
"Sahabat, bukan satu kata tanpa arti. Karena, sahabat itu satu kata pelengkap yang berarti."
***
"Ini gara-gara elo kampret!" Eza mendengus kesal saat melihat Alan masuk dengan santainya ke dalam ruang kelas.
"...."
"SiAlan, gue di kacangin!"
"...."
"Lan, lo mau gue tabok pake rok cabe-cabean kriting?"
"...."
"Alaaaaaaaannn!" teriakan Eza menggema di ruang kelas, membuat semua mata tertuju pada Eza.
"...."
"Ya Allah, berikan hamba-mu ini kesabaran, agar hamba selalu kuat menghadapi Es batu ini." Eza menengadahkan kedua tangannya berdoa.
"Gak guna lo ngomong sama si Alan, gak bakal di respons!" mendengar ucapan Gio, Eza hanya menarik nafas lelah.
Kalian bayangkan, bagaimana rasanya saat ketangkap basah sedang ingin bolos?
Rasanya sangat luar biasa guys, lo di kejar-kejar guru BK, di teriakin sana-sini.
"Lo juga sih Za, ngapain tadi lo malah jatuh gitu. Malah jatuhnya ala-ala slow motion lagi, malu-maluin."
"Lo pikir gue sengaja jatuh gitu?"
"Lagian ini tuh salah Alan, kenapa coba dia ngajakin kita bolos?"
"Kita yang ****, mau-mau aja di ajakin bolos."
"Bener juga yah? Eh tapi, kagak."
"Ngomong apaan sih loh?"
"Duduk, duduk, gue mau nagih kas kalian minggu ini." Suara itu membuat semua orang yang ada di kelas memutar bola mata malas.
"Lo bisa gak sih nagih di saat yang tepat!" protes Eza sambil menekuk wajahnya.
"Bodo amat, lo bertiga awas kabur lagi! Gue tabokin lo ntar." Mina adalah contoh Bendahara Zaman Now yang tidak pernah gagal menagih kas.
"Tahu aja kalo kita-kita mau kabur." Gio tersenyum mengejek.
"Kagak! Lo duduk dan sekarang bayar." kata Mina lalu menatap tajam ke arah Eza, Gio dan Alan.
"Kok tiba-tiba gue kebelet yah, aduh, aduh, gue mau ke toilet bentar yah! Entar gue kagak balik lagi deh, janji, ups..." Gio merutuki kebodohan Eza, kalau mau kabur kenapa harus jujur? Sudah pasti Mina kampret ini tidak akan membiarkan mereka lolos.
Mina memutar bola mata lagi, kali ini ia benar-benar jengah. Mina selalu mengalami kesulitan saat menagih uang kas pada 3 terong-terongan goceng ini.
"Bayar gak!"
Alan yang jengah langsung mengeluarkan uang sepuluh ribu sebanyak tiga lembar.
"Gue bayarin."
"Demi apa? Ya ampun Alancu baik banget" Eza merentangkan kedua tangannya ingin memeluk Alan, tapi Alan malah menghindar.
"Udah sono lo pergi!" usir Gio kepada Mina.
"Iya, ini gue mau pergi setan." dengus Mina dan berlalu.
"Gue kok merasa kalau si Mina itu mulai meras kita yah?" mendengar ucapan Eza, Gio kembali bertanya malas.
"Maksud lo?"
Pletak...
"Itu kan tugas dia sebagai benahara, **** lo." benar-benar, emosi Gio harus di tahan jika sudah berhadapan dengan Eza.
"Besok-besok gue mau deh jadi bendahara!"
"Dan gue bakal pastiin, seisi kelas ini gak akan mau milih lo jadi bendahara. Lo bisa-bisa korupsi."
"Kagak lah, demi kedamaian kelas ini, malah gue akan hapus kas akhir minggu yang lo pada harus bayar. Baik kan gue?" Iya, Eza merasa itu adalah ide terbaik, dari yang terbaik.
"****!" dengus Gio kesal.
"Panggilan kepada Alan Afraz, Gio Derfandy dan Reza Hendriawan. Untuk segera datang ke ruang BK, di cariin noh sama ibu Nuri." sang ketua kelas datang dengan wajah masamnya. Menatap malas ke arah tiga pembuat onar yang selalu membuatnya jadi bahan ejekan di ruang BK.
"Ngapain?" Tanya Eza.
"Lo pikir sendiri aja, apa lagi yang lo bertiga lakuin. Sumpah demi apapun, gue malu banget punya teman kelas kayak kalian. Bikin gue menderita, gara-gara bolak-balik ke ruang BK, cuman buat ngurus lo bertiga. Kampret gak tuh?!"
Bukannya merasa bersalah, Eza malah tertawa terbahak-bahak.
"Lo pengen gue timpuk pake meja Za?" kesal Dafa saat melihat Eza malah tertawa.
"Iya sih, sabar napa!" Gio pun berlalu dan menepuk bahu Dafa pelan.
"Si Dafa itu lagi PMS, makanya jadi galak-galak manja gitu..l" Eza kembali cekikikan melihat tampang tak bersahabat yang di tampilkan ketua kelasnya itu.
"Lo bertiga keluar sekarang! Gue malas liat muka lo bertiga." Dafa berlalu ke tempat duduknya sambil masih memasang wajah yang tak bersahabat.
"Gue kok pengen nabok yah!" Gio menarik Eza yang hendak menjaili Dafa.
"Udah ayo! Nanti kita malah di cincang sama ibu Nuri."
Akhirnya Gio dan Eza manarik Alan yang nampak dengan sengaja memalaskan dirinya untuk bergerak.
***
Ibu Nuri terlihat menahan emosinya. Bagaimana tidak, tiga bocah kelas duabelas yang sudah menjadi langganan di ruang BK, kini membuat ulah lagi.
Setelah gagal memanjat tembok sekolah untuk bolos, Alan dan kawan-kawan malah membuat sebagian guru BK mengalami sesak nafas gara-gara mengejar mereka.
"Saya sudah lelah melihat tampang kalian." Ibu Nuri menghela nafas dalam-dalam.
"Tutup mata bu, kami tahu tampang kami emang luar biasa ganteng, jadi udah pasti ibu gak kuat. Sabar yah bu." Eza merapihkan rambutnya dengan jari-jari tangannya.
Ibu Nuri yang mendengar Eza kembali menarik nafas gusar. "Kalian bertiga, ah sudahlah, saya gak tahu harus ngomong apa lagi."
"Saya jualan kata-kata kok bu, mau beli?"
"Kamu ini..." Ibu Nuri menahan tangannya agar tak menjewer Eza.
"Sebagai hukuman, saya minta kalian bersihkan lapangan upacara."
"Biasa banget! Gak ada yang lain apa bu?" protes Eza, memang itu hukuman yang sudah biasa untuk mereka. apa salah jika Eza ingin mencoba hukuman lain.
"Iya bu, saya aja bosan. Yang lain dong bu..." setuju akan protesan Eza, Gio pun kembali mengajukan ketidak setujuannya.
"Di sini siapa yang mau ngehukum? Saya kan? Terus kenapa kalian protes?" emosi Ibu Nuri sudah sampai di atas rata-rata, tunggu saja beberapa menit. Maka yakin Ibu Nuri akan melahap tiga pentolan sekolah ini.
"Sebagai generasi muda, kami berhak dong untuk berpendapat! Iya gak?" Gio mengangguk cepat.
"Iya terserah kalian aja. Sana keluar. Atau saya robek tuh mulut kalian."
Alan langsung berdiri, sedari tadi memang ia merasa sudah jengah dengan perdebatan yang tak berfaedah sama sekali.
Apa salahnya jika Alan ingin bolos? Apa salah. Ah sudah pasti salah, semua guru BK akan menggotong Alan jika Alan menanyakan pertanyaan bodoh itu.
***