After One Night Stand With CEO

After One Night Stand With CEO
Masih punya hati nurani



"Jangan lakukan itu padanya Matthew. Dia ingin membangun masa depan yang cerah setelah masa kelam yang ia lalui. Jangan menghancurkan masa depan Irina. Jangan lakukan itu." Bisikan-bisikan itu kembali mengisi pikiran Matthew.


Matthew nampak mendengus kesal. Sejurus kemudian ia juga terlihat frustasi.


"Aku sungguh ingin bercinta dengan mu saat ini Irina. Tapi di lain sisi. Aku sungguh mencintaimu. Aku jatuh cinta dengan mu. Jika aku cinta, bagaimana aku bisa menyakiti mu, bagaimana bisa aku merusak mu" bisik Matthew, bergumam pada dirinya sendiri.


"Sial." umpat Matthew.


"Bagaimana aku bisa menghancurkan diri mu. Jika aku begitu mencintaimu."


Matthew kemudian kembali mengancingkan satu persatu kancing baju Irina. Merapikan kembali pakai Irina yang sudah setengah ia buka.


Perlahan Matthew kemudian narik diri dari tubuh Irina. Lalu ia bergegas ke kamar mandi.


Dengan mengunakan air shower yang hangat. Matthew mengguyuri tubuhnya. Membiarkan aliran air hangat yang terpancar dari shower tersebut mengguyuri kepalanya dan mengalir sampai ke kakinya.


"Hampir saja aku tidak bisa menahan diri ku." Guman Matthew.


Setelah beberapa menit berada di kamar mandi. Matthew kembali ke ruangan kamar dan ia mengenakan kembali pakaiannya.


Setelah Matthew rapi. Matthew kembali naik ke atas ranjang dan meraup tubuh Irina. Membawanya kedalam gedongan.


Kemudian Matthew membawa kembali Irina ke ruang tengah. Mendudukkan Irina dimana ia tadi duduk.


Matthew tidak ingin Irina curiga bila ia masih tiduran di atas ranjangnya. Sebisa mungkin Matthew menghilangkan jejak.


Sambil menunggu Irina terbangun dari tidurnya. Matthew kemudian menuangkan wine kesukaannya dan membawanya ke balkon apartemen. Disana Matthew mencoba untuk menenangkan pikiran dan mengendalikan emosinya.


Matthew kemudian menyulut satu batang rokok dan menikmati rokok tersebut. Dengan harapan ia bisa kembali bersikap tenang dan normal. Karena jujur saja, hasrat yang tidak sempurna ia salurkan menjadikan jiwa Matthew resah dan gelisah.


Seharusnya ia tadi mendapatkan kepuasan. Kini yang ada ia harus kembali menahannya.


Setelah dua puluh menit kemudian. Kini Irina mulai mengerjapkan kedua matanya.


Kepalanya yang terasa berat membuat Irina harus memegangi dahinya.


Dari tempat ia berdiri. Matthew yang melihat Irina sudah bangun pun kemudian ia membuang rokoknya dan berjalan mendekati Irina.


"Irina, kau sudah bangun." Sapa Matthew, yang berjalan perlahan mendekati Irina.


"Oh, maaf Pak, saya tertidur." Ujar Irina nampak malu malu.


"Tidak masalah." Matthew nampak mengulas senyum tipis.


"Bagaimana saya bisa ketiduran ya. Tadi perasaan saya baru saja minum minuman yang bapak berikan. Tau tau saja sudah tertidur saja." ujar Irina lagi, merasa bingung.


"Mungkin kamu kelelahan. Sudah lah tidak apa apa Irina."


"Sekali lagi maaf ya Pak. Saya sudah tidak sopan."


"Sungguh Irina, tidak apa apa. Jangan merasa tidak enak."


"Sudah jam enam sore, kalau begitu saya langsung pulang saja ya Pak. Tidak perlu kan saya kembali ke kantor."


"Tidak apa-apa Pak, tidak usah. Saya saya bisa pulang sendiri."


"Tidak apa Irina. Aku akan tetap mengantarkan kamu pulang. Aku juga sedang tidak sibuk."


Matthew kemudian mengambil kunci mobilnya dan berniat untuk mengantarkan Irina pulang.


di sepanjang perjalanan menuju rumah Irina. Matthew terlihat diam dan hanya terfokus pada jalanan. Sedangkan Irina sendiri juga tidak banyak bicara.


Tak lama kemudian, Matthew menghentikan laju mobilnya ketika ia kini sudah berada tepat di sisi jalan di depan rumah Irina.


Ada sebuah pemandangan yang menarik perhatian Matthew ketika ia mengantarkan Irina pulang. Ada sebuah mobil yang terparkir tepat di halaman rumah Irina. Dan Matthew pernah melihat mobil tersebut ketika Irina di wisuda.


"Jacob, ada apa dia ke rumah?" Ucap Irina membantin, ketika mendapati mobil sahabatnya itu berada di halaman rumahnya.


"Sepertinya kau ada tamu?" tanya Matthew mencoba menyelidik.


"Itu mobil Jacob."


"Siapa Jacob? Pacar mu?" tanya Matthew langsung menembak. Karena ia pun di buat penasaran dengan pria yang terlihat akrab dengan Irina beberapa waktu lalu.


Irina nampak tersenyum mendengar sergahan Matthew.


"Dia teman saya Pak. Saya tidak punya pacar. Dan tidak berniat untuk pacaran dalam waktu dekat. Banyak hal yang ingin saya capai dulu. Saya tidak ingin terikat dalam sebuah hubungan percintaan yang hanya akan menyita waktu dan perhatian saya. Saya ingin fokus berkarir dulu." ucap Irina sedikit curhat pada Matthew.


"Aku mendukungmu Irina."


"Oke, terima kasih telah mengantarkan saya Pak. Saya masuk ke dalam dulu."


"Sama sama Irina."


Irina kemudian keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju ke halaman rumahnya.


Satu hal yang membuat Matthew tertarik untuk tidak tergesa-gesa pergi adalah ia ingin tau sosok pria yang ia sudah ketahui bernama Jacob itu. Yang Irina bilang dia adalah sahabatnya.


"Jacob." sapa Irina, begitu Jacob datang dari dalam rumah dan ia langsung menyambut kedatangan Irina.


"Hai cantik." balas Jacob, yang kemudian langsung membuka kedua tangannya dan siap untuk memeluk Irina.


Melihat interaksi bagaimana Irina dan seseorang bernama Jacob itu terlihat akrab. Membuat Matthew merasakan rasa cemburu.


"Kamu dari di mana saja? Aku sudah lama menunggumu." ujar pria tersebut yang lamat lamat suaranya masih bisa didengar oleh Matthew yang masih berada di dalam mobilnya.


"Aku ada acara meeting di kantor." jawab Irina dengan suaranya yang riang.


"Ayo kita ngobrol di dalam." ajak Irina lagi pada Jacob, bahkan Irina menggandeng tangan Jacob untuk masuk ke dalam rumah.


"Semudah itu kau merangkul dan mengandeng tangannya Irina. Selain dengan pria itu kau nyaris sulit untuk di sentuh." ucap Matthew membatin.


Kemudian ia kembali melajukan mobilnya untuk kembali ke apartemen.