After One Night Stand With CEO

After One Night Stand With CEO
Melarikan dia ke rumah sakit



Berada di bawah guyuran air shower di kamar mandi. Matthew yang pada saat itu tengah membersihkan diri nampak berpikir dalam diamnya.


Ia membiarkan saja air shower itu mengguyuri tubuhnya. Namun sebenarnya, saat itu hati, pikiran dan perasaan Matthew tengah berkecamuk.


Setelah dirinya kini sadar seratus persen dari pengaruh minuman beralkohol. Barulah Matthew bisa berfikir jernih dan rasional.


"Apa yang aku lakukan pada Irina."


"Percuma. Percuma saja aku menyesal. Tidak ada gunanya. Aku sudah menyakiti dia. Aku egois, memang egois." ucap Matthew bermonolog.


Menyelesaikan ritual bersih bersih di kamar mandi. Matthew kemudian keluar dari kamar mandi dan mengenakan kembali pakaiannya.


Sambil mengenakan pakaiannya di sisi ranjang. Mata Matthew terus memperhatikan Irina yang masih tergeletak tak berdaya di atas tempat tidur.


Merasa ada sedikit keanehan. Matthew kemudian menyalakan lampu. Begitu lampu di nyalakan. Mata Matthew terbelalak kaget ketika ia melihat darah menodai sprei putih kamar hotelnya.


"Irina." Seru Matthew panik.


Seketika itu hati Matthew langsung diliputi ketakutan dan kekhawatiran. Dengan segera, Matthew melepaskan pengikat tangan dan kaki yang ia lakukan pada Irina.


"Apa yang aku lakukan pada mu Irina" ucap Matthew sambil tergugup.


Setelah kedua tangan dan kaki Irina terbebas. Matthew langsung mengambil kembali pakaian Irina yang tercecer di lantai. Kemudian ia mengenakan kembali semua pakaian Irina yang ia tanggalkan beberapa jam yang lalu.


Matthew kemudian memeriksa wajah Irina. Wajah cantik itu kini terlihat pucat. Cekungan hitam di kelopak matanya menandakan bahwa wanita yang ia dekap saat ini yang masih dalam keadaan pingsan itu sepertinya terlihat lemah kondisinya.


Belum lagi darah segar yang keluar dari kewanitaan Irina membuat Matthew merasa sangat ketakutan.


Kenikmatan yang Matthew rasakan beberapa jam yang lalu kini membuat ia diliputi rasa kekhawatiran dan cemas.


Dengan pelan, Matthew meletakkan kepala Irina di atas bantal. Kemudian ia bergegas kearah dimana ia melekatkan ponselnya. Setelah ia mendapatkan ponselnya. Matthew langsung menghubungi seseorang.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Di sebuah ranjang yang cukup mewah. Sepasang suami istri tengah berpeluh keringat di atas ranjang mereka.


Ranjang itu terlihat bergetar ketika dua orang yang berada di atas tersebut nampak sibuk melakukan aktivitas panas suami istri.


Dua orang itu adalah Rio dan Clarissa. Karena pada malam itu adalah malam di mana mereka tengah asik menikmati malam pertamanya sebagai pengantin baru.


Tidak ingin permainannya berhenti di tengah jalan.Rio mengabaikan panggilan teleponnya yang terus-menerus berdering itu.


Karena Rio disibukkan melakukan percintaan dengan Clarissa.


Makin Rio mengabaikan, justru panggilan telepon kepada Rio terus-menerus berdering. Sehingga membuyarkan konsentrasi Rio yang kala itu masih belum puas memainkan aksinya.


"Kau lupa mematikan ponsel mu sayang." keluh Clarisa, merasa kesal karena aktifitasnya di ganggu.


"Sebentar ya sayang. Kurasa itu dari Bos." Rio pun kemudian bangkit dari atas tubuh Clarisa. Kemudian berjalan menuju dimana ia meletakkan ponselnya.


"Ada apa Bos? Tidak bisakah Bos memberikan aku kesempatan untuk tenang malam ini. Apa Bos lupa, malam ini adalah malam pertama ku." ucap Rio, dengan napas yang masih tersengal-sengal.


"Persetan dengan malam pertamamu sekarang. Kau dan Clarisa cepat pergi ke hotel A. Aku membutuhkan kalian berdua sekarang juga. Jika kalian tidak datang, siap-siaplah kalian berdua akan aku pecat besok pagi. Aku tunggu kalian untuk datang segera tak kurang dari satu jam dari sekarang." ucap Matthew, yang kemudian langsung mematikan ponselnya secara sepihak.


Rio yang baru saja selesai menerima panggilan dari Matthew pun merasa sedikit kesal. Karena Bosnya itu sudah mengganggunya.


Tapi, jika Matthew sudah memerintah. Rio tidak bisa untuk tidak patuh pada sang atasan.


"Pak Matthew memanggil kita. Sepertinya malam ini kita ada kerjaan. Dan aku tidak tahu pekerjaan apa itu. Ayo ke kamar mandi. Kita harus membersihkan diri dulu. Setelah itu kita pergi ke hotel A. Karena Bos menyuruh kita untuk kesana." ucap Rio, yang kemudian ia berlalu terlebih dahulu ke kamar mandi.


Dan mau tak mau, Clarisa pun akhirnya mengikuti Rio.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Kini Rio dan Clarissa sudah berada di dalam mobil dan menuju sebuah hotel di mana Matthew menyuruh mereka untuk datang ke sana.


"Kamu itu tega sekali sih tidak memberikan kesempatan pada kita untuk menikmati malam ini berdua dan mengabaikan perintah Pak Matthew. Apa dia lupa malam ini adalah malam pertama kita." keluh Clarisa.


"Sudahlah lupakan itu. Toh kita sekarang juga sedang menuju tempat di mana Bos telah menunggu kedatangan kita. Aku tidak tau pekerjaan apa yang akan kita kerjakan. Tapi tenang saja sayang, di saat kita dipanggil secara darurat seperti ini. Kita pasti akan mendapatkan imbalan yang besar."


"Kau selalu lebih mementingkan uang."


"Tidak apa apa sayang. Lagi pula kita kan sudah bermain tadi beberapa ronde. Jadi malam pertama kita sudah kita jalani dan sudah berlalu. Saatnya kita cari uang tambahan." kikik Rio, dan satu pukulan keras mendarat ke pundak Rio.


"Setidaknya kau punya privasi. Ya sudahlah, kali ini aku menurut."


Tak kemudian, Clarisa dan Rio kini telah sampai di hotel.


Mereka pun kemudian langsung bergegas ke unit kamar hotel yang Matthew tempati.


Begitu sepasang suami istri itu masuk ke kamar hotel. Baik Rio dan Clarisa nampak kaget. Karena ada Irina di sana bersama dengan Matthew.


Irina yang tergeletak tak berdaya di atas tempat tidur itu kini menjadi pemandangan yang mengagetkan bagi Rio dan Clarisa.


Clarisa pun heran ketika ia melihat keadaan Irina yang seperti itu. Secara insting, sebagai sesama wanita, mata Clarisa menyempit dan melirik ke arah Matthew dengan pandangan menuduh.


"Apa yang terjadi dengan Irina Pak Matthew. Kenapa dia seperti itu dan bagaimana bisa Irina bersama Bapak?" tanya Clarisa dengan pertanyaan menyelidiki.


Rio kemudian memberi kode pada sang istri untuk tidak banyak tanya.


Matthew tak menjawab pertanyaan Clarisa. Tapi ia kini malah memerintah.


"Jangan banyak tanya Carissa. Cepat bawa dia ke rumah sakit. Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan Irina. Kamu harus urus ini dengan Rio." desis Matthew dengan wajah penuh kecemasan.


Matthew kemudian kembali berjalan ke arah ranjang dan kemudian ia meraup tubuh Irina untuk bisa ia bopong.


Mendapat perintah dari sang atasan. Rio dan juga Clarissa pun langsung melaksanakan tugas yang diberikan oleh Matthew.


Dengan gedong oleh Matthew, kini Irina dibawa menuju tempat parkiran mobil. Dimana mobil Rio sudah siap disana.


Rio dengan cekatan langsung menyalakan mobil dan Clarisa membantu membukakan pintu mobil agar Matthew bisa dengan mudah masuk bersama dengan Irina yang masih berada dalam dekapannya.


"Menuju rumah sakit terdekat Rio, cepat." perintah Matthew.


"Siap Bos."


"Dan kau Clarisa. Aku menugasi diri mu untuk mengurusi Irina. Kau bersama Rio harus memantaunya dan berikan kabar pada keluarga atau sahabat Irina kecuali Jacob. Kabarkan pada mereka jika Irina mengalami kecelakaan. Agar keberadaan Irina tidak membuat keluarganya cemas. Setelah itu kabari aku tentang perkembangan Irina. Jangan tanyakan apapun pada nya jika dia sudah siuman." Ujar Matthew memberikan Clarisa dan Rio arahan.


"Siap Pak Matthew." jawab Clarisa patuh.


"Dan kau Rio, tetaplah berada Clarisa di rumah sakit."


"Siap Bos." jawab Rio yang selalu siaga pada Matthew.