ALAN: Different Season'S

ALAN: Different Season'S
Bertemu Moozy



"Jangan pergi jika tak niat kembali. Aku ini tipe orang yang sangat susah melepaskan."


***


Rumah  Alan sudah seperti kapal pecah, kehadiran Eza, Gio dan Ijaz semakin membuat rumah Alan menjadi tak berbentuk.


Dena juga datang, tapi Dena terlihat lebih tahu diri, berbeda dengan Eza, Gio dan Ijaz yang rasanya sudah tak punya rasa malu.


Hari ini Afraz, Papa Alan juga ada di rumah. Jadinya mereka semua berkumpul, rencananya akan membuat acara kecil-kecilan karena ini adalah hari kelulusan bersama.


Sementara yang lain sibuk di dalam rumah, Alan menuntun Melody keluar ke arah taman belakang Alan yang banyak di penuhi dengan bunga-bunga yang berwarna warni.


"Wah, indah banget..." Melody sedikit berlari dan menghampiri bunga-bunga yang di rasanya sangat indah.


"Kamu lebih indah!"


Melody menggigit bibir bawahnya gugup, itu yang sampai saat ini membuat Melody sangat tak bisa meninggalkan Alan. Sikapnya yang kadang tak bisa di tebak, kadang dingin dan kadang sangat manis seperti ini.


"Gombal." Melody memilih duduk di sebuah ayunan kecil yang ada di taman Alan.


Alan hanya tertawa pelan. Lalu mendekat ke arah Melody, mendorong ayunan Melody dengan pelan. Hingga tubuh Melody terayun ke depan belakang, bersamaan dengan rambutnya yang terurai dan kini berterbangan. Bukankah itu pemandangan yang sangat indah.


"Hahahah..." tawa Melody adalah tawa yang paling menenangkan bagi Alan. Tawa itu akan Alan rindukan nantinya.


"I love you Melody-nya Alan."


"I love you too kak Alan-nya Melody."


Mendengar itu Alan langsung menahan ayunan tersebut dan memeluk Melody dari belakang. Merasakan setiap kenyamanan yang sangat Alan senangi.


Alan menciumi rambut Melody dengan pelan.


"Kakak..." panggil Melody dengan bergetar. Tentu Alan yang mendengarnya bingung.


"Kenapa sayang?"


Melody semakin gemas dan takut.


"Di kaki Melody ada apa? Kok kayak berbulu gitu..."


Alan tersenyum kecil. Itu Moozy, kucing Alan. Apa kalian baru tahu, jika Alan punya satu kucing kesayangan.


"Itu Moozy."


"Moozy? Kucing?" tanya Melody dengan kegugupan yang semakin bertambah.


"Iya sayang."


Melody langsung lari dan melompat ke pelukan Alan, mengalungkan tangannya ke leher Alan dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Alan.


"Gak mau kenalan?"


Melody menggeleng cepat.


"Baik kok si Moozy ini."


Sebaik-baiknya Moozy, tetap saja Melody takut.


"Ayo gak apa-apa kok!"


Alan berjalan mendekat, dan menurunkan Melody di dekat Moozy, tentu saja Melody menolak. Melody tak mau.


"Melody gak mau kak..." rengek Melody.


"Coba kenalan dulu."


"Gak." singkat Melody, melihat itu Alan tersenyum. Lalu bergerak medekat ke arah Moozy dan menggendongnya, membawanya lebih dekat ke arah Melody.


"Jangan deket-deket kak!"


Alan tak peduli, Alan terus mendekat dan Melody semakin takut dengan Moozy si kucing.


Berbeda dengan Moozy yang nampak sangat senang bertemu dengan Melody.


"Halo... Melody-nya Alan." itu suara Alan yang seolah-olah itu suara Moozy yang menyapa Melody.


Melody mengerjapkan matanya berkali-kali, Alan pun menurunkan Moozy dan membiarkan Moozy mendekat ke arah Melody.


Melody masih sedikit gugup, tapi merasakan Moozy yang tengah menggesek-gesekkan bulunya ke kaki Melody membuat Melody tertawa pelan. Ini tak seburuk yang Melody pikirkan. Moozy jinak.


"Ih, kok gemes..." seketika ketakutan Melody hilang, langsung saja Melody menunduk dan mengelus Moozy dengan pelan.


Moozy seolah-olah merespons dengan menyambut uluran tangan Melody.


Tiba-tiba saja Melody ingin mempunyai kucing. Tapi kucingnya harus seperti Moozy, yang baik dan jinak.


Melody menatap Alan yang berdiri di hadapan Melody, Alan terlihat tersenyum kecil seolah-olah mengatakan jika benarkan, Moozy itu baik.


"Moozy kok baik yah kak?" Melody menatap Moozy yang kini tengah bermain dengan rumput hijau yang bergoyang-goyang.


"Pemiliknya ganteng jadi gitu."


"Sok ganteng dasar." cibir Melody, meski itu kenyataan jika Alan itu ganteng.


"Aku emang ganteng." ayolah, Alan tak sombong, tapi ini kenyataan. Alan itu ganteng.


"Moozy itu cewek apa cowok?"


"Pertanyaannya salah, sayang."


"Hah?" Melody mengerutkan alisnya bingung.


"Mestinya kalau untuk binatang itu, jantan atau betina. Bukan cewek atau cowok."


Melody tersenyum kaku. Lalu menatap Alan dengan kagum. Rupanya pria itu banyak mengetahui hal-hal yang Melody tak ketahui.


"Jadi, Moozy itu?"


"Jantan." singkat Alan dan menuntun Melody untuk berjalan ke arah kursi taman yang ada di bawah pohon.


Melody pun menurut dan berjalan di samping Alan. Tentu saja dengan tak lepas dari gandengan tangan Alan yang sangat terkesan posesif.


Alan menuntun Melody duduk di kursi itu, Alan langsung meraih kepala Melody dan membawa Melody ke dalam dekapannya.


Biarkan ini begini saja, hentikan waktu. Dan mereka akan bersama selamanya.


"Kak besok kita ke pantai kan?"


"Hm..."


"Main air bareng yah kak?"


"Hm..."


"Eh, aku mau main pasir juga. Aku mau ngubur kakak juga di sana, ups..." Melody membekap mulutnya dengan kedua tangannya.


Alan yang mendengar itu hanya mampu tersenyum kecil, di kubur pun tak apa, asalkan Melodynya bahagia.


"Kak?"


"Hm..."


"Kok jawabnya itu mulu..." kesal Melody dan mencubit pelan perut Alan.


Alan meringis kecil. "Sakit sayang.."


Melody tak menggubris. Melody hanya diam. Bukan karena apa. Ada rasa sesak yang menyerang di dalam sana. Ini bukan waktu yang tepat untuk merasakan sakit. Melody tak mau terlihat lemah. Demi apapun, tolong kuatkan Melody.


Melody sedikit menekan dadanya yang terasa sangat sakit dan sesak. Jantungnya, tak boleh seperti ini. Dia harus berdetak normal. Hanya sampai besok saja, Melody ingin itu. Dan jika besok telah berlalu, jika memang jantungnya ingin berhenti berdetak maka tak apa, setidaknya Melody sudah merasa cukup, meski akan banyak hal yang akan ia tinggalkan.


Melody membuka mulutnya untuk bernafas sedikit, setidaknya itu lebih melegakan. Melody harus menahan, tak boleh lemah.


"Pacarannya pending dulu woy. Sekarang ayo makan! Lo berdua jangan bikin gue jadi jomblo yang gak berfaedah!" teriak Eza dari jauh, tapi suaranya masih terdengar nyaring.


"Suara gue itu mahal."


Mungkin Eza akan turun tangan jika Melody dan Alan tak menggubrisnya.


Eza menyipitkan matanya tak suka, Eza kembali merasa terabaikan dan itu sangat tak enak.


"Lo berdua mau gue seret?" dengus Eza.


Mendengar itu Melody langsung berdiri, sebisa mungkin harus terlihat baik-baik saja.


Melody berlari kecil meninggalkan Alan dan mendekat ke arah Eza.


"Jangan lari-lari sayang..." teriak Alan saat melihat Melody berlari kecil.


Tapi, Melody tak menggubris. Melody terus saja berlari dan jangan salahkan Alan yang ikut berlari juga. Mengejar Melody yang sudah agak jauh di depannya.


"Stop main India-Indiaan." tegur Eza dan berlalu masuk ke dalam rumah Alan.


Melody dan Alan hanya mampu tertawa kecil melihat reaksi Eza, apa itu efek jomblo dan gagal move on dengan mantan?


Entahlah yang pasti itu terlihat sangat menyedihkan.


"Jangan ketawain gue." kata Eza dengan teriakan yang semakin membuat Melody dan Alan tertawa.


"Kampret!"


***