After One Night Stand With CEO

After One Night Stand With CEO
Di tanya calon istri



Balasan dari Irina itu pun kini langsung disampaikan Matias kepada Matthew.


Tangan Matthew mengepal erat begitu tahu Irina sudah tidak mau lagi tidur dengannya.


"Dia benar-benar jual mahal. Dia benar-benar telah mengacuhkan seorang Matthew." Dengan penuh rasa emosi, Matthew kemudian membanting minumannya.


Setelah mengirimkan pesan terakhirnya pada seseorang yang menghubunginya. Irina kemudian kembali fokus untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah.


Sambil fokus mengerjakan kembali tugas-tugas kuliah. Pikiran Irina kembali ke masa-masa malam kelam itu


Dimana sebuah malam pajang ia lalui bersama dengan seorang pria misterius yang kini selalu menjadi momok yang mempengaruhi dirinya.


Irina sadar dengan kondisi kehidupannya. Dan kini, Irina sudah siap dan akan menerima apapun yang akan terjadi kedepannya.


Ia akan siap menanggung segala resiko tentang masa lalunya. Tentang apapun yang sekiranya akan terjadi di masa depan.


Yang Irina membuka Irina bersyukur pada detik saat ini adalah. Dirinya dan juga kedua orang tua yang ia sayangi masih bisa tinggal di rumah mereka.


Dimana rumah itu menjadi aset satu satunya yang berharga bagi Irina dan kedua orang tuanya.


Apalagi sekarang kondisi ekonomi keluarga sedang sulit.


Meski dihantui keadaan sulit. Irina merasa lega karena esok ia sudah mulai bekerja.


Setidaknya ia bisa menghasilkan uang yang halal untuk ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.


Irina sengaja tidak menggunakan uang hasil menjual dirinya untuk memenuhi kebutuhan.


Karena ia tahu bahwa uang itu bukanlah uang yang halal. Melainkan uang yang kotor. Miris rasanya jika ia memberikan kehidupan untuk ke-dua orang tuanya dengan uang yang haram.


Irina terpaksa menjual diri dan terpaksa menggunakan uang itu hanya untuk menutupi semua hutang-hutang sang kakak.


Dan Irina tidak mengambil selembar pun uang dari hasil jual dirinya untuk ia gunakan untuk kebutuhan sehari-hari.


Selesai mengerjakan tugas-tugas kuliah. Kini Irina menutup laptop dan ia kemudian berjalan menuju ranjangnya yang berukuran sempit.


Sambil tiduran miring dan menarik selimut sampai ke leher. Irina berusaha untuk memejamkan mata.


Dari tempat ia kini sedang berebahan miring di ranjangnya. Pandangan Irina kemudian tertuju pada sebuah baju yang ia gantung di balik pintu kamarnya. Dimana baju tersebut adalah baju pemberian Matthew.


Irina kemudian bangkit lagi dari tempat tidur dan ia berjalan menuju ke arah balik pintu. Ia kemudian mengambil baju tersebut.


"Apa mungkin dia yang mengirimkan dua orang ke ruko untuk melindungi ku? Dia menyiapkan baju ganti untuk ku dan aku tau merek baju ini sangat terkenal dan harganya pun mahal. Semahal apapun baju ini. Itu mungkin tidak akan jadi masalah untuknya. Hanya saja, atas dasar apa dia melakukan ini semua untuk ku?" Irina di buat makin penasaran dengan sosok Matthew.


Yang sampai kini ia tidak tau bagaimana rupa dan nama pria yang telah tidur dengannya.


Tidak ingin menjadikan baju pemberian pria yang telah tidur dengan mengingatkan dirinya kembali di masa-masa kelam. Irina kemudian membuang baju tersebut ke tempat sampah yang ada di kamarnya.


"Lagi pula buat apa aku peduli." Keluh Irina pada dirinya sendiri. Ia sepertinya agak gusar dengan perasaan yang ia rasakan.


Setelah membuang baju itu ketempat sampah. Irina kembali menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur dan ia mulai untuk memejamkan matanya dan pergi tidur.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Apartemen


"Jusnya tuan Matthew." ucap salah seorang pelayan yang sedang melayani Matthew di apartemen mewahnya pagi itu.


"Terima kasih Bik." Jawab Matthew ramah pada seorang wanita paruh baya yang sudah setia melayani Matthew sejak pria lajang itu memutuskan untuk hidup terpisah dari kedua orang tuanya.


Bik Irma biasa datang di pagi hari untuk membereskan apartemen dan menyiapkan sarapan untuk Matthew. Setelah semua tugas telah selesai ia kerjakan. Biasanya Bik Irma akan pulang. Dan kembali keesokan harinya seperti biasa.


"Tuan, tadi ada telepon dari Nyonya Liliana. Nyonya besar menanyakan tuan. Dan Nyonya berpesan kepada saya untuk memberi tau tuan Matthew untuk sesegera mungkin tuan menghubungi Nyonya besar." Lapor Bik Irma pada Matthew.


Dan ternyata, sambil sarapan. Matthew terlihat sibuk memandangi potret Irina yang sudah sempat ia abadikan dengan ponselnya.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Mansion


"Sayang, sesibuk itukah dirimu dengan pekerjaan sekarang. Sampai-sampai kamu lupa jika kamu ini masih punya seorang Mama." Ucap Belinda, yang kala itu sedang menerima panggilan telepon dari putranya Matthew.


Sesuai sarapan, Matthew langsung menghubungi sang Mama.


"Mama berlebihan, Matthew tidak lupa sama Mama. Tapi memang akhir akhir ini pekerjaan Matthew banyak Ma."


"Pulanglah, Mama kangen dengan mu."


"Nanti siang Matthew akan pulang. Matthew janji."


"Mama tunggu, jika tidak datang. Mama yang akan menginap di apartemen mu." Ancam Belinda pada sang putra.


Setelah selesai meeting siang itu. Matthew yang sudah janji dengan sang Mama untuk berkunjung ke rumah. Langsung melajukan mobilnya untuk menuju Mansion. Dimana kedua orangtuanya tinggal.


"Mentang-mentang sekarang sudah menjadi CEO sukses. Lalu kamu lupa sama wanita yang telah melahirkan kamu." sindir Belinda begitu Matthew datang menemui dirinya taman dekat rumah.


Matthew kemudian memeluk sang Mama dengan erat. Sudah hampir satu bulan terakhir Matthew memang tidak pulang.


"Maaf Ma, Matthew benar-benar sibuk. Banyak urusan yang harus dikerjakan di kantor. Bukan berarti Matthew lupa dengan kalian." Balas Matthew membela diri.


"Kalau begitu menikah lah. Cepatlah menikah dan berikan Mama dan Papa cucu. Agar perhatian kami tidak selalu tertuju pada diri mu. Hanya kamu yang kami miliki. Kau tau Mama tidak pernah memaksa mu untuk segera menikah. Tapi jika sikap kamu sekolah lupa sama Mama dan Papa. Jangan salahkan Mama jika Mama sekarang ingin kamu cepat menikah." Ujar Belinda pada Matthew.


Matthew hanya terkekeh kecil mendengar ucapan sang Mama.


"Matthew belum siap Ma."


"Apanya yang belum siap. Kau tampan,mapan, dan punya kehidupan yang nyaman. Apalagi? Selama ini Mama membebaskan kamu untuk memilih dan membawa dia pulang. Mama tidak peduli dia dari kalangan apa. Yang penting dia wanita baik baik itu sudah cukup bagi Mama."


"Tidak semudah itu Ma memilih pasangan hidup. Mama tau Matthew pernah beberapa kali gagal menjalin hubungan dengan seseorang wanita. Mereka semua materialis."


"Carilah yang tidak materialistis." Sahut Belinda.


Dan kini kriteria itu ada pada diri Irina, menutut Matthew.


Mengingat nama Irina, Matthew justru kini melamun.


"Matt, hai." Seru Belinda, sampai sampai ia harus bersuara keras agar anak itu mendengarnya.


"Iya Ma."


"Kok melamun."


"Tidak, sebenernya Matthew sudah bertemu dengan wanita itu. Hanya saja, dia sedikit jual mahal."


"Apa gunanya tampang dan pesona mu. Manfaat ketampanan mu sayang. Pikat dia dengan pesona mu. Masa seorang Matthew, seorang CEO tidak bisa pikat seorang wanita. Jika sudah berhasil pikat dia. Bawa ke rumah. Mama ingin bertemu."


Matthew hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan sang Mama.


Matthew Alfaro



Irina