
Pagi itu dilalui dengan begitu semangat oleh Matthew ketika ia masih berada di apartemennya.
Setelah ia bangun pagi pagi sekali, Matthew biasa langsung melakukan gerakan exercise di dalam kamarnya.
Biasanya ia akan melakukan push up dan juga sit up beberapa kali. Sebuah rutinitas dan kebiasaan yang selalu Matthew kerjakan ketika ia bangun tidur.
Setelah tubuhnya mendapatkan keringat. Matthew berhenti sejenak untuk mengistirahatkan tubuhnya sambil mengecek ponselnya.
Setelah itu barulah ia berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan kemudian bersiap untuk ke kantor.
Dengan mengenakan handuk yang melingkar di pinggangnya. Matthew kembali memasuki ruangan kamarnya dan memilih baju apa yang akan ia kenakan untuk ke kantor.
Setelah selesai dengan pakaian yang ia sudah kenakan. Kini Matthew berjalan menuju sebuah meja rias yang ada di kamarnya. Seperti biasa ia merapikan rambut dan menyemprotkan parfum ke tubuhnya.
Satu hal yang membuat Matthew harus berhati-hati soal parfum kali ini. Karena ia tidak ingin Irina mengenali dirinya dari aroma parfum yang dulu biasa ia gunakan.
Kini Matthew mengganti wewangian yang ia pakai.
"Aku yakin, kamu pasti masih bisa mengingat aroma parfum yang dulu aku pakai pada malam itu. Karena wewangian yang aku pakai juga kamu menggila. Kau tau Irina, sejak saat itu lah. Pikiran ku tidak berhenti memikirkan mu. Aku terobsesi dengan mu. Sampai sampai aku sudah tidak punya nafsu dan gairah dengan wanita lain. So, kau harus bertanggungjawab, kau harus menjadi milik ku. Entah bagaimanapun caranya." Guman Matthew, sambil menatap bayangan dirinya di cermin.
"Selamat pagi Tuan Matthew." sapa Nana, asisten rumah tangga Matthew yang sudah lama bekerja dan mengurus Matthew di apartemen. Ketika ia melihat tuannya tengah menuruni anak tangga dan berjalan menuju meja makan.
"Pagi Bik," sahut Matthew, kemudian ia duduk di kursi kebesarannya di meja makan.
"Sarapan Anda sudah siap. Menu sarapan request Anda hari ini." Ucap Nana, seraya menyodorkan sepiring spaghetti di hadapan Matthew.
"Terimakasih Bik."
"Sama sama, tumben tuan minta sarapan yang berat pagi ini?"
"Oh, karena hari ini adalah hari yang pajang Bik." Jawab Matthew sambil tersenyum manis.
Entah ada energi apa yang membuat ia pagi itu merasa sangat bahagia.
"Aku bisa liat itu di wajah mu tuan." Sahut Nana.
"Oke, selama menikmati sarapan berat mu." Ujar Nana, kemudian ia berlalu dari hadapan Matthew sambil tersenyum jail.
ππππππππππππ
Irina mengisi jabatan sebagai marketing di perusahaan tempat ia bekerja. Posisi itu sudah didiskusikan langsung oleh Carissa terhadap Matthew.
Karena kebetulan, posisi itu saat ini sedang membutuhkan tenaga. Dan Irina sepertinya cocok untuk mengisi jabatan tersebut.
"Jika ada hal hal yang tidak kamu ketahui. Tanyakan langsung saja pada ku itu Irina. Ini adalah ruang kerja mu " Ucap Clarisa, yang saat itu memberi tau ruang kerja Irina yang pagi itu sudah siap untuk memulai pekerjaannya.
"Terimakasih Bu Clarisa."
"Panggil aku Clarisa saja, jangan Bu." Sahut Clarisa ramah.
"Oh, saya tidak enak Bu. Saya kan baru di sini. Anda kan sekertaris Pak Matthew."
"Terserah kamu saja Irina. Yang penting kamu nyaman di sini. Selamat bergabung di perusahaan kami. Dan semoga kamu betah serta nyaman bekerja di perusahaan ini." Ucap Clarisa memberikan semangat.
"Ia Bu, terimakasih."
ππππππππππ
Sudah satu bulan lamanya Irina bekerja di perusahaan Alfaro company groups. Sebuah perusahaan yang bergerak dalam ekspor impor yang didirikan oleh keluarga Alvaro. Dimana Matthew sebagai presiden direktur utama di perusahaan tersebut.
Tidak ada banyak kendala Irina alami selama ia bekerja di perusahaan itu. Meksi ia adalah seorang karyawan baru dan juga baru saja terjun dalam dunia kerja di perkantoran. Irina tetap bisa menguasai diri dan memberikan kontribusi dalam bidang yang ia kerjakan.
Irina juga tidak mengalami kesulitan dalam mengerjakan semua tugas-tugasnya. Irina menjabat sebagai marketing pemasaran di perusahaan Alvaro company.
Mengambil jurusan bisnis semasa ia berkuliah. Semua ilmu yang ia pelajari pun memberikan Irina kontribusi juga dalam menjalankan tugas tugas perusahaan yang ia jalani saat ini.
Selain sukses menaklukkan pekerjaannya, Irina juga cukup piawai dalam menjalin relasi dengan karyawan yang lain.
Dan apa yang sudah bisa Irina capai tidak luput dari pantauan dan juga perhatikan Matthew.
Malam itu di kantor ada rapat penting membahas sebuah kerja sama dengan pihak asing. Matthew, Clarisa, Rio dan juga beberapa staf penting perusahaan ikut meeting dalam rapat saat itu. Begitu juga dengan Irina. Ia pun juga turut ikut serta dalam meeting.
Barulah sekitar pukul sebelas malam meeting telah selesai.
"Clarisa, tolong bereskan semua dokumen dokumen itu dan susun dengan rapi. Aku akan memeriksanya besok pagi. Setelah kau bereskan semuanya kalian semua boleh pulang." Ujar Matthew, yang kala itu masih ada di kursinya setelah pembahasan rapat selesai.
"Baik Pak Matthew." Jawab Clarisa.
Irina yang kala itu tengah bersiap-siap juga untuk pulang. Tidak menyadari jika Matthew sejak tadi mencuri curi pandang terhadap dirinya.
π¨Rio, kau dan Clarisa pulang bersama ku malam ini. Saat nanti kita melewati lobby. Tawarkan para Irina untuk ikut masuk ke mobil. Kita akan antarkan dia pulang. Jadi, tugas mu adalah menawari dia tumpangan.
Matthew terlihat mengirim sebuah pesan singkat pada Rio. Rio yang kala itu sudah membaca pesan singkat yang Matthew tulis pun tersenyum paham.
π¨ Siap, beres Bos.
Balas Rio singkat.
"Irina, kau pulang dengan apa?" Tanya Clarisa nampak berbasa-basi pada Irina menanyakan Irina akan pulang dengan menaiki moda transportasi apa.
"Saya akan naik taksi Bu. Biasanya saya naik ojek online. Tapi karena sudah malam. Takut juga Bu naik ojek online." Jawab Irina jujur.
"Oh, hati hati ya pulang." Ucap Clarisa mengikatkan, ketika ia sudah selesai membereskan beberapa file dokumen dimeja dan kini ia bergegas untuk meninggalkan ruang rapat.
Saat Irina sudah selesai berkemas. Ia pun kemudian berjalan menuju sebuah lift. Setelah ia masuk kedalam lift. Tak sengaja ia bertemu dengan Matthew yang kebetulan saat itu hanya ada dia sendirian di dalam lift.
"Pak Matthew, selama malam." Sapa Irina, yang mau tak mau harus menyapa sang Bos. Sebagai bentuk ia punya sopan santun.
"Malam." Jawab Matthew sok dingin. Padahal dirinya kini sudah gemetaran dan berkeringat dingin.
"Bagaimana dengan hari hari mu selama bekerja di perusahaan ku. Apa semua lancar dan kau betah?" Matthew memberanikan diri untuk bertanya.
"Syukurlah, saya betah Pak. Saya bersyukur bertemu dengan teman teman yang hebat dan baik dengan saya. Saya juga tidak mengalami banyak kesulitan dalam mengerjakan semua tugas-tugas saya." sahut Irina mencoba untuk bersikap ramah pada Matthew.
"Baguslah kalau begitu. Pertahankan kinerja mu."
"Siap Pak."