After One Night Stand With CEO

After One Night Stand With CEO
Rencana Jahat Matthew



Sesampainya di apartemen kedatangan mereka disambut oleh Bik Nana, sang asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja untuk Matthew.


"Akhirnya tuan Matthew membawa juga pacar tuan Matthew ke apartemen ini untuk sekian lama." Ujar Bik Nana, yang menyangka jika Irina adalah pacar Matthew.


Irina nampak kaget saat Bik Nana menyebut dirinya adalah pacar Matthew. Matthew sendiri hanya tersenyum tipis menanggapi sergahan Bik Nana yang menyatakan jika Irina adalah pacarnya.


"Dia bukan pacarku Bik. Tapi aku tidak tau kedepannya nanti." Tukas Matthew sambil tersenyum kecil.


"Namanya Irina, dia salah satu karyawan baru di perusahaan. Aku sengaja mampir dulu ke apartemen karena ada sesuatu yang ingin aku ambil. Dan sekalian saja aku ajak dia mampir ke sini. Supaya dia tahu jika aku tinggal di sini." imbuh Matthew.


"Oh begitu, ini sudah jam tiga sore tuan. Sudah waktunya saya untuk pulang. Untuk makan malam saya sudah siapkan di meja makan." Ucap Bik Nana pamitan. Karena Bik Nana memang tidak tinggal di apartemen.


"Oh, ya sudah. Terimakasih Bik, hati hari." ucap Matthew pada sang Bibik.


"Saya tinggal dulu Non Irina. Santai saja si sini. Jangan kawatir, tuan Matthew orang baik." ucap Bik Nana, yang melihat Irina nampak sedikit cemas.


"Oh iya Bik." jawab Irina singkat sambil mengulas senyum tipis pada Bik Nana.


Sepeninggal Bik Nana, Matthew mengajak Irina untuk ke ruang tengah di apartemennya yang mewah.


" Selamat datang di tempat tinggal ku Irina. Disinilah aku tinggal sendirian." ujar Matthew ramah. Irina hanya tersenyum membalas sikap Matthew.


"Duduklah, aku ambilkan kamu minum dulu." Matthew kemudian pergi ke dapur mewah miliknya dan ia mengambil sesuatu dari dalam lemari pendingin.


Sambil sesekali melirik ke arah Irina. Matthew nampak menuangkan jus kemasan kedalam sebuah gelas bening.


Tapi, Matthew nampak membubuhkan sesuatu kedalam minuman yang akan ia berikan pada Irina.


Matthew sendiri menuangkan wine kesukaannya kedalam gelas bening yang lain.


"Minumlah itu Irina. Pasti kamu haus." Ucap Matthew, sambil memberikan segelas minuman pada Irina.


"Maaf Pak, saya tidak minum." Jawab Irina, mencoba menolak.


"Tenang saja, ini bukan minuman beralkohol. Ini minuman biasa. Hanya jus apel." ucap Matthew menjelaskan.


"Kamu tunggu dulu di sini sebentar ya. Aku mau ambil sesuatu di kamar." Ucap Matthew.


"Baik Pak, saya akan tunggu."


Matthew pun kemudian bergegas berjalan menuju kamarnya. Matthew sengaja memperlama keberadaannya di kamar. Karena Matthew memang sudah merencanakan sesuatu.


Matthew nampak menunggu sesuatu terjadi pada Irina.


Setelah ia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya telah menunjukan bahwa ia telah 15 menit berlalu dari hadapan Irina. Matthew dengan penuh rasa yakin. Keluar dari dalam kamar menuju ruang tengah.


Dan, benar saja. Sesuatu terjadi pada Irina. Wanita itu sudah terkulai lemas tidak berdaya bersandar pada sofa yang ia duduki.


Melihat itu, Matthew pun tersenyum puas.


Irina kala itu tertidur dengan pulas setelah Matthew dengan sengaja memberikan Irina obat tidur.


Dalam keadaan apartemen yang sangat sepi. Hanya ada dirinya dan juga Irina. Sebuah niat jahat pun muncul di benak Matthew.


Kebetulan pada saat itu juga ia sedang bergairah dan ingin melepaskan segala hasrat yang sudah beberapa bulan terpendam.


Dengan tatapan tajam, Matthew kemudian menghampiri Irina yang sudah tergeletak tidak berdaya yang bersandar di sofa tersebut.


Tidak ingin mengulur waktu. Matthew segera meraup tubuh Irina kedalam gendongannya. Dengan sekali raup, kini tubuh Irina sudah berada dalam gendongan Matthew ala gendongan bridal style.


Dengan senyum penuh kemenangan, Matthew membawa tubuh Irina masuk ke kamarnya.


"Kita bersenang-senang sebentar ya Irina ku sayang" ucap Matthew.


Nampak puas dengan barang buruannya yang telah ia kuasai.


Entah apa yang Matthew pikirkan. Dengan gairah yang sudah ia tidak bisa tahan kerap kali ia melihat Irina pada hari itu. Matthew nampaknya telah merencanakan untuk bisa kembali menikmati tubuh Irina dengan cara membuat Irina tidak menyadari jika dirinya akan dikuasai oleh Matthew.