
Berada di kantornya. Matthew yang saat itu baru saja selesai memeriksa file demi file dokumen penting yang harus ia tanda tangani. Kemudian ia nampak menyandarkan tubuhnya ke kursi kebesarannya untuk melepaskan rasa lelah yang ia rasakan.
Di saat ia nampak letih dan juga suntuk dengan pekerjaan kantor. Pikiran Matthew kini benar-benar sudah terkontaminasi dengan bayangan wajah cantik Irina. Yang penuh kepasrahan ketika wanita muda tersebut ia ajak bercinta.
Berbagai macam aksi dan juga posisi yang ia lancar pada Irina kala itu. Benar benar mengantarkan Matthew pada puncak kenikmatan dan gairah seksualnya.
Pergumulan panas yang pernah ia lalui kemarin malam membuat fokus Matthew berantakan saat ia sedang bekerja.
"Sial, baru pertama kali ini aku di buat gila dengan seorang wanita. Bagaimana caranya aku bisa melupakan percintaan kemarin. Jika rasanya begitu nikmat saat dia aku pakai. Sial." Matthew terlihat frustasi.
"Sekarang aku jadi kecanduan tubuhnya. Dan aku berkeinginan untuk mengulangi bercinta dengan Irina. Dia harus menjadi langganan ku. Bagaimana pun caranya aku harus bercinta dengannya lagi."
Matthew kemudian mengambil ponselnya dan ia nampak menghubungi seseorang.
"Aku ingin mendapatkan wanita itu kembali. Kapan aku bisa memakai dan mendapatkannya." Ucap Matthew ketika ia menghubungi seseorang.
"Saya tidak tau apakah dia bersedia. Jika anda menginginkannya, saya akan menanyakan pada Irina apakah dia mau lagi untuk tidur dengan anda."
"Kenapa kau harus menanyakannya? Bukankah dia seorang wanita penghibur." sergah Matthew.
"Sebenarnya dia bukan wanita penghibur. Tetapi temanku menawarkannya pada ku untuk di carikan seseorang yang mau membayarnya mahal. Dia katanya terpaksa jual diri karena sebuah alasan. Tapi biasanya itu hanya kedok. Yang biasa saya temui mereka yang sudah biasa menjajakan diri akan kecanduan pada akhirnya dengan bisnis ini."
"Bisakah kau simpan dia hanya untuk ku. Aku akan berikan kamu imbalan. Jika ada yang mau dengannya. Jangan kasih dia ke orang lain. Aku akan berikan kamu imbalan yang banyak untuk itu."
"Dengan senang hati Matthew. Saya pasti akan keep wanita itu hanya untuk mu seorang." jawab seorang pria penyedia wanita penghibur tersebut.
"Apa kau tau sesuatu dari wanita yang bernama Irina itu?" Matthew mulai penasaran.
"Sebenarnya dia bukanlah seorang wanita penghibur. Bahkan dia masih berstatus seseorang mahasiswa di salah satu universitas di kota ini."
Mendengar sedikit informasi tentang Irina. Membuat Matthew sedikit berpikir.
"Aku tidak peduli dia dari mana dan seperti apa. Aku hanya ingin bisa kembali tidur bersama dengannya. Jika kau bisa mengusahakan itu secepatnya. Hubungi aku."
"Baik Matthew, tunggu informasi dariku secepatnya. Jika dia mau dan bersedia, saya pasti akan mengabarkannya untuk mu."
"Thanks you." Panggilan pun berakhir.
Matthew kembali bersandar pada kursi kebesarannya. Sambil melipat kedua tangannya ke belakang kepala. Matthew nampak berimajinasi.
Apa benar dia bukan wanita penghibur. Kamu semakin membuat aku penasaran saja Irina. Siapa sebenarnya dirimu.
Matthew adalah anak kedua dari dua bersaudara. Kakak Matthew sendiri sudah berumah tangga dan sang kakak kini juga telah memegang satu perusahaan keluarga yang di pasrahkan papa Matthew.
Sebagai anak terakhir. Matthew sudah terbiasa di limpahi kemewahan. Dan yang paling di manja serta di berikan kebebasan.
Setelah sang papa telah membagi perusahaannya untuk Matthew dan sang kakak. Praktis, kini Matthew juga telah berkuasa untuk perusahaan yang kini ia pimpin.
Walau Matthew punya kehidupan liar dan bebas. Tapi dalam mengurus perusahaan. Matthew sangat bisa di andalkan.
Dirinya cukup sukses mengembangkan perusahaan. Dan sang papa pun bangga dengan pencapaian Matthew.
Pulang ke Penthouse dengan perasaan badmood serta letih. Matthew nampak membanting jasnya ke sofa yang ada di ruang tamunya.
Di dalam penthouse yang sangat mewah dan luas itu. Matthew tinggal sendirian di sana.
Sedangkan kedua orang tuanya yang juga memiliki rumah yang sangat mewah. Tinggal terpisah dengannya. Matthew memang sengaja ingin hidup mandiri dengan segala kebebasannya.
Di tambah lagi Matthew sebenarnya adalah orang introvert. Dia tidak menyukai keramaian. Dia lebih menyukai suasana yang sepi, tenang dan jauh dari bising.
Hanya saja di luar itu, jika gejolak seksualnya sedang naik. Ia pasti akan mencari wanita pemuas rajang.
Kebiasaan buruk Matthew bermain dengan perempuan adalah bentuk pelampiasannya dari segala aktivitas dan kepenatan kerja.
Sedangkan untuk membangun sebuah komitmen pernikahan. Matthew merasa belum siap untuk itu. Dan dia merasa, jika ia menikah. Ia pasti akan terbebani dengan segala aturan suami istri.
Hal itulah yang ingin ia hindari. Maka ia sampai kini masih betah melajang.
Duduk termenung sendiri di sofa. Matthew kembali terbayang-bayang wajah Irina. Lekuk tubuhnya, kemulusan tubuh Irina begitu lekat di ingatan Matthew.
"Sial. Dia lagi, dia lagi. Aku bisa gila ini."
Matthew kemudian bangkit dan mengambil sebotol wine yang selalu ia sediakan di Penthouse. Membawanya ke balkon dan ia menikmati wine tersebut langsung dari botolnya.
Setelah meneguk habis sisa wine yang ada di botol. Matthew kemudian tersenyum dan ia kembali masuk dalam.
Matthew kemudian berjalan menuju ruang kerja dan ia nampak mengambil sesuatu dari balik saku celananya.
Matthew nampak mengeluarkan sebuah flashdisk kemudian ia menyambungkan flashdisk tersebut ke laptop miliknya.
"Setidaknya aku punya rekaman video kita Irina." ucap Matthew sambil tersenyum puas karena ia telah mendokumentasikan pergulatan panasnya dengan Irina.
Sambil kembali menikmati wine yang baru saja ia buka. Matthew nampak fokus dan asik menonton video panasnya dengan Irina.
"Rio, datanglah ke Penthouse ku. Malam ini juga. Ada pekerjaan untuk mu." ucap Matthew yang menghubungi orang kepercayaannya Rio.
Setelah kurang lebih satu setengah jam menunggu. Rio pun mendatangi Penthouse Matthew. Dan kini mereka sedang mengobrol di ruang tamu.
"Cari tahu informasi tentang wanita ini." Matthew kemudian memberikan foto Irina yang sudah ia cetak beberapa waktu lalu.
Rio kemudian mengambil foto tersebut dan mengamati wajah Irina yang ada dalam foto tersebut.
"Mau di apakan wanita ini? tanya Rio.
"Jangan apa apa kan dia. Jangan sentuh dia dan jangan sakiti dia. Aku hanya perlu informasi tentang wanita ini. Cari tau apa saja informasi tentang dia. Ingat, jangan sakiti, jangan sentuh. Tugas mu hanya cari tau dimana dia tinggal, berkuliah dan latar belakang keluarganya." perintah Matthew pada Rio.
"Oke, tugas yang mudah." jawab Rio.
"Aku tunggu kabar dari mu secepatnya. Jangan buat aku lama menunggu untuk tau informasi dari wanita itu. Nanti aku gila." seloroh Matthew
Rio nampak terkekeh mendengar kata-kata bosnya tersebut. Karena ini adalah tugas kali pertamanya untuk mencari informasi tentang seorang wanita.
"Apa bos jatuh cinta?"
"Diam kau. Tidak sopan tanyakan itu pada atasan." jawab Matthew garang.
Rio pun hanya tersenyum tipis menanggapi sikap sang bos.
Berada di kamarnya. Irina kini tengah dibuat bingung dengan sisa pembayaran hutang yang harus segera ia lunasi lagi.
Ia hanya punya waktu beberapa hari untuk segera melunasi sisa hutang senilai 30 juta tersebut.
Jika tidak, uang 30 juta itu akan berbunga lebih banyak lagi.
"Apa yang harus aku lakukan?" Irina terlihat tertekan.
"Apakah aku harus tidur dengan pria itu lagi." kini ia nampak frustasi.
"Bagaimana mana ini."