
Duduk melamun di singgasana kebesarannya di kantor. Pandangan Matthew nampak melamun dengan tatapan matanya mengarah menatap sebuah foto yang terdapat di laptopnya.
Sambil terus menatap wajah Irina yang ada di layar laptopnya. Pikiran Matthew kembali terngiang-ngiang tentang perkataan sang Mama yang kini menyuruhnya untuk segera menikah.
Entah apa yang merasuki pikiran Matthew. Kini dirinya semakin merasa terikat dengan Irina. Ada semacam kebutuhan dari dalam dirinya yang hanya ingin ia penuhi itu bersama dengan Irina.
Dan semua perkataan sang Mama membuat Matthew yakin. Jika ia memilih Irina untuk ia jadikan pendamping hidup. Sepertinya sang Mama tidak akan keberatan.
"Kalau begitu menikah lah. Cepatlah menikah dan berikan Mama dan Papa cucu. Agar perhatian kami tidak selalu tertuju pada diri mu. Hanya kamu yang kami miliki. Kau tau Mama tidak pernah memaksa mu untuk segera menikah. Tapi jika sikap kamu sekolah lupa sama Mama dan Papa. Jangan salahkan Mama jika Mama sekarang ingin kamu cepat menikah."
"Apanya yang belum siap. Kau tampan,mapan, dan punya kehidupan yang nyaman. Apalagi? Selama ini Mama membebaskan kamu untuk memilih dan membawa dia pulang. Mama tidak peduli dia dari kalangan apa. Yang penting dia wanita baik baik itu sudah cukup bagi Mama."
"Apa gunanya tampang dan pesona mu. Manfaat ketampanan mu sayang. Pikat dia dengan pesona mu. Masa seorang Matthew, seorang CEO tidak bisa pikat seorang wanita. Jika sudah berhasil pikat dia. Bawa ke rumah. Mama ingin bertemu."
"Jika aku menikahi Irina. Sepertinya Mama tidak akan melarang. Tapi bagaimana cara ku untuk bisa mendekati Irina. Dia saja sepertinya sok jual mahal." Keluh Matthew.
Setelah puas memandangi foto Irina. Matthew kemudian memutar rekaman video malam antara dirinya dan Irina.
Saat Matthew menyaksikan video tersebut. Gairah itu dengan sendirinya muncul dan membuat ia kini merasa panas dingin.
Melihat wajah kepasrahan Irina begitu membuat Matthew makin menggila di atas tubuh Iriana.
"Sial." keluh Matthew, yang kemudian ia bangkit dari tempat duduk dan merasa sangat frustasi. Karena Irina benar-benar sudah menjadi candu untuknya.
Sebuah hal yang aneh yang dirasakan oleh Matthew. Yang ia selalu memandang rendah wanita penghibur. Tapi tidak untuk Irina.
Dengan segala kekayaan dan uang yang begitu melimpah yang ia punya. Bahkan ia tidak mampu membeli seorang gadis biasa seperti Irina. Yang kini menolak untuk mau tidur dengannya lagi. Sebuah penolak tidak menyakiti hati Matthew.
Seolah-olah ia yang butuh Irina namun Irina tidak butuh lagi uangnya.
Biasanya dengan begitu mudahnya Matthew mendapatkan wanita-wanita cantik sesuai dengan keinginannya. Jika ia ingin mencari wanita penghangat ranjang selama ini ia tidak pernah mengalami kesulitan.
Tapi sejak ia bermain dengan Irina. Seolah-olah hasratnya hanya mau di puaskan oleh wanita itu.
Sudah dua minggu berlalu sejak malam terakhir dia bersama Irina. Sampai saat ini Matthew belum tidur dengan seorang wanita. Biasanya dia melakukan itu tiga atau dua hari sekali dalam seminggu.
Pernah pada suatu malam Matthew mencoba untuk memesan seorang wanita. Bahkan wanita itu baru saja datang dan melangkahkan kakinya menuju ke kamar hotel. Tapi Matthew sudah mengusir wanita tersebut.
Keanggunan langkah Irina lah yang melekat di ingatan Matthew. Sehingga moodnya mendadak langsung menghilang. Dan ia langsung mengusir wanita tersebut.
Matthew sungguh merasa frustasi, seolah-olah dia tidak ingin lagi disentuh oleh wanita lain selain Irina.
Suatu hal yang gila, yang pernah terjadi pada diri seorang Matthew Alfaro.
Tidak bisa mendapatkan Irina dengan cara mengajaknya tidur bersama. Matthew berfikir untuk tetap bisa mendapatkan Irina dengan cara apapun.
"Kenapa aku sekarang menjadi begitu payah seperti ini dihadapkan seorang perempuan. Dia sudah mengendalikan mood ku. Aku harus menghubungi Rio sekarang."
Matthew kemudian mengambil ponsel dan menghubungi Rio, asisten pribadi kepercayaannya.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Seusai dari kantor. Matthew mengajak Rio pergi kesebuah clup untuk bersenang-senang. Karena diajak, Rio pun menurut.
Sesampainya di sebuah clup malam. Matthew yang saat itu ingin mabuk agar pikirannya tidak selalu memikirkan Irina. Meneguk gelas demi gelas minuman beralkohol di club itu.
Rio yang hanya minum satu gelas tau. Jika saat ini bos nya sedang banyak pikiran. Maka Rio membiarkan Bos nya itu mabuk. Sedangkan dirinya harus tetap sadar untuk menjaga Bos nya.
"Aku tidak pernah melihat Bos seperti ini. Dia sepertinya benar-benar jatuh cinta dengan wanita yang bernama Irina." Ucap Rio dalam hati.
Sambil terus meminum minumannya. Matthew kini sudah melantur. Dia mengoceh tidak jelas pada Rio. Dan nama yang selalu ia sebut adalah Irina.
Rio yang tau Bosnya telah mabuk pun hanya menganggukkan kepalanya mendengar curhatan Matthew.
"Dia memang cantik dan mempesona. Siapa yang tidak akan tertarik dengan Irina. Meskipun dia terlihat biasa. Ada daya tarik tersendiri yang terpancar dari wajah cantik wanita itu. Pantas saja Bos tergila-gila. Apalagi dia sudah tidur dengannya. Aku saja juga suka melihat wajah Irina. Kecantikan naturalnya sangat mempesona. Andai saja dia bukan incaran Bos. Aku pasti sudah mendekati Irina." Ucap Rio membatin.