
"Kecewa bisa memberikan dampak yang buruk untuk hati, serta dapat memberikan penyesalan yang berarti."
***
Melody terduduk di salah satu kursi perpusatakaan sambil membaca buku.
Kelas hari ini free, dan Melody malas menghabiskan waktu di dalam kelas.
Jadinya Melody mengajak Dena untuk ke perpustakaan, Dena tentu saja mau.
Dena diam-diam mengamati wajah Melody yang tentu saja tak seceriah biasanya, ada masalah yang datang menerpa. Dan tentu saja Dena tahu, Melody sudah menceritkan semuanya.
Ini tentang kecewa, Melody kecewa pada Alan yang tak kunjung datang menepati janji, kecewa karena Melody harus menunggu berjam-jam hanya untuk suatu yang kepastiannya tak terjamin. Melody rasa itu sudah cukup untuk mengatakan jika ia kecewa. Dan Dena mengerti itu, Dena yakin jika ia yang ada di posisi Melody maka Dena akan sama, Dena akan kecewa.
Dena tak tahu harus apa? Dena tahu jika Melody sangat terluka, tapi Dena tak bisa melakukan apa-apa. Jadi, Dena hanya bisa selalu ada di samping Melody, berusaha menjadi pendegar yang baik, memberikan nasehat bila perlu.
"Maaf yah, Melo! Gue gak bisa lakuin apa-apa." cicit Dena pelan, semestinya Dena bisa melakukan hal lebih, agar Melody bisa terlihat lebih tenang.
Melody yang tadi berkutat pada buku, akhirnya mendonggak dan menatap Dena yang juga menatap Melody dengan tatapan bersalah.
"Kamu ngomong apa sih Den? Kamu itu sahabat terbaik aku." Melody memandang Dena dengan senyuman penuh.
"Kamu gak perlu lakuin apa-apa, kamu cukup selalu ada di saat aku perlu, cuman itu. Yang lain aku gak butuh. Dan kamu udah lakuin itu, buktinya kamu rela ke sini nemenin aku, padahal kan aku tahu kamu itu punya janji sama kak Gio." mendengar itu Dena tersenyum.
Bukankah ini yang dinamakan sahabat? Tentu.
Seketika hening, Melody sudah kembali fokus pada buku, tapi tak membacanya, hanya melihat-lihat saja, itupun pikirannya di sibukkan oleh Alan.
Apa Alan ke sekolah?
Apa Alan baik-baik saja?
Apa Alan sudah makan?
Apa Alan tidak bolos lagi?
Dan banyak lagi pertanyaan di kepalanya tentang Alan.
Merasa tak kuasa, Melody pun memejamkan matanya. Bisakah untuk sehari ini Melody tak memikirkan Alan?
Bisakah?
Melody belum bisa bertemu dengan Alan, rasa kecewa masih tersisa di hatinya. Dan Melody harap, Alan mengerti.
Akhirnya Melody memaksakan diri, berusaha fokus pada buku. Meski nyatanya semua akan berakhir sia-sia.
***
Alan berjalan dengan cepat, sedari tadi Alan sudah mencari-cari Melody, tapi sayang tak ada hasil yang berarti. Melody tak kunjung Alan temukan.
Alan merasa bersalah, bagaimana bisa Alan melupakan janji, melupakan Melody? Alan merasa jika ia adalah cowok paling brengsek yang telah membuat Melody tersiksa menunggu suatu kepastian yang tidak nyata.
Langkah Alan terhenti di lorong kelas duabelas yang nampak agak sepi. Tangan kekar Alan terulur menarik rambutnya frustasi.
Apa lagi ini? Bukannya Alan sudah mengatakan ia lelah, tapi kenapa masalah selalu datang.
Alan ingin Melody, Alan cinta Melody, tapi Melody pasti kecewa pada Alan, karena Alan telah melakukan kesalahan yang Alan yakini telah membuat hati Melody juga terluka.
"Alan?" panggilan itu membuat Alan berbalik.
Tatapannya mengarah pada cewek yang dari semalam selalu mengganggu Alan. Siapa lagi, ia Ajeng.
Ajeng salah satu orang yang menyukai Alan dan tentu saja Ajeng adalah salah satu orang yang pernah Alan tolak mentah-mentah.
Ajeng itu licik, seperti ular. Dan Alan paham betul dengan cewek seperti Ajeng.
"Loh kok gak ngejawab gue Lan." tangan Ajeng pun mulai terulur memegang pundak Alan, tapi jangan salahkan Alan yang langsung menebas tangan Ajeng cabe-cabean itu.
Bukankah Alan sudah bilang, Alan benci cewek yang murahan seperti Ajeng.
"Kasar banget sih Lan, gak kasian apa sama tangan gue?" Ajeng memasang tampang memelasnya, dan demi apapun itu sangat menjijikkan.
"Murahan!" sentak Alan sambil menatap tajam ke arah Ajeng, Ajeng yang melihat tatapan tajam Alan langsung takut, tapi sebisa mungkin Ajeng menyembunyikan rasa takutnya.
"Gak apa-apa murahan, yang penting gue cantik." kata Ajeng dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi.
Alan tak menggubris, ia hanya muak dengan Ajeng yang tak tau diri.
"Lo kenapa sih Lan? Gak pernah mau sama gue? Gue kurang apa?"
"Kurang harga diri." kata Alan cepat, dan itu malah membuat Ajeng tersenyum.
"Gue suka sama lo Lan." teriak Ajeng sambil berusaha memeluk Alan tapi Alan langsung menolak.
"Gak peduli." dengan cepat Alan berlalu, tak mau peduli dengan Ajeng.
Ajeng menahan dirinya sendiri.
"Kalau lo gak bisa sama gue Lan, maka gak ada cewek yang boleh sama Lo, termasuk Melody." senyum licik tercipta di bibir Ajeng.
***
Langkah Alan terhenti saat Alan sampai di atap sekolah, di sana sudah ada Eza dan Gio.
"Lo kemana aja Lan, gue ampe lumutan ini nungguin lo." protes Eza yang sudah sangat kesal karena lama menunggu Alan.
"Tahu tuh, kemana aja lo! Katanya tadi lo mau ngomong sama kita, tapi udah dari tadi kita nungguin di sini tapi lo baru dateng." kali ini suara Gio juga terdengar protes.
"Gak tahu apa di sini panas banget, gimana kalau kulit mulus gue ini kebakar? Gimana kalau gue tiba-tiba jadi abu?" heboh Eza dengan suara yang besar. Gio yang mendengar itu pun langsung memukul punggung Eza dengan kesal.
"Lo pikir lo Vampir, yang bisa berubah jadi abu pas kena sinar matahari. ****!" dengus Gio sambil menatap malas Eza.
"Emang gua apaan Gi? Gue pikir gue vampir selama ini."
"Mana ada Vampir yang kayak elo? Emang ada yah Vampir gak bisa move on, terus alay, gak tahu malu, hobi nyontek, hobi ngutang, hobi bolos, hobi nyolong wifi, hobi ngestalk akun mantan, hobi...." ucapan Gio terhenti saat tangan Eza membekap mulut Gio.
"Itu aib gue ****, lo mah malu-maluin." dengus Eza sambil memasang wajah yang malu.
Gio hanya memasang wajah tak berdosa.
"Udah, sekarang kita fokus sama si Alan." kata Gio akhirnya.
Alan pun mulai menceritakan semuanya, dengan satu kata satu kata, tapi itu cukup di mengerti oleh Gio dan Eza.
"Jadi lo selama ini minum Lan?" teriak Gio penuh emosi, Alan hanya menunduk, ia mengaku, ia salah.
"Lo anggep kita sahabat apa bukan si Lan? Kita kan udah bilang, kalau lo punya masalah, lo bisa cerita sama kita!!! Tapi kenapa lo malah lari ke minuman haram itu." kali ini Eza yang mulai emosi, se kocak-kocaknya Eza, Eza juga bisa marah. Apalagi saat ini menyangkut tentang sahabatnya.
"Lo itu ****, lo udah ngerusak diri lo sendiri! Padahal lo sendiri yang ngelarang kita ngelakuin hal yang gak berfaedah, lo larang kita ngerokok, karena lo bilang itu gak keren. Dan sekarang ini lebih parah Lan, ini lebih bahaya daripada ngerokok. Minuman itu bahaya." Gio semakin emosi di buat Alan.
Plak..
Plak..
Dua tamparan langsung mendarat di pipi Alan. Entahlah Alan merasa itu tidak cocok di sebut tamparan, karena rasanya sama seperti saat Alan di cubit oleh cabe-cabean😑
"Rasain, biar tahu diri lo Lan, supaya lo sadar juga, kalau kita itu ada Lan. Kita sahabat. Jadi jangan sampai lo ngulang lagi kesalahan lo, atau gue bakal ngegantung lo di pohon toge." teriak Eza dengan kesal. Tapi apa itu terdengar seperti ancaman? Kurasa tidak.
"Iya rasaian, makanya jangan gitu lagi. Kita itu sahabat Lan, jadi kalau lo punya masalah lo harus cerita."
"Oke, Maaf." singkat Alan.
Eza dan Gio pun tersenyum. Walaupun sedikit kesal masih tersisah untuk si bodoh Alan.
"Gue mau minta maaf sama Melody."
"Kita bantuin." kompak Gio dan Eza.
Alan pun kembali bersemangat, ia tak sendiri. Banyak yang selalu ada untuk Alan. Hanya saja Alan terlalu tak peka.
***