ALAN: Different Season'S

ALAN: Different Season'S
Cerita Kejujuran



"Masalah adalah awal untuk mencapai kebahagiaan"


***


"Gue akan cerita semua."


Melody hanya diam menanggapi ucapan Alan. Ini sudah lebih dari cukup, akhirnya cowok itu sudah mau membagi masalahnya.


"Aku akan jadi pendengar yang baik kak."


"Gue tahu itu. Dan hari ini juga kayaknya gue bakal ngeluarin banyak kata." Alan tersenyum kecil membuat Melody bungkam karena terpesona oleh senyuman itu.


"Sebelum itu gue mau minta maaf."


Melody menautkan alisnya bingung. Maaf apa yang di maksud Alan kali ini.


"Lo gak mungkin lupa kan? Saat itu lo ngasih gue kue pas hari ulang tahun gue."


Seketika pikiran Melody melayang ke kejadiaan saat itu. Saat Alan tanpa perasaan membuang kuenya. Tanpa mau sedikit pun mengucapkan terima kasih.


"Makasih. Tapi, dulu gue bener-bener gak bisa dan gak suka sama hal-hal yang nyangkut hari lahir gue." Alan memejamkan matanya pelan. Membiarkan ingatan beberapa tahun silam berputar di dalam pikirannya. Kalian tahu, setiap inci kejadiaan pedih itu masih begitu jelas dalam ingatan Alan.


"Lo tahu gak, dulu gue suka banget pas ulang tahun. Tapi semua itu berubah saat semua orang yang gue sayangi lebih milih memprioritaskan kerjaan mereka." Alan menjeda ucapannya saat merasa tenggorokannya kering.


"Papa gue itu bolak balik ke luar negeri, soalnya Papa ngurus perusahaannya yang ada di sana. Sementara Mama, mama itu di sini sama gue. Lo tahu Mama gue itu tipe orang yang penuh dengan kasih sayang. Gue bahagia banget pas gue bisa ada di tengah-tengah mereka. Dengan Papa yang pekerja keras dan Mama gue yang udah tentunya penuh cinta dan sayang banget sama gue."


"Tapi, pas gue ulang tahun yang ke 15, semua berubah. Papa gue gak balik buat ngerayaan ulang tahun gue. Dan okelah, gue berpikir bahwa itu karena Papa sibuk. Gue yakin bahwa Mama udah nyiapin semuanya, tapi perkiraan gue salah, Mama..." Alan kembali menjeda ucapannya sambil menahan sakit yang amat luar biasa. Melody yang melihat itu langsung terdiam. Inikah yang di sembunyikan dari Alan selama ini? Rasa sakit yang berlebihan menggerogoti pertahanannya, membiarkan Alan berjuang sendiri melawan ketidak adilan yang melelahkan.


"Mama lupa sama ulang tahun gue, Mama waktu itu juga gak pulang, karena Mama ternyata milih kerja. Pas Papa tahu itu. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu dengan pertengkaran. Saat itupun Mama kayaknya jadi ngebenci gue, gue yang gak terima malah balik benci Papa, karena gue pikir Papa adalah awal dari semua kesalah pahaman ini."


"Gue pikir gara-gara Papa terlalu sibuk kerja, Mama jadi ngerasa gak ke anggep, Mama merasa Papa udah berpaling dari Mama. Hingga hari-hari berlalu, yang gue pikir itu akan baik-baik aja seiring dengan jalannya waktu tapi malah hari ke hari semua makin hancur."


"Kemarahan gue yang buat Papa semakin gak pernah lama tinggal di rumah. Karena setiap Papa balik dari luar negeri untuk nengok gue dan Mama, gue malah milih kabur dari rumah dan milih nginep di rumah Gio."


"Gue jahat banget yah, Melo." Alan tertawa sumbang, menyisakan kesakitan yang Melody tau sangat menyesakkan.


"Gak hanya itu, gue bahkan pernah bilang ke Papa kalau gue itu benci sama dia. Karena gara-gara dia Mama udah gak sayang lagi ke gue." Alan sangat mengingat betul saat dirinya mengatakan hal itu.


"Tapi Papa selalu ada buat gue dan di saat itu pun gue sadar. Di situ gue tahu siapa yang sebenarnya lebih menginginkan gue dan siapa yang sebenarnya malah nganggep gue sebagai orang yang paling nyusahin."


"Lo tahu Melo, ternyata Papa gue adalah orang yang mati-matian selalu ngelindungin gue, ngejaga gue dalam diamnya. Dan lo harus tahu, siapa yang nganggep gue sebagai seorang yang nyusahin, itu Mama. Mama bilang kalau gue itu nyusahin." buliran bening yang sedari tertahan dari Alan kini sudah mulai bercucuran. Dalam hati, Alan menerutuki kebodohannya, bisa-bisanya ia menangis di hadapan Melody-nya. Melody pasti akan berpikiran yang tidak-tidak, semestinya ia harus kuat.


Seolah mengerti Melody menggenggam kedua tangan kekar Alan, membalutnya dengan tangan mungilnya. Membiarkan aura positif yang ada di tubuh Melody menjelajar ke tubuh Alan.


Alan tersenyum samar, keberuntungan berpihak pada dirinya. Alan beruntung bisa mendapatkan Melody, Alan akan berjanji pada dirinya sendiri jika ia akan menjaga Melody melebihi ia menjaga dirinya sendiri. Memprioritaskan kebahagiaan Melody rupanya itu adalah tujuan utama Alan saat ini.


"Tapi gue beruntung, gue masih bisa ngucapin kata maaf ke Papa. Dan lo tahu, Papa dengan senang hati ngemaafin gue. Dan di saat itu gue merasa, kalau gue adalah anak terdurhaka yang ada di dunia ini. Jelas-jelas gue sia-siain cinta dan kasih sayang dari seorang yang tulus, yaitu Papa."


"Sekarang gue akan mulai semua dari awal, gue pengen ngebahagiain Papa. Dan lo tahu lo juga termasuk ke daftar orang yang akan gue bahagiain. Lo harus sabar nunggu yah! Nanti setelah gue sukses, gue bisa makan dari hasil keringat gue sendiri, pas gue udah bisa ngehasilin uang sendiri, gue bakal dateng ke Bunda lo dan minta lo buat jadi sahabat hidup gue. Lo mau kan?"


Melody tersenyum dengan buliran air mata yang masih di tahannya. Rasanya sangat campur aduk. Alan selalu memberikan semuanya di saat yang bersamaan.


"Lo harus tahu, kalau gue itu tipe orang yang selalu tepatin janji. Dan lo harus ingat, ini janji gue buat milih lo jadi sahabat hidup gue, yang nantinya bakal jadi Ibu dari anak-anak gue yang gue perkirain akan ada sebelas Alan junior."


Melody memutar bola mata jengah, inilah Alan, tadi membuatnya terharu sekarang malah membuatnya muak. Lelucon macam apa itu? Kesannya ia ingin membuat satu klub bola.


Melody lagi-lagi menahan kesal.


"Itu kebanyakan kak. Lagian kakak kok pikirannya jauh banget. Gimana kalau kita gak jodoh?"


"Lo bisa camkan kata-kata gue, kalau kita itu jodoh dunia akhirat."


"Aamiin aja deh." Melody tertawa puas, rupanya Alan adalah tipe orang yang moody, tadi Alan menangis karena masa lalunya yang kelam. Tapi sekarang topik itu malah tergantikan oleh pemikiran untuk masa depan yang seolah-olah sudah mereka rencanakan.


"Gue masih ada satu rahasia. Lo mau tahu?"


Melody mengangguk cepat. Perubahan sifat Alan kini mulai terlihat, cowok itu hari ini mengeluarkan banyak kata.


"Gue sebenarnya itu suka minum."


Benarkah? Itu adalah rahasia terburuk yang Melody ketahui.


"Kakak ini lucu, semua orang itu suka minum loh kak. Kakak pikir cuman kakak aja yang suka minum, Melody juga suka minum."


Alan meringis, bukan minum seperti itu yang Alan maksud. Kali ini kepolosan Melody membuat Alan kembali gemas.


"Lo polos apa ****?"


Melody menatap tajam ke arah Alan. Maksudnya apa? Kesannya sangat merendahkan Melody.


"Maksud gue itu bukan minum yang kayak lo pikirin. Yang gue maksud itu minum, minuman keras."


Melody menatap Alan sebentar dengan mulut yang sedikit menganga.


"Lo kecewa yah sama gue?" mendengar pertanyaan Alan, rasanya Melody semakin gemas.


"Jangan di ulangi lagi yah kak. Melody gak mau kakak kenapa-napa. Stop minum."


Alan kembali tersenyum, senyum yang mampu membuat kaum hawa menjerit tak kuat. Dan itu tentu saja membawa dampak yang luar biasa bagi perasaan Melody.


"Kakak belum kecanduan kan?"


"Kayaknya."


"Kok kayaknya?"


"Gak tahu."


Melody langsung mencubit pelan perut Alan, tentu saja Alan kembali meringis.


"Lo kok hobi banget cubit gue."


"Gak tahu." seolah Melody menirukan gaya bicara Alan yang dingin.


Alan berdecak, tapi senyum bahagianya tak mampu terbendung. Sekarang semuanya baik-baik saja. Melody sudah tahu baik buruknya Alan. Jadi sekarang tak akan ada yang perlu di khwatirkan.


***