
"Sebuah luka mungkin bisa sembuh karena terobati, tapi itu tidak berlaku untuk menghilangkan bekasnya."
***
Aroma obat-obatan menyeruak di indera penciuman Melody. Dan itu menjadi sangat tak di sukai Melody saat ini.
Sudah berjam-jam terlewati, tapi belum saja ada kabar yang mengatakan jika Alan-nya baik-baik saja.
Kurang lebih 2 jam berlalu, di saat operasi pengangkatan peluru yang menembus punggung kanan Alan di lakukan, hingga kini saat jam tepat menunjukkan pukul 5 pagi tapi belum juga ada yang mengatakan jika operasi itu lancar dan sudah selesai.
Tak mau melupakan kewajibannya sebagai umat Islam, Melody kini tengah bersimpuh di hadapan sang pencipta. Setelah Melody melaksanakan sholah subuh, Melody pun menyempatkan diri untuk bertahan lebih lama. Menengadahkan kedua tangannya seraya berdoa, semoga Alan bisa baik-baik saja dan bisa lekas sembuh hingga tak akan ada kejadian buruk lagi yang akan terjadi.
Setelah selesai, Melody langsung melipat mukenahnya dan menaruhnya ke tempat semula. Sebelum dia benar-benar berlalu dan pergi ke depan ruangan dimana Alan di operasi.
Saat sampai di sana semua orang nampak tengah berkumpul sembari menampilkan tampang cemasnya.
Di sana sudah ada keluarga Alan, keluarga Melody, Eza, Gio, Dena dan Ijaz.
Melody pun melangkah ke tengah-tengah mereka. Menatap kosong ke arah ruangan yang di tempati Alan.
"Semua akan baik-baik aja Nak." suara itu terdengar begitu berat dan sangat tegas, itu suara Afraz, Papa Alan.
"Lo tahu Melody. Alan itu kuat banget, jangankan luka tembak, di lindes truk aja gue yakin dia masih bisa hidup." setelah menyelesaiakn ucapannya, Eza mendapat plototan dari Gio. Kesal saja, mulut cerewet Eza tak mampu di ajak berkompromi. Tidak tahu apa jika semuanya sangat tegang.
Meskipun Gio sangat yakin jika Alan tak akan mati dengan cara seperti ini. Yang dikatakan Eza benar, Alan itu sangat kuat. Jangankan luka tembakan, kena racun sianida saja Gio belum yakin jika Alan bisa mati. Entahlan tubuh Alan memang sangat kebal, atau mungkin benar Alan punya nyawa sembilan?!
"Eza benar." dan kini Eza semakin bangga saat Afraz membenarkan ucapan Eza.
"Alan itu kuat, dia nggak mungkin ninggalin kamu." Afraz mengelus pelan rambut Melody. Tersadar akan apa yang dilakukan Afraz, Afraz pun terlihat tertawa geli.
"Kalau Alan lihat, Papanya lagi ngelus rambut pacarnya pasti Alan bakal cemburu. Tahu kan Alan itu anaknya cemburuan!" mendengar ucapan Afraz, semua yang ada di sana langsung terkekeh geli. Hingga Melody teringat, saat pertama kali Melody bersama Satya ke sekolah dan Alan melihatnya. Alan langsung cemburu, bahkan niatnya langsung ingin membunuh Satya.
Hingga pintu ruang operasi pun terbuka. Seorang dokter langsung datang menghampiri mereka yang tengah berkumpul dan menunggu dengan harap-harap cemas.
"Bagaimana keadaan anak saya Dokter?" dokter itu terlihat tersenyum kecil saat mendengar pertanyaan Afraz.
"Dia baik, sangat baik! Sekarang dia akan di pindahkan ke kamar rawat biasa. Karena keadaannya sudah membaik, peluru yang menembus tubuhnya pun sudah terangkat." mendengar itu semua langsung mengucapkan syukur.
Benarkan kata Eza, Alan itu kuat.
***
Pagi datang membawa keceriaan, menepis keraguan membawa bahagia.
Alan sudah membaik dan kini sudah mulai berkeras kepala. Baru saja sebentar berada di rumah sakit, Alan sudah memaksa untuk pulang.
"Kakak itu keras kepala." Alan menatap Melody dengan memelas. Tentu Alan tak tahan dengan rumah sakit ini, Alan tak suka. Lagipula lukanya sudah baik, sangat baik.
"Aku mau pulang!" Hei, dengar. Alan sudah mengubah kata-katanya, sekarang bukan lagi lo dan gue, tapi sekarang terganti jadi aku dan kamu. Bukankah itu sangat manis.
"Aku mau pulang!" Eza menirukan suara Alan dengan mengejek.
"Diam lo!" sentak Alan kepada Eza.
"Lagian sih tadi malam pake acara peluk-pelukan di rumah tua itu, berasa kayak film India yah? Untung aja lo gak kebawa maut Lan, untung." kata Eza dengan heboh.
Biarkan saja Eza jomblo, biarkan. Yang penting Eza bahagia.
"Lan, gue minta maaf soal kejadian kemarin!" Ijaz mendekat ke arah Alan dan tentu saja Alan masih kesal dengan Ijaz.
"Gue tonjok dulu. Oke?" singkat Alan dan benar-benar ingin melayangkan pukulan ke arah Ijaz.
"Kakak," tegur Melody sambil menatap malas ke arah Alan.
"Hm..." sialnya, kali ini Ijaz selamat, coba saja Melody tak menghalanginya, pasti si Ijaz akan mendapat hadiah dari Alan.
"Selamat." Ijaz tertawa kecil sambil mengusap wajahnya.
"Hampir aja lo tewas Jaz, hampir!" heboh Eza.
Sementara Alan hanya menatap jengah Eza dan Ijaz. Tak lama mata Alan pun teralih menatap Melody yang tengah tersenyum kepadanya. Dalam hati Alan tengah mencibir kesal. Senyuman Melody itu sangat menghanyutkan.
"Sayang?" panggil Alan dengan pelan. Dan itu membuat Eza semakin tak terhargai sebagai jomblo.
"Iya kak?"
"Mau pulang!" Melody menatap Alan dengan kesal. Si keras kepala dan Melody tak akan menuruti kemauannya untuk kali ini.
"Gak boleh kak." Alan kembali memasang wajah datar.
Kenapa semua orang menganggap jika Alan terluka parah? Hey, ini hanya satu luka tembakan saja. Dan bagi Alan itu sangat tak berarti, dan tentu saja Alan tak mau menghabiskan waktunya lebih lama di rumah sakit ini. Alan tak suka dengan rumah sakit dan semua obat-obatan yang ada di sini.
"Hahah si Alan ngambek itu." mendengar suara Gio, Alan tak mau menggubris.
Melody pun kian mendekat dan mengusap pelan rambut Alan dengan sayang. Kenapa Alan bisa sekeras kepala ini? Meskipun keadaannya membaik tapi, tentu saja dokter tidak akan membiarkan Alan pulang. Bahkan luka tembakannya pun masih basah, belum kering dan Alan sudah memaksa pulang. Dasar kebal.
Mendapat usapan lembut di rambutnya, Alan langsung menatap Melody dengan dalam. Di wajah Melody memang menampakkan senyuman yang manis, tapi tetap saja Alan tak tenang, luka yang ada di bibir Melody masih telihat, begitupun dengan pipinya yang masih agak membiru. Dan tentu saja Alan tak akan tinggal diam, paling tidak harus ada satu tonjokan yang mengenai wajah Ijaz, sebelum mereka berdamai. Itu untuk Ijaz, tapi jika untuk Ajeng, Alan memastikan hukumannya akan jauh lebih berat. Dikeluarkan dari sekolah? Sudah pasti. Dan tentu harus berhadapan dengan pihak berwajib.
"Apa sakit?" Alan mengelus pelan pipi Melody. Mendapat perlakuan yang sangat manis dari Alan membuat Melody tersenyum dan langsung menggeleng cepat.
Alan pun langsung tersenyum. Dan itu membuat Melody semakin bahagia.
"Bisa tolong hentikan semua ini? Gue gak tahan! Sesak ini, sesak!" Eza kembali menghancurkan suasana. Dan tentu saja Alan rasa-rasanya ingin melemparkan sesuatu ke wajah Eza.
"Apa?" Tanya Eza sok polos saat semua menatapnya dengan tajam.
"Colok nih matanya." dengus Eza.
"Bacot lo Za." akhirnya Eza dan Ijaz menarik Eza keluar, bukan menarik lebih tepatnya menyeret.
"Gue di luar Lan, mau cari makan dulu." teriak Gio dan berlalu keluar. Dan kini hanya ada Alan dan Melody.
Semuanya terasa canggung, entah mau memulai pembicaraan dari mana. Atau mau membahas apa? Tak ada yang mau memulai. Keduanya masih merasa canggung.
Jadilah keheningan yang mendominasi di sana.
***