ALAN: Different Season'S

ALAN: Different Season'S
Kisah Kita?



"Ya, aku bahagia saat bersama mu, tapi tolong jangan hadirkan bahagia semu. Aku ingin ini berlangsung tanpa jeda dan bertahan lama."


***


"Astaga, mata gue udah gak suci lagi!" pekikan itu membuat Alan dan Melody menoleh cepat ke arah pintu. Di sana ada dua cowok yang yang menatap dengan tatapan dramatis ala-ala film Korea.


"Tutup mata!" Eza langsung menutup matanya, tapi masih bisa mengintip melalui sela-sela jarinya.


"Gila, si Alan sukanya main di kamar." celetuk Gio membuat Alan menggeram karena kesal.


"Bahaya, belum sah juga udah main di kamar, kira-kira mereka udah berapa ronde yah?" sambung Eza sambil seolah berpikir.


Bruk...


Sebuah guling terbang, pas mengenai wajah Eza dan Gio. Rasa kesal yang di rasakan Alan semakin menjadi-jadi.


"Lo pikir gue ngapain hah?" bentak Alan sambil melemparkan tatapan tajam ke arah dua makhluk sialan itu.


"Lo lagi main iya-iyaan kan?"


Bruk...


Yang kedua kalinya. Kali ini bantal rupanya.


"Melody, gak apa-apa kan? Belom di apa-apain kan sama es batu ini? Gak ada yang lecet, gak ada yang ku...."


Baru saja Eza ingin menyentuh dahi Melody memastikan jika cewek itu benar-benar sakit, tapi malah tangannya di tepis kasar oleh Alan.


"Don't touch. She is mine!" tegas Alan membuat Gio dan Eza melongo. Pasalnya si Alan itu terkenal paling anti dengan cewek, tapi kenapa sekarang malah mengakui jika Melody itu miliknya.


"Don't touch. She is mine!" gumam Gio dan Eza bersamaan, kemudian senyum menggoda pun terpasang di wajah Gio dan Eza.


"Mine!" ketus Alan dengan nada dingin, membuat Gio dan Eza bergidik ngeri.


"Yes, yes, i know, i know." celetuk Eza asal.


"Ngomong apa lo ****?" kesal Gio kemudian menabok kepala Eza.


"Lo tau kan, nilai bahasa Inggris gue mencapai angka fantastis dan amazing?!" dengan gaya sok Eza menatap tajam ke arah Gio.


"Ckck, gaya lo, gagal move on aja bangga!"


"Wets, mulut lo ngena banget!" dengan lebaynya Eza menepuk-nepuk dadanya.


"Shut up!" datar Alan sambil masih menatap tajam ke arah Gio dan Eza.


Gio dan Eza pun memilih diam dan duduk di sofa yang ada di kamar Alan sambil menatap jengah sepsang kekasih di hadapan mereka.


"Jadi lo berdua paca," belum selesai Eza mengucapkan kalimatnya, Alan sudah kembali melemparkan tatapan tajamnya.


"Lo laper?" tanya Alan kepada Melody, membuat Melody mengangguk, tapi kemudian menggeleng. Alan kembali menautkan alisnya bingung.


"Kak, aku pengen pulang, takutnya Bunda nyariin." Melody teringat pada Bundanya dan benar ini sudah malam tanpa ada kabar Melody menghilang.


"Tahu tuh, si Es batu, lupa balikin anak orang." kata Eza ikut nimbrung.


"Lo bakal balik, tapi setelah lo makan! Muka lo pucet dan gue gak suka liat itu." Alan mengusap pucuk kepala Melody penuh sayang, mungkin hanya dua kali usapan lalu melenggang keluar.


Tapi saat benar-benar ada di ambang pintu, Alan menoleh menatap tajam dua makhluk berbahaya itu.


"Jangan ganggu, Melo sakit." dingin Alan lalu benar-benar hilang dari pintu.


"Iya posesif!" kompak Gio dan Eza bersamaan, kemudian menatap Melody dengan mata berbinar.


"Kenapa?" tanya Melody, ketika melihat tatapan menggoda dari kedua wajah sahabat Alan itu.


"Jadian, cie, uhuts!" rayu Eza membuat Melody menutup kedua pipinya. Hingga berlanjut beberapa saat, Gio dan Eza selalu menggoda Melody.


Kebahagiaan yang tak terlupakan. Itu lah indahnya perjuangan yang berhadiah bahagia. Rasanya menyenangkan.


Pintu terbuka dengan pelan, di sana sudah ada Alan yang memegang mangkuk. Entah apa isinya.


Alan mendekat dan menaruh mangkuk itu di meja, dekat kasur Alan. Lalu membantu Melody bangkit dan duduk.


"Makan!" perintah Alan sambil mengambil mangkuk itu dan menyendokkan isi dari mangkuk itu, mengarahkannya ke dalam mulut Melody.


Melody hanya menurut dan membuka mulut.


"Kok hati gue nyesek yah?" komentar Eza sambil memegangi dadanya.


"Efek jomblo yang gagal move on!" Gio mengejek Eza sambil mencubit lengan Eza.


"Mulut lo, ****..."


"Hahaha, apa? Gue ngomonya fakta, real dan nyata kan?"


"Lo itu sahabat macam apa sih? Hobi banget buat sahabatnya sendiri nyesek gini, sakit hati abang, sakit.." Eza seolah-olah merasa paling tersakiti di sini.


"Lebay lo, pengen gue buang ke rawa-rawa yah lo?" Gio menatap tajam ke arah Eza.


"Gak usah, gue mau mendem di tanah kusir." balas Eza sangar.


"Pilihan bagus, setidaknya di sana lo bisa bertapa. Gue doain pas lo balik dari tanah kusir, lo dapat hidayah..." Gio menegadahkan tangannya seraya berdoa. Meminta agar sahabatnya yang bernama Eza ini bisa move on.


Pletak...


Merasa kesal dengan jawaban Eza langsung saja Gio menggeplak kepala Eza dengan keras.


"Woii, sakit ****, lo ini kenapa hah?" teriak Eza tak terima, masa iya kepalanya yang cerdas ini di geplak, bisa-bisa otak mungilnya bergeser ke ujung kuku. Kan bahaya.


"Gue bukan ngomongin si Hidayah anak kelas sebelah ****! Hidayah yang ini itu beda." kesal Gio sambil meremas lengan Eza. Mungkin saking gemasnya dengan kebodohan sahabatnya itu.


"Oh, gue tahu, lo lagi ngomongin Hidayah yang adek kelas itu kan, yang,"


"Bukan itu, kampret!!!" teriakan Gio mendominasi di kamar Alan. Merasa semakin kesal langsung saja Gio menabok punggung Eza, membuat Eza sedikit bergerak.


"Sakit ****, lo mau bunuh gue, belom juga gue nikah, masa lo udah mau bunuh gue. Gue belom siap, gue kepengen buat Eza Junior dulu, abis itu ngeliat si Alan punya Alan junior juga. Gue penasaran kira-kira anak si Alan nanti kayak apa yah? Kayak papan tulis, tembok, patung, atau kaya..."


"Diem setan!" sentak Alan sambil melemparkan tatapan tajam yang mampu membuat Eza cemberut.


"Gue salah apa lagi? Lama-lama di sini, gue bisa jadi Raisa, yang hidupnya selalu Serba salah." lirih Eza sambil menatap sendu ke arah sahabat-sahabatnya.


"Lo ngedoain anak gue kayak papan tulis, tembok, hah?" suara Alan kian meninggi, membuat Eza memutar bola mata jengah.


"Kagak, gue cuman ngomong yang sebenarnya yang ada apanya, eh maksudnya yang benar-benar nyatanya, faktanya, yang realnya, yang bener-bener nyata deh." mendengar itu Alan memutar bola mata jengah, percuma berdebat dengan manusia seperti Eza, buang-buang waktu.


"Ini anak kurang belaian." Gio menatap acuh ke arah Eza.


"Maksud lo apa?" dengus Eza.


"Shut up!"


Gio dan Alan pun diam.


"Habisin." perintah Alan sambil memaksakan agar bubur itu masuk ke dalam mulut Melody.


Melody menggeleng. Melody merasa sangat kenyang, walaupun hanya memakan beberapa sendok.


"Kagak peka banget, itu tandanya masakan lo kagak enak, jangan paksa Melody makan deh entar dia malah kenapa-napa!" celetuk Eza membuat Alan menoleh dan melemparkan tatapan membunuh.


Alan sudah mencobanya dan sialnya masakannya itu memang enak, tak kekurangan apa-pun, Alan yakin itu.


"Gak kak, enggak, masakan kakak enak kok, tapi Melody negarasa udah kenyang banget! Perut Melody udah gak muat lagi, udah penuh." Melody menampilkan semyum bodohnya yang mampu membuat Alan tak kuasa manahan sengatan aneh dalam dirinya. Senyum itu, membuat Alan menjadi gila karena kelewat bahagia.


Alan mengangguk, tak memaksa cewek itu untuk makan. Bila memang sudah tak mau.


"Gue anter pulang!"


Melody mengangguk.


"Lo berdua, disini aja." tegas Alan sambil menatap dua sahabatnya.


"Oke!" dengan cepat Gio merespons ucapan Alan sementara Eza sibuk dengan Handphone-nya.


Lama diam, Eza berdiri sambil melompat menghampiri Melody yang sudah berdiri di samping Alan.


"Gue naik level!!!" Teriak Eza heboh. Akhirnya Pounya beralih level dari lever 40 menjadi level 41.


Mendengar itu, Melody merasa tertarik. Dan untungnya Eza peka. Langsung menyodorkan Handphone-nya ke arah Melody, supaya Melody melihatnya juga.


Tapi saat sudah ada di tangan Melody, tiba-tiba saja pegangan Melody kendor dan jadilah Handphone Eza terjatuh dengan keras di lantai yang kerasnya luar biasa. Dan akhirnya mengalami kerusakan berkelanjutan, memang tak sampai terpecah bela, tapi layarnya retak dan hitam memenuhinya.


"Hp gue, " ala-ala drama Korea, Eza langsung berjongkok dan berpura-pura menangis sesegukan. Tentu saja itu membuat Melody merasa bersalah.


"Sukurin!!!" ledek Gio sambil tertawa.


Sementara Alan masih menampilkan wajah datarnya.


"Maaf kak, Melody gak sengaja." Melody semakin merasa bersalah.


"Biar nanti Melody ganti kak, Melody janji." ucap Melody bersungguh-sungguh.


"Apalah daya ku, sebutir padi sudah menjadi beras dan kini beras itu sudah menjadi nasi dan nasi itu sudah menjadi bubur." mulailah tingkat ke dramatisan Eza meningkat. Melody menunduk seraya menahan air mata, Alan yang menyadari hal itu langsung menarik nafas jengah. Tentu merasa kesal dengan Eza, gara-gara si kampret itu, Melody sekarang malah merasa sedih dan bersalah.


Pluk...


Alan melemparkan Iphone miliknya, Iphone pengeluaran terbaru dari yang terbaru.


Eza yang melihat itu langsung menatap Alan dengan tanya.


"Ambil! Buat ganti hp lo. Impas kan?" kata Alan dan berlalu pergi sambil menggenggam tangan Melody lembut.


"Demi apa? Lo seriusan? Bener? Lo serius?" teriak Eza kembali membuat Alan mendengus.


"Hm.." singkat Alan.


"Yang bener? Yang bener? Yang bener? Alhamdulillah...." Eza kembali bersujud syukur. Rezekinya baik hari ini, hpnya rusak dan terganti dengan Iphone pengeluaran terbaru.


Sementara Gio hanya cengo.


"Besok, gue mau bawa semua barang yang ada di rumah gue, suruh Melody ngerusakin semua. Abis itu pasti bakal di ganti sama si Alan." cengenges Eza sambil menatap Gio.


"Yah Kampret." Gio menggumam kesal sambil setelah itu sibuk dengan Handphone-nya sendiri.


***