
"Lihat! Nyatanya kamu juga ahli menabur bahagia tanpa lupa menabur luka."
***
Waktu berjalan begitu cepat, membawa semua penolakan yang makin hari makin mendominasi. Kesabaran Melody saat menghadapi kakak kelasnya itu sangat luar biasa.
Alan seringkali menolak, dengan kasar tapi Melody? Tentu saja tak akan menyerah. Di genggaman tangan Melody kini sudah ada sebuah kue ulang tahun dengan motif sederhana berbalut cokelat yang di tata sedemikian rupa. Sangat menggugah selera.
Lapangan olahraga, titik keberadaan Melody dan Dena, dan tepat di hadapannya kini ada 3 cowok yang nampak tengah saling berbicara, kecuali Alan. Kedua cowok lainnya itu Gio dan Eza.
"Lo yakin?" Dena berusaha kembali menanyakan tentang keinginan Melody yang takutnya akan menimbulkan luka baru bagi hatinya.
Tak menjawab. Tapi, Melody mengangguk mantap. Lalu melangkah perlahan.
Saat sampai di belakang Alan. Melody berusaha mati-matian menyembunyikan rasa gugupnya. Hingga tarikan nafas Melody berulang-ulang terjadi.
"Happy Birthday kakak." Melody membuka mulut membuat ketiga cowok itu menoleh. Eza menatap Melody dan kue yang di bawa Melody dengan berbinar.
Sementara Gio hanya mampu memejamkan matanya kuat-kuat. Sebenarnya takut akan ada suatu hal yang akan menimpa cewek polos bernama Melody itu lagi. Ada satu rahasia yang dia tak tahu mengenai Alan. Dan rahasia itu adalah fakta terburuk yang akan dia ketahui saat ini.
Melody menyodorkan kue itu sembari menatap Alan yang tengah menatapnya dengan tatapan yang berbeda kali ini, rahang kokohnya terlihat sangat mengeras. Menandakan bahwa Alan sangat emosi.
"Kakak, Melody harap----"
Brukk....
Kue itu melayang sesaat sebelum kemudian rata dengan tanah. Tangan kekar Alan menepis kue itu kuat.
Hingga kue itu sudah tak berbentuk di tanah.
"Lo!" Alan menggeram penuh emosi sambil menunjuk Melody yang kini menatap Alan dengan tak percaya.
Kue yang semalaman ia buat, kini dalam hitungan detik sudah berbaur dengan tanah, tak berbentuk dan hancur. Sebenarnya di sini, salah Melody apa? Melody hanya membawakan kue ulang tahun untuk kakak kelasnya itu, kakak kelas yang selama ini Melody suka, tapi kenapa harus berakhir seperti ini. Jika tak suka kenapa tak menolak kenapa harus sekasar ini?
"Gak usah sok peduli, gue gak suka liat tampang sok polos lo." bentak Alan dengan suara yang naik satu oktaf. "Gue mau lo jauhin gue." lanjutnya dengan nafas terburu.
Melody memejamkan matanya kuat, air matanya sudah tak tertahan. Tapi, ia tak mau menangis. Ia tak mau terlihat lemah. Walaupun sebenarnya hatinya terluka parah. Jelas, tak berdarah tapi ini gawat.
"Kakak ini kenapa?" Melody akhirnya membuka suara dengan serak khas menahan tangis, suaranya bergetar hebat bersamaan dengan tangannya yang mengepal kuat.
"Aku---aku itu cuman pengen kakak terima kue aku gak lebih. Kalau emang kakak gak mau, yah udah gak usah di buang gini. Setidaknya kakak punya keberanian untuk menolak, bukan malah berlaku kasar gini. Kakak," ucapan Melody terhenti saat tangisnya sudah menjadi-jadi, ia sesegukan sambil menunduk lemah.
Runtuh sudah pertahanannya. Benteng yang ia bangun dengan susah payah, ternyata harus runtuh di hari ini.
"Kakak setidaknya menghargai apa yang dilakukan orang lain untuk kakak, dan semua itu bukan berarti orang itu sok peduli, tapi nyatanya bener-bener orang itu peduli." Melody mulai menatap bola mata kebiruan itu di sana tatapan Alan masih tak berubah tetap saja terasa dingin.
"Menghargai apa yang orang lakukan untuk diri kita itu tidak akan membuat harga diri kakak hilang. Malah akan membuat semuanya semakin lebih baik jika kakak mau menerima." lanjut Melody pelan.
"Tapi, kalau kakak berpikir kalau aku akan nyerah buat dekatin kakak, karena kakak selalu berbuat kasar sama aku, maka pikiran kakak itu salah! Hati aku emang udah luka, tapi untuk sebuah kebahagiaan rasanya berjuang sebisa mungkin harus aku lanjutin. Kakak boleh nolak aku, kapan pun sesuka hati kakak, tapi aku? Gak akan nyerah kak." merasa tak kuat dengan tatapan Alan yang membuat Melody lemah, langsung saja Melody menunduk.
Seandainya Melody tak menunduk maka ia akan melihat, sorot mata Alan yang berubah menjadi teduh meskipun tak berlangsung lama.
Dan kini, Melody sudah menjadi pusat perhatian.
Di tempat lain, Alan masih diam sambil menatap kosong ke depan.
"Lo kelewatan Lan!" tegur Gio sambil menepuk pelan bahu Alan.
Alan masih bergeming, tak mau beralih dari pikirannya. Pikiran apa? Entah, yang pasti Alan merasa ada yang salah pada dirinya.
"Lo gak seharusnya kayak tadi," lanjut Gio.
"Terus gue harus apa?" Dengus Alan dengan kesal. Dia dateng, seolah-oleh ngertiin gue. Tapi sedikitpun dia gak tahu apa-apa tentang gue.
"Dia juga gak tau apa-apa karena gak lo kasih tahu, lo terlalu nutup diri Lan. Lo gak tahu aja gimana sakitnya jadi dia." kali ini giliran Eza yang bersuara.
"Gue gak peduli. Selama gue dan hati gue masih baik-baik aja." dengar! Apa itu terdengar sangat egois? Tapi yakinlah untuk mengatakan itu Alan mati-matian melawan sebagian yang ada dalam dirinya.
"Terserah deh Lan, yang pasti lo hati-hati aja, mungkin emang sekarang lo dan hati lo yang beku itu gak kenapa-napa. Tapi, liat nanti, apa ini masih berlaku sampai akhir!" dengan entengnya Alan tak mengindahkan ucapan Eza.
Tapi tahu dalam diri Alan tengah berusaha menentukan apa yang ada di sana, mengapa semua tak biasa seperti dulu, kini ada yang beda.
Tak mau pusing. Alan berlalu pergi, memilih melangkahkan kakinya ke kelasnya. Diikuti dengan Gio dan Eza.
Saat sampai di depan kelasnya, tiba-tiba saja Eza teringat sesuatu.
"Eh stop!" langkah ketiganya pun terhenti.
"Apasih lo?" geram Gio sambil berniat menghadiahkan bogeman hangat di wajah Eza tapi nyatanya Gio kalah cepat. Tangan kekar Alan sudah terdahulu menabok punggung Eza hingga cowok itu nampak terdorong ke depan.
"Astagfirullah, sakit hati neng jadinya." Eza bertingkah layaknya orang yang kurang belaian.
"Lagian lo kenapa? Masa langsung nyuruh berhenti gitu aja. Masih untung lo cuman di tabok aja sama si Alan, gimana kalau lo sampai kena bogeman maut dari Alan, bisa-bisa lo langsung masuk tanah." cerocos Gio tanpa dosa.
"Ya Allah, sahabat macam apa lo Gi." kata Eza sambil menatap kesal ke arah Gio.
"Aelah, ngomong aja, napa lo nyuruh kita berhenti." balas Gio sambil menatap kesal ke arah Eza.
"Itu, gue lupa, kalau hari ini itu kita ulangan harian pelajarannya Ibu Jedah, gue kagak sanggup ngebahas sejarah! Lo tahu kan sejarah itu harus ngebahas masa lampau, dan gue gak mau, jangan sampai gara-gara ulangan sejarah kali ini, gue makin gagal move on. Kan gak lucu." curhatan hati seorang Eza yang gagal move on.
"Kan emang lo kagak bisa move on!" teriak Gio semakin geram.
Tanpa memperdulikan Eza, Alan dan Gio masuk ke dalam kelas. Duduk di bangku paling belakang.
Alan duduk di pojok belakang, sambil menatap malas ke arah ruangan kelasnya. Mungkin hampir semua orang di dalam kelasnya ini tengah mencatat di secarik kertas kecil, apalagi kalau bukan membuat pelampung.
Dan sungguh Alan tak suka pada kenyataan yang seperti ini, Alan memang bodoh, tapi tak mau melakukan hal serendah itu. Mending saja dia mendapat nilai rendah karena hasil otak sendiri, daripada mendapat nilai tinggi karena hasil contekan.
Alan tampak tak mau membuang-buang tenaga untuk berpikir. Hanya kesimpulan saja, bahwa nyatanya kebanyakan orang terlalu gelap mata, terlalu haus akan pujian untuk menjadi yang terbaik dari yang terbaik. Dan untuk mendapatkan itu, mereka bahkan rela melakukan hal rendah. Kalau kalian tak setuju dengan kesimpulan Alan maka tak peduli, ini hanya kesimpulan dan untuk mendengar ketidakterimaan kalian Alan tak punya banyak waktu.
***