebiruan terang Alan.


Melody merasa kadar oksigen di sekitarnya berkurang, membuat nafasnya tak beraturan. Apa yang harus Melody lakukan, mata kebiruan itu membuat Melody tak berkedip.


Melihat wajah Melody yang masih membeku, Alan langsung menyodorkan Ice Cream coklat itu ke wajah Melody, hingga ujung hidung mancung Melody terkena Ice Cream.


Merasa ujung hidungnya terasa dingin Melody langsung saja mengedip-ngedipkan matanya lucu, mirip dengan bayi yang berusia puluhan bulan lebih, dengan pipi gembil, bulu mata lentik, hidung mancung, alis tebal, mata cokelat terang dan tentu saja bibir tipisnya yang berwarna merah muda alami membuat Melody tampak indah jika di pandangi dari sudut manapun.


"Ambil!" sentak Alan membuat Melody langsung meraih Ice Cream itu.


Melody jatuh tersungkur hingga Ice Creamnya kali ini tidak hanya bersatu dengan baju Alan lagi tapi kini berbaur dengan tanah dan kawannya di bawah sana.


Alan tak menoleh sepenuhnya, hanya menoleh sedikit lalu melirik dengan ekor matanya. Hingga Alan menghembuskan nafas kasar. Merasa tak pernah semerepotkan ini dan hari ini adalah hari termerepotkan yang pernah Alan alami karena cewek.


Alan memutar badannya, masih dengan posisi tersungkur, Melody sama sekali tak berkutik. Meski ada beberapa pasang mata yang tengah menatap Melody intens.


Kemudian Alan melangkah mendekati Melody. Alan berjongkok, lalu memperbaiki posisi Melody yang kelihatan tak nyaman. Alan langsung meraih kedua tangan Melody yang sedari tadi beradu dengan tanah, rumput dan beberapa kerikil. Di sana Alan melihat beberapa luka lecet.


Jangan tanya, ini adalah kali pertama Alan memegang seorang cewek selain Ibunya, hari ini tepatnya. Dan cewek yang pertama kali bersentuhan dengan Alan adalah Melody. Dulu, biar apapun Alan tak akan mau.


"Sakit?" dengan polosnya Alan menimang-nimang tangan mungil Melody, jujur Melody sangat gemas melihat kepolosan cowok yang ada di hadapannya ini.


Sebagai jawaban Melody menggeleng.


"Bohong!!!" tegas Alan dan langsung membantu Melody berdiri, menggiringnya ke sebuah pohon yang rindang di pinggir danau buatan yang indah tapi tak banyak di kunjungi banyak orang.


Saat sampai di sana Alan dan Melody langsung duduk di bawah pohon itu.


Melody sibuk meneliti seluruh wajah Alan. Dalam hati ia berdoa, jika ini mimpi! Maka tolong, jangan renggut mimpi ini, setidaknya biarlah berlangsung lebih lama. Biarkan Melody bahagia dulu.


Melody sudah tersenyum sedari tadi, dalam detiknya pun senyum tak pernah luput dari bibirnya. Pelangi terbalik itu nampak berbeda sekali, tercipta dengan ke ikhlasan yang luar biasa dapat menenangkan.


Ketegangan wajah Alan mendominasi, kaku sekali caranya menangani tangan Melody yang mungil hingga di sana sudah terpampang beberapa plaster yang bermotif cokelat polos.


"Makasih." kata Melody dengan tulus. Sebagai jawaban Alan hanya mengangguk.


Alan menjauhkan tangannya dari tangan Melody, hingga saat ini Melody bisa merasakan bekas pegangan tangan Alan yang kehangatannya masih merasa.


Melody merutuki dirinya sendiri, dia terlihat benar-benar bodoh karena perasaan, tapi masa bodoh juga, selama ia bahagia dengan semua, maka tak apa bila harus menjadi sedikit bodoh.


"Jangan natap gue gitu!" tekan Alan sambil masih menatap dingin ke depan.


"Kakak lucu." Melody kembali tersenyum semakin dalam hingga pipi chubby-nya semakin terlihat lucu.


"Gue tau!" tegas Alan dengan menghembuskan nafas gusar.


"Jauhi gue!"


"Gue gak suka liat lo."


"Gue benci cewek."


Melody menarik nafas tercekat, udara? Oksigen? Kemana? Apa mereka kompak ingin mengekang Melody hingga terbunuh oleh sesaknya pengap ini.


"Tapi----" Alan langsung berdiri dan meninggalkan Melody tanpa sepata kata yang berarti.


Melody kembali tertipu, ya Tuhan, rasa ini menipunya lagi, setelah terbang terlalu jauh, kenapa harus jatuh di tempat yang sama? Tempat yang dipenuhi rasa sakit dan kecewa. Ini tak adil ya Tuhan.


Punggung besar Alan mulai mengecil hingga menghilang dari mata cokelat Melody. Bersama dengan hadirnya selaput bening, mata Melody berair. Dan kini air mata itu menetes dengan pelan.


Jangan menyerah! Ini baru awal, untuk menikmati hasil, kurasa masih perlu berjuang. Semangat Melody! Menjadikan diri sendiri sebagai penyemangat diri kurasa mampu membuahkan hasil positif untuk perasaan Melody. Menguatkan lebih tepatnya.


***