
"Apa dia sudah menghubungimu?" Matthew nampak sudah tidak sabar untuk mendapatkan informasi terkait Irina. Apakah wanita itu mau ia ajak tidur bersama kembali.
"Aku sudah menghubunginya. Tapi dia belum memberikan aku jawaban." Jawab Matias, seorang pria penyedia jasa wanita panggilan. Yang sudah menjadi langganan Matthew di saat ia sedang ingin tidur dengan seorang wanita.
"Aku butuh dia malam ini juga. Jika dia bersedia tidur dengan ku malam ini. Bilang padanya aku akan memberikan berapa saja uang yang dia minta." Matthew sepertinya sudah putus asa dengan keinginannya untuk kembali bercinta dengan Irina.
Dan kini ia mulai frustasi. Karena buruannya sepertinya agak jual mahal. Dan ia tidak kunjung mendapatkan kabar untuk bisa bertemu lagi dengan wanita yang sudah menjadi candu baginya tersebut.
"Aku akan mencoba untuk membujuknya. Beri aku waktu beberapa menit." Jawab Matias.
"Aku tunggu." Jawab Matthew dengan nada kesal.
Siang itu, Irina yang sedang berada di kampus. Terlihat sedang makan siang di cafetaria. Ia hanya sendirian disana.
Saat ia sedang menikmati makanannya. Sebuah bunyi notifikasi pesan, masuk ke ponselnya. Irina pun kemudian mengecek isi pesan masuk tersebut.
"Bos ingin bermain denganmu malam ini. Jika kau bersedia, cepat kabari aku. Ini adalah kesempatan mu yang terakhir. Tidak akan ada orang yang mau membayar mu tinggi kecuali bos. Cepat berikan aku jawaban jika kau siap malam ini." (Matias) Irina nampak berfikir.
Kesempatannya untuk bisa melunasi hutang-hutang itu adalah besok malam. Jika besok malam ia belum juga melunasi hutang tersebut. Maka hutang itu akan berbunga dua kali lipat.
Setelah berpikir, dengan memejamkan kedua matanya. Irina kemudian membalas pesan tersebut.
"Baiklah, aku bersedia melayaninya. Di mana aku harus mendatanginya?"
Kabar tentang kesediaan Irina untuk kembali mau tidur dengan Matthew menjadi kabar gembira bagi pria berusia 27 tahun tersebut.
Dengan senyum yang mengembang sempurna. Matthew sangat puas karena ia berhasil membooking kembali Irina untuk menjadi teman tidurnya malam ini.
Matthew kemudian segera mencari hotel berbeda dari yang pernah ia pakai sebelumnya.
Dan di sebuah hotel eksklusif VVIP. Matthew memesan secara ekslusif sebuah kamar hotel mewah yang akan ia dipakai malam nanti.
"Ma, malam nanti Irina izin tidak pulang. Ada urusan penting yang harus Irina kerjakan bersama teman. Jadi Mama tidak usah tunggu Irina pulang." Ucap Irina pada mamanya. Kala ia menghubungi Mamanya lewat panggilan telepon.
"Kamu menginap di rumah siapa Na?"
"Di rumah Maya Ma." Jawab Irina berbohong.
"Ya sudah, hati hati ya Nak. Ingat pesan Mama. Jaga dirimu dengan baik. Hanya kamu yang bisa menjaga dirimu Nak."
"Iya Ma." (Panggilan berakhir)
"Jam delapan malam kamu sudah harus berada di hotel A. Karena bos sudah menunggumu di sana. Nanti ada sopir pribadi yang akan menjemput mu. Ikutlah dengan sopir itu. Dia adalah suruhan bos." Ucap Matias pada Irina melalui sambungan telepon.
"Oke." Jawab Irina singkat.
Tepat jam lima sore. Sebuah mobil Mersi mewah berwarna hitam berhenti di depan halte bus yang ada di sisi jalan di dekat kampus tempat Irina berkuliah.
"Nona Irina?" Sapa seseorang yang keluar dari mobil mewah tersebut.
"Iya." Irina yang sudah tau jika sang sopir adalah suruhan seseorang untuk menjemputnya. Tak banyak bicara Irina pun langsung masuk ke dalam mobil mewah tersebut.
"Saya di suruh berikan ini pada Non." Seseorang itu kemudian memberikan sebuah amplop kecil pada Irina.
Irina pun menerima amplop tersebut dan kemudian langsung mengecek isinya. Sebuah kartu akses masuk kamar hotel lah yang ternyata ada di dalam amplop itu. Ada pula selembar kertas yang tertuliskan sesuatu di sana. Irina pun kemudian membaca pesan itu.
Masuklah ke kamar hotel dengan mengunakan kartu akses masuk itu. Jangan lupa tekan tombol dan masukan kodenya XXXXX. Tunggu aku di dalam kamar hotel sampai aku datang. Ingat, jangan menyalakan lampu utama. Singgap saja kordeng kamar hotel agar ruangan kamar tidak terlalu gelap. Sampai jumpa nanti malam Irina.
Itulah pesan yang Matthew tuliskan di kertas itu untuk Irina.
Berapa hinanya aku.
Aku berjanji pada diri ku sendiri. Jika kali ini adalah yang terakhir kalinya aku jual diri.
Dalam keadaan terdesak apapun. Aku tidak akan pernah melakukan dosa seperti ini.
Tepat jam delapan malam. Irina telah sampai di hotel. Dengan mengunakan akses cart yang telah ada di tangannya. Irina segera masuk kedalam kamar hotel.
Sesampainya di kamar hotel. Irina tidak mendapati siapapun di sana.
Setelah sejenak Irina mengamati seisi ruangan. Irina mencoba untuk berjalan menuju ke arah jendela di kamar hotel. Kemudian ia menyingkap kordeng kamar hotel. Sehingga cahaya malam hari dari luar sana kini menjadi satu-satunya penerapan samar samar kamar hotel.
Setelah itu, Irina duduk di sebuah sofa panjang yang ada di kamar untuk menunggu pria telah membelinya malam itu.
Satu setengah jam kemudian. Matthew kini telah sampai di hotel. Dengan menggunakan kartu akses masuk miliknya. Matthew yang baru saja masuk ke kamar hotel nampak tersenyum. Karena ia melihat Irina sepertinya tertidur.
Dengan langkah pelan, Matthew berjalan menuju ke arah Irina. Kemudian ia duduk berjongkok untuk mengamati wajah Irina yang terlihat samar-samar itu.
Meskipun samar, Matthew masih ingat dengan jelas wajah cantik dan naturalnya wanita yang ada di hadapannya saat ini.
"Beautiful." ucap Matthew dalam hati. Mengagumi keindahan dan juga kepribadian wanita yang sudah sekali tidur dengannya itu.
Sejenak Matthew mengangumi Irina yang kini kembali berada dalam kekuasaannya. Setelah puas memandangi wajah Irina. Matthew kemudian berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai membersihkan diri. Matthew menyemprotkan parfum khas dirinya pada tubuhnya.
Dengan hanya mengenakan jubah handuk yang melekat di tubuhnya. Matthew keluar kamar dan langsung bergegas menghampiri Irina.
Ia kemudian meletakkan punggung tangannya yang dingin ke leher Irina. Matthew bermaksud untuk membangunkan Irina tanpa bersuara. Dan benar saja, sensasi tangan dingin Matthew yang menempel begitu lekat di leher Irina, telah membangunkan Irina dari tidur.
Dengan gerakan pelan. Irina bangkit dari rebahannya.
"Maaf, aku ketiduran." Bisik Irina.
"Tidak apa." Jawab Matthew lembut.
"Seperti kemarin, aku akan menutup mata mu." Matthew pun kemudian mengikatkan penutup mata kepada Irina.
Setelah mengikatkan penutup mata pada Irina. Matthew kemudian menuangkan satu gelas wine kedalam gelas bening yang ada di kamar hotel. Ia kemudian membawa gelas bening yang sudah berisikan wine tersebut ke arah Irina.
Tepat di samping Irina, Matthew duduk disana sambil merangkul bahu Irina dengan manja.
Irina hanya bisa diam. Ia tidak beraksi.
"Santai saja, aku tidak ingin buru buru memulai. Temani aku minum dulu." bisik Matthew tepat di telinga Irina. Sampai-sampai membuat bulu kuduk Irina meremang ketika suara merdu Matthew menggelitik kupingnya.
Matthew kemudian menyuruh Irina untuk duduk di pangkuannya. Irina pun menurut.
Betapa bangga dan bahagianya Matthew ketika mendapati wanita yang membuatnya gila itu kini sudah duduk di atas pahanya.
"Rangkullah aku." Perintah Matthew.
Irina pun menurut. Ia kemudian mengalungkan kedua tangannya ke leher Matthew. Mereka kini berposisi duduk bak sepasang kekasih. Saling duduk dengan posisi mesra dan posesif.
Jantung Irina makin berdebar ketika ia duduk di pangkuan Matthew. Entah apa yang terjadi dengan harinya kala itu. Ada sebuah perasaan lain yang berbeda yang Irina rasakan.
Begitu pula dengan Matthew. Ia juga merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Irina.