
"Kamu, adalah kesibukan termenyenangkan yang membuatku sampai lupa akan waktu."
***
Di hari minggu, apa yang bisa Melody lakukan?
Ingin berkencan?
Hampir saja Melody melupakan statusnya yang telah lama kekal abadi melekat dalam dirinya, yaitu : Jomblo selama 17 Tahun. Bayangkan, bagaimana tragisnya kisah percintaan yang dialami oleh Melody.
Dan, disinilah sekarang Melody berada 'Tempat tidur ' sambil berguling guling tak jelas dengan memeluk bantal guling yang bermotif kartun kartun lucu nan menggemaskan.
Argghh...Baper! sambil memeluk bantal guling, Melody terus saja cengar-cengir sendiri menatap layar handphone-nya, *******. Yah, Melody tengah membaca salah satu cerita yang dapat membuat perasaannya jungkir balik tak karuan, moodnya memang benar-benar tergantung pada Aplikasi yang memuat berbagai macam cerita yang beraneka ragam dengan berbagai genre di dalamnya.
"Melo, banguuun! Ini udah siang, gak baik anak gadis bangun kesiangan mulu!" tiba tiba saja suara nyaring itu menembus gendang telinga Melody. Suara itu berasal dari pintu kayu yang masih tertutup rapi. Dan sudah pasti suara itu berasal dari Nesa, Ibunda Melody.
"Iya bun, ini Melody udah bangun kok." teriak Melody sambil langsung bangun dan duduk bersila di atas kasur, handphone-nya ia telantarkan di atas meja belajarnya.
"Cepetan mandi!" dengan malas Melody melangkah turun dari kasur empuknya, rasanya tak rela harus meninggalkan si empuk yang menenangkan itu.
Tapi mau apa lagi? Handphone-nya sudah mati karena lowbat. Di tambah lagi, teriakan Bundanya sudah menggelegar keras. Tak ada pilihan lain selain bangun dan bergegas untuk mandi.
Melody melangkah masuk ke dalam kamar mandi, jangan tanya ingin apa? Sudah pasti jawabannya ingin mandi.
Melody tak memerlukan banyak waktu untuk mandi, hanya berkisaran 30 menitan lebih, lalu setelah selesai mandi, Melody bergegas memakai baju santai dan langsung memunguti bantal yang berjatuhan di lantai. Membereskan tempat tidurnya yang sudah berantakan seperti kapal pecah, kemudian Melody langsung mengambil Handphone-nya yang sempat ia telantarkan tadi.
Kok bisa lupa sih! Hari ini belum ngucapain Good Morning ke...Alan!
Langsung saja Melody mencas hidup Handphone-nya, kemudian mengetikkan pesan singkat kepada seseorang yang menurutnya sangat penting untuk hatinya.
Good Morning:)
Begitulah pesan singkat yang sempat Melody kirimkan pada seseorang tersebut.
Lama tak ada balasan, Melody menghela nafas gusar.
Kapan sih, kamu bisa bales chat singkat aku?
Dengan pelan Melody meletakkan Handphone-nya di tempat pada awalnya lalu berlalu keluar kamar, karena rasanya cacing-cacing mungil yang ada di dalam perut Melody sudah melakukan konser mini di dalam sana, jika di biarkan terlalu lama maka bisa-bisa akibatnya akan fatal, bisa saja perut Melody robek. Bahaya kan?
***
"Hello...Everybody!!! Babang Eza udah dateng nih!" suara absurd itu membuat sang pemilik kamar memutar bola mata jengah.
"Gaya lo!" satu lagi, suara itu kembali mengganggu pendengaran Alan, sang pemilik kamar.
Yang pertama tadi, itu suara Eza, si biang kerok, yang tinggal di Planet Pluto, yang kalau ngomong kadang absurd kagak jelas.
Nah, suara kedua itu, suaranya sih Gio, cowok labil yang gak jauh beda sifatnya kayak si Eza, tapi tetep aja mereka itu ada gunanya walau kadang-kadang ngeselin.
"Morning Alan kuuuh...." teriak Eza, sambil mengedipkan matanya genit, Eza berusaha menggoda Alan.
"Mata lo kenapa Za?" seolah tak mengerti dengan tingkah absurd Eza, Alan langsung membuka suara. Tentu saja, pertanyaan singkat Alan itu mampu membuat Gio menangis karena tertawa, sementara Eza langsung mencibir.
"Es batu kurang micin." cibir Eza sambil memanyunkan bibirnya.
"Hahaha.....****!!! Lucunya.." Gio menghapus setitik air mata harunya karena tertawa melihat kepolosan Alan yang digoda oleh Eza tapi sama sekali otak lelaki dingin yang bernama Alan itu tak mampu mencerna ucapan ajaib yang keluar dari mulut Eza.
"Diem lo setan!" sentak Eza dengan kesal.
"Mata lo kenapa tadi? Kelilipan pesawat?" sindir Gio sambil masih menahan tawa.
"Bacot lo..." Eza langsung menjatuhkan dirinya di atas kasur empuk milik Alan, dan tingkah Eza tersebut kembali membuat Alan mendesis kesal.
Saat sudah terkapar di atas kasur empuk Alan, tiba-tiba saja Handphone Alan terlihat berkedap-kedip, dengan segenap rasa kepo, Eza langsung menatap lekat notif yang baru saja masuk di Handphone Alan.
"Good Morning...." pekik Eza heboh sendiri. Tentu saja Alan dan Gio langsung memfokuskan pandangannya ke arah Eza yang masih terkapar di kasur Alan.
"Apasih lo...." tegur Gio sambil memasang wajah kesal.
"Taruh hape gue..." baru hendak membalas pesan singkat yang tadi Eza baca, namun kembali terurung karena suara tegas Alan yang tak terbantahkan itu.
"Ini nih ada yang ngechat....." gumam Eza sambil menyodorkan benda pipih berwarna putih berselimutkan logo club sepak bola, Barcelona.
Alan segera meraih Handphone-nya dan menatap lekat satu buah pesan, atau chat atau apalah yang kalian mau sebutkan, terserah.
Good morning..., Alan memutar bola matanya jengah saat selesai membaca pesan singkat itu, dengan cepat Alan menghapus pesan yang tak penting itu, lalu membuang Handphone-nya ke atas kasur.
"Bazeng, muka imut gue kena timpukan lo ini Lan." Eza langsung bangun dari tidurnya dan langsung duduk bersila sambil meringis.
"Muka imut? Aelah, muka kayak papan reklame aja bangga!!!" dengan remeh Gio langsung mencubit betis Eza.
"Aww....sakit ****!" teriakan nyaring itu kembali membuat Alan memutar bola matanya jengah. Pasti keadaan kamarnya akan selalu berantakan jika sudah kedatangan dua makhluk yang tak tentu seperti Eza dan Gio.
"Alan Afraz, dengarlah aku, demi apa pun, apa yang kamu lakukan itu..., JAHAT. Tega-teganya dikau tak membalas pesan singkat dari dia." dengan dramatis Eza kembali mencoba mengingatkan bahwa apa yang di lakukan oleh Alan itu salah.
Bodo, toh ini semua gak berpengaruh buat perasaan gue. Tuh orang mau sakit hati kek, terserah! kata Alan membatin.
"Yah, kacang!" sahut Gio sambil menampilkan wajah kesalnya.
"Untung gue sabar..." Eza langsung mengelus dadanya dengan pelan, sebenarnya sudah terbiasa seperti ini, berbicara dengan Alan, tapi tak mendapat respons.
"Lan..., lo jangan gitu lah, kasian tau tuh adek kelas, abis lo buat baper! ehh malah lo tinggal." kini giliran suara Gio yang mengganggu pendengaran Alan.
"Gue gak pernah buat dia baper!" ketus Alan dan langsung berlalu pergi memasuki kamar mandi.
"Gak pernah katanya!" ulang Gio sambil tertawa hambar.
"Emang gak pernah sih, tapi rasanya gara-gara waktu itu deh, adek kelas itu mulai suka sama si Alan." sambil mengingat kepingan-kepingan kejadian lampau itu, Eza mengetuk-ngetukkan tangannya di kepalanya.
"Yang mana?" dengan gusar Gio menanyakan kejadian yang di maksud oleh Eza.
"Yang itu, pas si Alan main Truth Or Dare bareng kita dan si Alan kepojok langsung deh milih Dare. Akhirnya kita ngasih tantangan ke Alan buat ngasihin bekal ke adek kelas itu, dan semenjak saat itu, adek kelas itu langsung sering banget deketin si Alan." jelas Eza singkat.
"Oh iya, gue inget!" gumam Gio pelan.
Setelah itu, tak ada percakapan antara keduanya, semuanya sama-sama sibuk dalam aktivitas masing-masing.
***