
"Assalamualaikum." ucap Irina, begitu ia memasuki ruang tamu di rumah sederhana milik kedua orangtuanya.
"Waalaikumsalam." Sebuah suara lirih menjawab salam yang Irina ucapkan dari dalam kamar.
Kedatangan Irina disambut oleh sang ibu yang saat ini juga sedang tidak enak badan.
Sedangkan sang ayah juga sudah beberapa bulan ini hanya bisa tergeletak di tempat tidur, juga menderita sakit.
Irina kemudian menyalami tangan sang ibu.
Ketika Irina kembali ke rumah. Ia sudah menyiapkan mental dan juga hati yang sangat kuat agar apa yang baru saja ia alami semalam. Tidak membuat ibunya merasakan sebuah kecurigaan terhadap dirinya.
Sebisa mungkin Irina bersikap untuk ceria dan tidak menampakkan gelagat yang aneh.
Bagian leher Irina yang kala itu penuh dengan bekas kecupan-kecupan. Dan kini bekas kecupan itu berubah warna merah kebiruan. Masih segar di ingatan Irina. Pria itu menjelajahi lehernya dengan penuh nafsu.
Dengan mengunakan sebuah syal, ia menutupi lehernya jenjangnya agar tidak di lihat oleh sang ibu.
"Ina, sudah malam kok kamu baru pulang. Apa kamu banyak tugas kuliah kemarin. Kamu semalam kemana? Biasa kamu pulang jam 12 malam. Tapi kamu tak kunjung juga pulang. Semalaman ibu kawatir nungguin kamu. Handphone kamu juga tidak aktif. Ibu sampai takut terjadi apa-apa sama kamu nak." ucap Bu Laila kepada sang putri. Karena Ina, panggilan Bu Laila pada Irina mendapati sang putri pulang terlambat. Karena tidak biasanya Irina pulang telat.
"Maaf Bu, semalam Ina menginap di rumah teman. Dan baterai handphone Irina juga habis. Ada diskusi masalah tugas kuliah yang penting sampai larut. Dan, Irina pikir. Ina juga mau cari pekerjaan Bu. Agar bisa menambah perekonomian kita. Aku tidak ingin rumah ini jatuh ke tangan rentenir itu. Jadi, Irina sedang berusaha mencari pinjaman." ucap Irina berbohong.
Irina harus memberikan sang Ibu gambaran tentang bagaimana caranya bisa mendapatkan uang. Demi bisa menyelamatkan rumahnya dari sitaan rentenir.
"Semua ini karena kakak mu. Tega sekali dia melakukan ini sama kita. Menggadaikan sertifikat rumah untuk berjudi." Bu Laila kini nampak sedih.
"Itulah sebabnya Irina sedang usaha cari pinjaman Bu. Agar bisa menebus sertifikat rumah yang Abang gadaikan. Aku tidak akan membiarkan rumah ini di sita lintah darat itu."
"Rendra sungguh keterlaluan. Berani-beraninya dia menggadaikan satu-satunya harta yang kita miliki. Apa dia tidak berpikir jika kita ini orang yang tidak punya apa apa selain rumah ini. Inilah satu-satunya harta yang kita punya. Satu-satunya tempat berteduh. Sungguh tega Rendra menggadaikan surat rumah ini hanya demi gila judi yang ia lakukan." keluh Laila, yang merasa sedih dengan kelakuan anak pertamanya itu. Sebagai kakak, Rendra bukannya melindungi. Tapi justru membuat susah keluarga.
"Sudah Bu, jangan dipikirkan. Aku pun juga tidak akan tinggal diam dan membiarkan rumah ini jatuh ke tangan rentenir itu. Tolong Ibu nasehati Bang Rendra saja supaya dia cepat sadar dan menyudahi kegilaan judi online-nya. Jangan pernah melakukan kesalahan seperti ini lagi." ujar Irina berpesan kepada sang Ibu. Agar sang Ibu memberikan nasehat kepada putra pertamanya tersebut.
"Terima kasih Irina, kamu sebagai anak bungsu sudah bisa berpikir dewasa. Tidak seperti kakakmu yang berpikir egois dan ke kanak-kanakan. Maafkan Ibu jika kamu sudah terbebani dengan kondisi keluarga mu yang saat ini sedang susah. Padahal kamu seharusnya tidak perlu memikirkan apa-apa. Karena kamu masih menjadi tanggungan Bapak dan juga Ibu."
"Jangan dipikirkan soal itu Bu. Aku sudah 20 tahun. Aku sudah cukup dewasa untuk menyadari keadaan kita. Aku pasti akan ikut membantu untuk tetap mempertahankan rumah ini bagaimanapun caranya. Agar Ibu dan Bapak tidak terlunta-lunta karena tidak punya tempat tinggal. Meskipun kalian punya banyak saudara yang kaya-kaya. Tapi mereka tidak pernah menganggap kita saudara Bu. Jadi kita harus bisa berdiri di atas kaki kita sendiri." Mendengar penuturan Irina sungguh membuat Bu Laila sangat terharu. Karena Irina begitu semangat membela keluarga.
"Irina ke kamar dulu ya Bu"
"Iya nak, istirahatlah."
Berlalu dari harapan sang ibu, Irina segera berlalu menuju ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, Irina menutup rapat-rapat pintu kamar dan menguncinya dari dalam.
Sejenak, Irina menyadarkan tubuhnya di balik pintu. Sekembalinya ia ke rumah dan masuk kamar. Rasa sesak karena telah melakukan dosa itu kini kembali membakar batin Irina. Dan tak terasa, bulir bulir cairan bening itu kini berjatuhan dari kedua matanya. Irina kembali menumpahkan air matanya.
Dan semua itu hanya Irina yang bisa dan harus mampu membereskan masalah yang sangat krusial tersebut.
Mana mungkin ia tega membiarkan kedua orang tuanya memikirkan sebuah beban hidup itu sendirian. Sedangkan mereka berdua dalam keadaan tidak berdaya karena sakit.
Sedangkan sang kakak Rendra telah kabur meninggalkan rumah tepat di saat para rentenir mencari dirinya untuk menagih hutang yang harus ia segera bisa dibayarkan.
Tapi, Rendra justru pergi begitu saja dengan meninggalkan hutang yang ber ratus ratus juta nilainya.
Dengan posisi dan kondisi yang sangat terdesak. Oleh sebab itu Irina terpaksa menjual diri. Karena itu cara satu-satunya bagi Irina untuk bisa menyelamatkan keluarga dari ancaman pengusiran oleh para rentenir itu.
"Aku sekarang sudah menjadi pendosa. Dan aku siap untuk menanggung semua dosa-dosa itu. Tapi hutang itu belum sepenuhnya lunas. Masih ada 20% lagi yang harus aku lunasi. Apakah ia aku harus menjual diri lagi. Untuk bisa segera melunasi hutang-hutang itu." Irina terlihat frustasi dan juga bigung. Berjalan mondar-mandir dengan perasaan tidak tenang.
"Tidak. Aku tidak akan menjual diri. Cukup sekali aku melakukan itu." sisi isi batin Irina terus bergejolak.
"Mereka pasti menjebak ku. Dengan memberi tau hutang-hutang Abang tidak secara gamblang. Bodoh." Irina merutuki kecerobohan dan keteledorannya. Ia merasa ceroboh dan gegabah saat ingin menyelesaikan masalah hutang piutang dengan rentenir tersebut.
Yang Irina sesali adalah. Ia sudah mengorbankan keperawanannya untuk bisa mendapatkan uang. Tapi ternyata uang yang sudah ia hasilkan belum cukup untuk membayar semua hutang-hutang keluarganya.
Sedangkan untuk mendapatkan uang 30 juta itu pun juga tidak mudah.
Dan Irina sendiri juga tidak berniat untuk menjual diri lagi. Ia tidak mau mengulangi melakukan kesalahan dan dosa yang sama.
"Apa yang sudah aku lakukan?" Irina nampak bingung.
"Aku akan usaha mencari pinjaman. Siapa tau ada yang membantu ku. Cukup sekali aku melakukan dosa itu."
Irina kemudian melepaskan syal yang tadi ia gunakan untuk menutupi lehernya. Saat ia menatap dirinya dari pantulan cermin. Lehernya manis terlihat bekas bekas kecupan itu.
Kemudian Irina membuka lemari dan mengambil satu setel pakaian untuk mengantikan baju yang sudah dari kemarin ia kenakan.
Setelah berada di kamar mandi. Irina menguyuri tubuhnya dengan air dan kembali memsabuni tubuhnya dengan menguangkan cairan sabun yang banyak.
Entah kenapa aroma dan parfum pria yang semalaman bersamanya begitu kuat melekat di kulitnya. Sampai-sampai parfumnya itu tidak kunjung hilang setelah ia sudah mandi dua kali.
Meskipun kedua mata Irina tertutup malam itu. Secara insting dia bisa merasakan semua kejadian yang sudah ia alami dan rasakan.
Dan Irina juga bisa menggambarkan seberapa ganasnya pria itu menghujani miliknya dengan milik pria itu.
Bahkan Irina masih merasakan perih ke ***********. Dan ****** ******** pun masih membekas bercak darah itu.
Jika mengikat semuanya. Sungguh membuat hati Irina sedih bercampur jijik dengan dirinya sendiri. Karena ia telah menjual kehormatannya.