After One Night Stand With CEO

After One Night Stand With CEO
Menggila



Kini, gairah Matthew kembali naik. Tubuh mereka pun saling menempel satu sama lain bagaikan puzzle.


Desiran aneh itu kembali menguasai Irina. Membuat hatinya kembali bergetar. Darah yang mengalir dalam dirinya pun mulai panas. Nafas keduanya pun kini sudah semakin memburu.


"Mari kita mulai permainan kita yang kedua." Bisik Matthew, mulai mengatur posisinya.


"Apa yang kau rasakan." Bisik Matthew tepat di telinga Irina dengan suara lirih yang mengalun merdu.


"Aku tidak merasakan apa-apa." jawab Irina berbohong. Padahal ia merasakannya sesuatu yang panas di bawah.


"Kau basah. Aku tau apa artinya itu." Ucap Matthew merasa menang.


Napas Irina makin memburu. Kala Matthew kembali berexplorasi pada dirinya. Sensasi yang di hasilkan dari aktivitas yang di lakukan Matthew benar-benar membuat Irina melayang.


Makin lama Matthew makin cepat untuk memainkan permainan panasnya. Sampai-sampai tubuh Irina mengelijang.


Reflek, kedua tangan Irina kini menyusup masuk ke rambut Matthew dan ia nampak sedikit menjambak rambut Pria kaya tersebut. Andai yang melakukan itu bukan Irina. Ia sudah mengusir wanita itu. Tapi karena yang menjambak rambutnya ada Irina. Matthew justru senang. Karena itu tandanya, Irina juga menikmati.


Matthew makin panas dan bergelora. Ia senang dengan reaksi Irina yang makin berani untuk mengimbangi permainan.


"Bagus Irina." ucap Matthew dalam hati. Karena ia tau, Irina saat ini terbawa dengan aktifitas mereka saat itu. Dan permainan mereka semakin menggila.


Dengan posisi intim seperti itu. Keduanya sepertinya sama-sama meleburkan diri untuk saling bisa memberikan kenikmatan satu sama lain.


Entah apa yang merasuki pikiran Irina. Malam ini ia sungguh nakal. Dan ia benar-benar seorang ja la ng.


Sambil terus memainkan permainan. Tangannya Matthew terulur untuk menyingkirkan beberapa helai rambut panjang Irina yang berserakan menutupi wajahnya yang sayu.


Hingga pada di titik *******. Matthew mengerang penuh kenikmatan dengan aktifitas seksual yang ia lakukan bersama Irina.


Dan setelah itu, tubuh Matthew ambruk tepat di atas tubuh Irina yang juga sudah tak berdaya.


Keringat yang bercucuran dari tubuh keduanya kini seolah tengah melebur menjadi satu. Tidak ada aroma keringatmu atau keringatku. Yang ada adalah keringat mereka.


"Tolong, menyingkirlah dari tubuh ku. Aku tidak bisa bernafas." Keluh Irina, saat tubuhnya tertindih tubuh Matthew.


Matthew yang masih nampak lemas itupun kemudian menggulingkan tubuhnya ke samping. Dan kini ia pun terkapar di sebelah Irina.


Dengan langkah berat. Matthew bangkit dari sofa dan ia kemudian mengambil wine yang sudah ia siapkan tadi di atas nakas.


Kemudian ia membawa wine tersebut kepada Irina. Dan menyuruh Irina untuk meminumnya.


Sebelumnya Irina menolak. Tapi karena ia dipaksa oleh Matthew. Membuat Irina akhirnya mau untuk meneguk wine itu. Bahkan Irina meminumnya sampai tandas.


Dengan keadaan yang masih lemas. Matthew meraih tubuh Irina dan membawanya ke tempat tidur.


Kemudian ia meletakkan Irina untuk bisa tiduran di atas bantal. Setelah itu ia ikut rebahan di dekat Irina dan kemudian Matthew menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.


"Terimakasih Irina sayang. Aku tidak akan melepaskan mu." Bisik Matthew, Irina sudah tidak bereaksi. Ia sepertinya sudah terlelap dalam tidurnya.


Matthew sengaja membubuhkan obat tidur kedalam wine yang Irina minum tadi. Ia tidak ingin Irina pergi setelah mereka selesai beraktivitas.


Sebuah malam yang panjang, yang panas, dan tidak pernah akan terlupakan bagi keduanya malam ini.


Dimana malam ini menjadi pergumulan panas paling dan dahsyat yang mereka rasakan.


Paling nikmat yang permainan itu adalah Matthew. Matthew ingin tidur sambil memeluk Irina. Semua keinginan tercapai.


Pagi pun tiba. Matthew yang baru saja selesai mandi. Kemudian keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk yang melingkar di pinggangnya.


Matthew kemudian berganti baju di samping Irina yang kala itu masih tertidur dengan sangat pulas dan masih polos di bawah selimut.


Sambil mengenakan celana panjangnya, Matthew menengok ke arah Irina. Dan kemudian ia tersenyum.


Percintaan yang mereka lakukan semalam membuat Matthew segar pagi ini.


Sambil terus bersiap untuk segera meninggalkan kamar hotel. Matthew tak henti hentinya menoleh ke arah wanita yang semalam membuatnya gila itu.


"Kau luar biasa Irina, kau berhasil membuat ku puas dan terpuaskan untuk sekian lama." Gumam Matthew.


Setelah dirinya rapi dengan mengenakan pakaian kantornya. Matthew untuk beberapa saat memandangi wanita yang masih meringkuk itu.


Kemudian ia mencondongkan tubuhnya dan mencium kepala Irina dengan lembut. Setelah itu ia pergi meninggalkan kamar hotel.


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Tepat pukul sepuluh pagi, Irina baru saja mengerjapkan kedua matanya. Setelah semalaman ia sibuk melayani pria yang di anggapnya misterius.


Irina merasakan sekujur tubuhnya kini terasa sakit semua. Dan kepalanya juga terasa sedikit pening.


Untuk bisa bangkit dari tempat tidur pun Irina nampak terlihat letih.


Semalam benar benar sebuah malam yang begitu panjang dan panas yang pernah ia lalui. Dan pria itu benar-benar menggila padanya.


Rasa pusing yang Irina rasakan begitu membuatnya malas untuk bangun sebenarnya.


Tapi, ia harus tetap bangkit dan harus segera meninggalkan kamar hotel. Karena ada hal penting yang harus ia urus dan selesaikan pada hari ini.


Mengabaikan rasa pusing yang mendera kepalanya. Irina mencoba untuk bangkit dan duduk di atas tempat tidur untuk membuatnya bisa sadar sepenuhnya.


Irina pun merasa sangat aneh kenapa ia bisa tidur dengan begitu lelap. Dan ketika ia bangun. Kini kepalanya menjadi pusing.


Padahal ia tidak pernah bangun siang jika berada di rumah. Karena ia harus bangun pagi dan membantu sang Mama untuk masak.


Karena dalam keadaan sang Mama yang juga kurang sehat. Irina tidak bisa membiarkan mamanya melakukan sendiri tugas tugas di rumah.


Dengan meraih sebuah selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos. Irina yang tadi hanya duduk diam untuk memulihkan konsentrasinya. Kemudian ia meraih ponselnya yang ia letakan di atas nakas yang ada di sisi tempat tidur.


Ia kemudian mengaktifkan ponselnya. Setelah semalaman ia mengnonaktifkan.


Irian kemudian mulai mengecek apakah ada panggilan dan pesan yang masuk di ponselnya.


Setelah ia menyalakan data online pada ponsel. Seperti biasa hanya pesan dari sang Mama dan sahabatnya Maya yang memenuhi ponsel milik Irina.


Irina sendiri tidak menyimpan banyak nomor. Kecuali teman dan juga beberapa orang saja yang dekat.


"Kamu dimana Irina. Kenapa belum pulang." Tulis pesan Bu Ratih. Mama dari Irina.


"Irina masih di tempat teman Ma. Mungkin sore Irina baru bisa pulang. Ada beberapa urusan penting yang harus Irina selesaikan bersama Maya." Balas Irina pada sang mama berbohong seketika itu.


Setelah membalas pesan singkat sang Mama. Irina yang kala itu baru saja hendak berlalu ke kamar mandi. Di kejutkan dengan bel kamar hotel yang berbunyi.


Hal itu membuat Irina kemudian buru-buru ingin memakai pakaiannya kembali. Saat Irina hendak memakai pakaiannya. Pakaian yang ia kenakan semalam justru tidak terlihat di ruangan kamar hotel.