ALAN: Different Season'S

ALAN: Different Season'S
Bertambah Kecewa



"Ini fakta, jika 99% perempuan itu tak suka di bentak."


***


Melody terlihat sangat sibuk membereskan peralatan tulisnya dan memasukkan buku-buku ke dalam tasnya.


Keadaan kelasnya sangat sepi, kini tersisa Melody saja. Semua sudah pulang sedari tadi, dan Melody memilih terdiam lebih lama di dalam kelas agar Melody tak bertemu Alan saat pulang.


Melody harus cepat beregas, karena baru saja Melody dapat kabar jika Satya tidak dapat menjemputnya karena masih ada urusan di kampus. Jadilah Melody harus pulang dengan menggunakan taxi atau angkot.


Melody melangkahkan kakinya dengan santai keluar kelas, tapi pandangannya terhenti pada sosok yang tengah berdiri di ambang pintu sambil memasang wajah dingin, dengan kedua tangan yang di silangkan di depan dada.


Melody dengan susah payah meneguk salivanya. Entahlah, ada rasa yang bergejolak di dalam hatinya.


Langkah Melody pun terhenti saat Handphone-nya bergetar, dengan cepat Melody pun membuka 1 notif Whatsapp yang baru saja masuk di handphone-nya.


Mata Melody menyipit saat melihat ada 2 foto yang menampakkan Alan di sana sebagai objek.


Foto pertama, di situ Alan terlihat meneguk minuman, yang Melody yakini minuman haram karena terlihat dari suasana foto itu saat di ambil. Suasananya menunjukkan aktivitas yang ada di dalam Club malam.


Apa ini sebabnya kenapa Alan tadi malam melupakan janjinya?


Foto kedua, entahlah kapan foto itu di ambil, di dalam foto itu Alan terlihat berpelukan dengan seorang cewek yang memakai seragam sekolah yang sama dengan dirinya dan Alan. Bedanya seragam cewek itu terlihat kekecilan dan sangat ketat. Foto itu di ambil dari samping, jadi hanya wajah alan yang Melody bisa kenali.


Kedua foto itu nyatanya mampu menambah tingkat kekekcewaan Melody. Hatinya berkecamuk tak rela.


Alan ingkar janji, katanya Alan tak akan pernah meneguk minuman haram itu. Katanya Alan akan berubah tapi itu apa? Itu bukti yang memperjelas semuanya. Sekarang apa boleh mempertanyakan keseriusan Alan padanya?


Yang paling membuat Melody sakit adalah foto yang menampilkan saat Alan berpelukan dengan cewek yang berpakaian mini. Apa-apaan itu? Sebenarnya Alan itu serius dengannya atau tidak?


Jika hanya singgah untuk menyakiti, lebih baik sekarang pergi. Karena hati ini tercipta untuk di jaga, bukan di sakiti.


Dan apa yang Alan lakukan itu sangat menyakiti Melody dengan parah. Kekecewaannya ternyata bertambah hanya dengan melihat kedua foto itu.


Alan yang melihat raut wajah Melody yang berubah langsung mendekat dan merebut handphone Melody.


Melody tak berkutik, Melody hanya diam. Biarkan, biarkan Alan liat itu, biarkan Alan tahu jika Melody sudah melihat semuanya.


Sekarang yang harus Melody lakukan adalah menahan diri dan menahan air matanya agar tak terjatuh. Ia harus kuat, meski di dalam sana, hatinya sangat rapuh.


Apa cinta harus serumit ini? Kenapa ketika kita mencinta, kita juga harus merasakan sakit dan kecewa? Kenapa tidak bahagia saja? Itu tidak adil.


Rahang Alan terlihat mengeras, menandakan jika Alan tengah menahan emosi. Tangan Alan mengepal kuat.


"Kakak ingkar janji dan kakak selingkuh." Melody mengucapkan itu dengan nada yang bergetar menahan tangis.


Hati Melody di penuhi dengan sesak. Semuanya terasa sakit.


"Gue emang ingkar janji, tapi gue gak selingkuh!" Alan berusaha menahan amarahnya yang sudah tak tertahan.


Melody menggeleng kuat, jelas-jelas di foto itu Alan berpelukan dengan cewek lain. Apa itu belum cukup untuk membuktikan jika Alan selingkuh?


"Bohong, Kakak itu selingkuh! Kakak pikir Melody bodoh, foto itu cukup jelas kak. Cukup jelas sebagai bukti, kalau kakak selingkuh."


Alan menatap Melody dalam, jelas terpancar di bola mata cokelat terang Melody kekecewaan yang dalam untuk Alan.


"Melody gak sebodoh yang kakak pikir. Mungkin Melody masih bisa maklumin saat kakak lupa kalau kakak udah buat janji sama Melody, tapi kakak ingkar. Kakak ngebuat Melody nunggu sampe berjam-jam sampe kehujanan, Melody bisa coba untuk ngerti. Tapi saat lihat foto kakak pelukan sama cewek lain Melody gak bisa apa-apa lagi kak! Kakak udah buat Melody kecewa."


"Gue gak selingkuh." tegas Alan.


"Kakak selingkuh, dan foto itu udah jadi bukti."


Prang...


Alan membanting Handphone Melody dengan keras ke lantai. Hingga benda pipih itu sudah tak berbentuk lagi, layarnya retak dan hancur. Sama seperti hati keduanya.


"Gue gak pernah selingkuh, harus berapa kali gue bilang." kali ini suara Alan naik beberapa oktaf, Alan membentak Melody hingga Melody sedikit tersentak karena kaget mendengar bentakan Alan.


Ini yang pertama sejak beberapa bulan lalu, sebelum mereka menjalin hubungan.


Dan Melody sama dengan perempuan lainnya, yang sama-sama tak suka di bentak.


Runtuh sudah pertahanan Melody, air matanya sudah mengalir di pipinya. Bibirnya bergetar hebat. Dan itu malah membuat Alan semakin merasa bodoh karena tadi ia kelepasan membentak Melody.


"Kakak jahat." cicit Melody dengan tangis yang sudah tak tertahankan. Dengan secepat mungkin Melody berlari sekuat tenaga untuk menjauh dari Alan.


Melody terus berlari, tak peduli dengan Alan yang berusaha menegejarnya. Melody tak peduli.


Melody terus mengikuti langkah kakinya, mengikuti kemana yang kakinya inginkan. Melody hanya ingin ketenangan, tanpa Alan untuk sesaat, karena Alan telah melukai Melody dengan tega.


Tak terasa langkah kaki Melody membawa cepat Melody ke arah gerbang sekolah. Tak mau membuang waktu, Melody semakin menambah kecepatan larinya.


Selama berlari air mata Melody tak berhenti mengalir, entahlah semuanya terasa tak adil untuk Melody.


Apa secepat ini Alan berubah? Secepat ini Alan berpaling? Kenapa Alan berubah menjadi jahat seperti ini.


Tanpa Melody sadari, sebuah mobil hitam tengah terparkir di depan gerbang. Pemilik mobil hitam itu menatap Melody dengan senyum licik.


Saat Melody sudah semakin mendekat, pemilik mobil hitam itu turun dan berlari ke arah Melody. Membekap mulut Melody dengan sapu tangan yang sudah di beri obat bius.


Melody yang kaget hanya pasrah saat sapu tangan itu membekap mulutnya, hingga merenggut kesadaran Melody. Semua terasa gelap. Tapi satu yang mampu Melody dengar saat matanya sudah tertutup rapat.


"Melody..." teriakan Alan yang masih terngiang di telinga Melody. Sebelum semuanya tak mampu Melody rasakan, Melody pingsan.


Pemilik mobil itu berpakaian hitam-hitam dengan topeng yang menutup rapat wajah aslinya.


Tanpa mau berlama-lama, pemilik mobil hitam itu langsung menggendong Melody, membawanya masuk ke dalam mobil. Lalu berlalu dan membawa mobil dengan kecepatan di atas rata-rata.


Alan yang melihat kejadian buruk itu langsung merutuki dirinya sendiri.


Kejadian buruk itu menimpa Melody dan itu karena Alan. Coba saja Alan tadi tak membentak Melody, pasti semuanya akan baik-baik saja. Alan dan Melody akan baikan, akan seperti dulu lagi dan tidak akan terjadi hal yang buruk ini.


Alan langsung berlari ke arah parkiran untuk mengambil mobilnya yang terparkir di sana.


Kemudian Alan mengemudi dengan kecepatan di atas rata-rata mencoba mencari Melody. Dan untuk itu, Alan rela mengelilingi dunia hanya untuk bisa menemukan Melody.


Pikiran Alan bercabang, ketakutan menyerang dirinya, Alan tak mau Melody terluka dan bisa Alan pastikan, orang yang mencuri Melody akan habis di tangannya.


***