After One Night Stand With CEO

After One Night Stand With CEO
Memiliki Mu Lagi Dengan Paksaan



"Ke hotel A." Ujar Irina, begitu sang sopir taksi membukakan jendela kaca mobil.


"Nona Irina ya? Silahkan masuk." Ujar sang sopir taksi.


Irina pun langsung masuk dan duduk di kursi penumpang bagian belakang.


Dengan perasaan dan suasana hati yang tidak tenang. Irina duduk di kursi penumpang bagian belakang dengan sudah siap mengantisipasi segala sesuatu yang akan terjadi padanya.


Selain membawa senjata tajam. Irina juga membawa sebuah bubuk lada yang akan ia lemparkan pada pria itu. Jika pria itu berniat jahat dengannya.


Taksi yang membawa Irina kini telah berhenti tepat di sebuah hotel berbintang. Sebuah hotel di mana ia telah janjian dengan seseorang untuk membereskan urusannya dengan pria misterius itu.


Setelah menutup pintu mobil taksi tersebut, Irina kemudian langsung masuk ke dalam lobby hotel dan ia langsung menuju kamar hotel yang telah ia ketahui dimana pria itu beranda.


Irina sudah bisa menduga dan menerka. Apa yang menjadi keinginan pria tersebut.


Irina pun sudah mengantisipasi untuk menjaga diri. Ia tidak ingin suatu hal yang buruk terjadi padanya. Oleh sebab itu ia sudah siap dengan membawa sebilah pisau kecil dan juga bubuk lada yang sudah ia siapkan dan taruh di kedua sisi kantong sweaternya.


Hanya dengan dua alat itu yang bisa Irina bawa untuk bisa melindungi dirinya.


Dengan menghela nafas berat. Irina yang telah berdiri di depan pintu kamar hotel, nampak telah siap untuk menghadapi seseorang di dalam sana.


Baru saja Irina hendak menekan bell kamar hotel. Seseorang mendatangi Irina dan membantu Irina untuk masuk ke kamar hotel.


"Silahkan." ucap salah seorang petugas kamar hotel dengan wajah ramah. Yang kini telah membukakan pintu kamar untuk Irina.


"Terimakasih."


Setelah petugas kamar hotel tersebut membukakan pintu dan mempersilahkan Irina untuk masuk. Dengan sedikit rasa tegang. Irina pun kemudian melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar hotel.


Mungkin sudah menjadi ciri khas sang pemilik kamar hotel. Kamar itu terlihat gelap dan sama sekali tidak ada pencahayaan.


Sehingga membuat Irina terpaksa harus benar-benar mengedarkan pandangannya untuk bisa meraba, untuk bisa terus berjalan memasuki kamar hotel.


"Aku tahu kau sudah ada di kamar ini. Katakan apa yang kau mau dariku? Kenapa kau mendokumentasikan tentang apa yang telah kita lakukan di kamar waktu itu." ucap Irina, berucap dengan nada penuh ketegasan.


"Aku pikir kamu orang yang profesional. Karena aku telah profesional dengan apa yang aku jalankan waktu itu. Aku pikir urusan kita sudah selesai. Kau juga tau aku sudah tidak menerima lagi tawaran tidur dengan mu. Atau dengar pria lain. Jadi aku harap kau tau dan paham itu. Jangan kotori nama besar mu dengan sebuah skandal. Aku peringatkan pada mu. Jika kau pikir dengan foto dan video itu kau bisa mengendalikan aku. Maka kau pun juga akan hancur dengan skandal mu sendiri dengan ku. Jangan kau anggap aku bodoh." Ujar Irina, mencoba untuk mengancam pria yang telah mengundangnya untuk ia berada di kamar hotel itu pada saat ini.


Sedangkan Matthew yang saat itu sudah berada di kamar hotel. Dan sebenarnya ia kini sudah berdiri tepat di belakang Irina. Ia hanya tersenyum getir menanggapi ancaman lemah Irina.


"Kau pintar soal akademik. Tapi kau bodoh soal percaya diri jika kau bisa mengatasi masalah besar yang mengancam mu Irina. Ingat jika aku tidak menyuruh Rio untuk melindungi mu saat kau datang pada Rentenir itu. Kau pasti sudah hancur saat itu. Tapi aku menyelamatkan mu." desis Matthew dalam hati.


Matthew juga sudah bisa membaca situasi. Jika dia berkata-kata. Maka suaranya yang sudah sangat familiar dan di kenali oleh Irina. Itu pasti akan membuat Matthew dengan mudah di kenali. Karena Matthew masih ingin merahasiakan identitasnya.


"Keluarlah, jangan jadi pengecut." ucap Irina dengan nada suara sangat jelas dan tegas.


Dan di sisi lain. Irina yang sejak tadi sudah menyerukan ke-dua tangannya di saku sweater. Sudah siap dengan aksi yang akan ia lakukan.


"Kau terlalu lugu Irina." ucap Matthew lagi dalam hati.


Tidak ingin kehilangan momentum. Dan karena Matthew juga sudah lama menahan hasratnya. Di tambah lagi Matthew juga merasa ilfeel dengan Irina. Karena wanita cantik 23 tahun itu kini terlihat asik dan makin akrab dengan sahabatnya Jacob. Membuat Matthew merasa cemburu dan tidak suka.


Di tambah lagi ada niatan Irina untuk keluar dari perusahaannya.


Sudah pasti Matthew tidak akan tinggal diam.


"Maafkan aku Irina. Aku terpaksa melakukan ini. Sudah berbulan-bulan lamanya aku berpuasa. Dan kau membuat seluruh hasrat ku jadi membeku. Itu sungguh membuat aku tersiksa secara biologis Irina. Aku ingin melepaskan itu malam ini. Dan aku hanya ingin melepaskan kebekuan hasrat ku dengan mu. Tidak dengan wanita lain. Jadi maaf jika cara ku kejam. Aku tidak akan membuat mu hamil." Desis Matthew dalam hati. Yang sepertinya keinginannya untuk bercinta dengan Irina begitu besar pada malam itu.


Dengan langkah senyap. Matthew langsung membekap mulut Irina dengan sebuah sapu tangan yang telah ia bubuhi obat bius.


Irina sempat memberontak. Tapi biusan itu rupanya telah membuat Irina tidak bisa banyak berkutik.


Perlahan-lahan, tubuh Irina mulai melemas dan sejurus kemudian Irina sudah lunglai jatuh ke pelukan Matthew.


Matthew pun nampak senang dengan apa yang ia dapatkan.


Buruannya sudah ia dapatkan. Entah apa yang membuat Matthew berfikir picik dan rendah seperti itu. Pikirannya sudah kacau dan tidak bisa berfikir jernih bila sudah tentang Irina.


Apalagi, Irina bagi Matthew adalah satu satunya wanita yang sulit ia dekati dan tembus dengan mudah pendekatannya.


Setelah Irina kini sudah pingsan. Matthew langsung mengendong Irina dan membawa wanita yang ia gilai itu ke tempat tidur.


"Sempurna. Malam ini kita kan bersenang-senang Irina. Andai kau tidak pingsan. Percintaan kita pasti akan panas. Masa bodoh aku menjamah mu saat kau pingsan. Yang penting hasrat ku tersalurkan pada mu." ucap Matthew, yang kini sedang menikmati kecantikan wajah Irina dengan jarak yang dekat.


"Kau bidadari ku, kau istri ku. Walau kita belum menikah. Kau buat aku gila. Gila seperti apa yang akan aku lakukan pada mu. Aku tidak peduli dengan hal lain. Yang penting kita bersenang-senang malam ini. Aku butuh mencairkan hasrat ku. Jika tidak, tiap malam aku merasa pesakitan itu Irina sayang." ucap Matthew dengan kata-kata posesif akut.


Dengan keringat yang sudah membanjir tubuh polosnya. Matthew terlihat sibuk di atas tubuh polos Irina.


Pria lajang itu tengah sibuk untuk meluapkan, menyalurkan dan mencairkan sesuatu yang sudah lama ia tahan.


Meski lawannya tidak bisa mengimbangi permainannya dan ia hanya bermain sendiri. Matthew sudah cukup puas untuk berada di atas tubuh Irina dan melakukan apa saja yang bisa ia ingin lakukan dengan tubuh wanita yang masih pingsan itu


Baru bermain sekitar 30 menit. Cairan berwarna vanila itu telah keluar. Matthew pun merasakan kelegaan.


"Kau luar biasa Irina ku." desis Matthew, merasakan kelegaan saat hasratnya telah mencair. Meski demikian, Matthew tidak lantas puas.


Menyadari jika Irina mungkin akan segera siuman. Matthew yang sudah dibuat gila dengan tubuh Irina pun kemudian kepikiran untuk melakukan sesuatu yang lebih gila lagi.


"Aku ingin melakukan lagi dengan mu setelah kau siuman Irina. Aku ingin mendengar ******* mu." ucap Matthew yang benar-benar sudah tidak waras jika sudah bersama Irina.