
Keringat dingin sempat melanda Irina ketika ia memikirkan janin yang terbuang begitu saja di tong sampah.
Dan Irina sempat over thinking karena ia juga takut dirinya hamil. Setelah melihat kejadian yang terjadi di kampus tentang pembuangan sengaja janin di tong sampah. Membuat Irina berfikir.
Jika semisal itu terjadi pada dirinya. Apakah ia akan melakukan hal yang sama? Mengugurkan kandungannya?
Irina kemudian menghitung mundur kapan ia melakukan hubungan itu dengan pria yang telah membelinya. Kala itu Irina juga sudah meminum pil kontrasepsi untuk berjaga-jaga.
Irina juga tidak sebodoh itu untuk membiarkan dirinya hamil.
Rasa lega melingkupi hati Irina saat ia ingat kejadian itu sudah hampir tiga Minggu berlalu. Dan dirinya saat ini juga tengah menstruasi.
Jadi artinya, kekhawatirannya tidak akan terjadi.
"Untung saat itu aku minum pil kontrasepsi. Dan saat ini aku juga sedang menstruasi. Jadi aku tidak mungkin hamil."
Mencoba untuk kembali fokus pada apa yang ingin ia lakukan selanjutnya pada hari itu. Irina dengan menghela nafas panjang kembali fokus pada dirinya.
Ia mencoba untuk mengumpulkan segenap energi untuk melanjutkan aktivitasnya pada hari itu.
Hari itu adalah hari pertama Irina bekerja di toko kue.
Yang mana toko kue itu bersedia mempekerjakan dirinya secara freelance. Dengan upah yang sudah saling disepakati.
Irina akan mendapatkan upah langsung pada hari itu selepas ia selesai dengan pekerjaannya.
Karena sejak awal Irina memang minta upahnya untuk di bayarkan setelah ia selesai bekerja.
Irina sangat bersyukur. Sang pemilik toko kue begitu baik hati mengabulkan permintaannya untuk di mintai upah langsung.
Di hari pertamanya bekerja. Irina disambut baik dengan beberapa rekan kerja di toko kue tersebut.
Kepiawaian Irina yang bisa membaur dengan lingkungan baru membuat orang-orang yang berada di sekitar Irina begitu menyukai Irina.
Di tambah lagi sikap Irina yang ramah serta terlihat cerdas. Semakin membuat rekan kerjanya menyukai Irina.
Sehingga Irina pun bisa diterima dengan baik di tempat kerjanya yang baru tanpa drama.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Bos, dia sudah mulai bekerja hari ini. Aku sudah memperhatikannya dari kejauhan. Dia nampak bahagia bisa bekerja di toko kue itu." Lapor Rio kepada Matthew. Karena sudah beberapa hari ini Rio masih menguntit Irina.
"Berapa upah yang didapatkan dia dari bekerja seharian di toko kue itu? Sampai-sampai dia menolak tawaran besar dari bayaran yang aku berikan untuknya dalam semalam. Aku yakin, dia tidak akan mendapatkan upah tidak lebih dari seratus ribu dalam hari penuh dia bekerja di sana. Naif sekali dia." Ucap Matthew sinis.
"Apa perlu aku cari tahu Bos. Berapa gaji yang ia terima di sana?"
"Untuk apa Bos ingin bertemu dengan pemilik toko itu?" Tanya Rio penasaran.
"Bukan urusanmu Rio. Kamu hanyalah bawahan ku. Tidak semua hal yang ada dalam pikiranku kamu harus tahu. Cari cara bagaimana pun agar aku bisa bertemu dengan pemilik toko kue tempat Irina bekerja. Dan selanjutnya kamu atur pertemuan aku dengan sang pemilik toko." Perintah Matthew pada Rio, orang yang sudah lama kerja sebagai asisten kepercayaannya tersebut.
"Siap Bos. Saya akan laksanakan tugas yang Bos berikan."
Sudah sangat tahu dan paham dengan karakter Matthew. Rio pun hanya bisa tersenyum pada atasannya. Dan p ia harus segera membereskan semua perintah yang sudah Matthew berikan.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Setelah mendapatkan informasi dan membuat sebuah pertemuan dengan sang pemilik toko kue. Rio kini mengatur pertemuan sang pemilik toko kue tempat Irina bekerja dengan Matthew di sebuah restoran.
Entah apa yang akan Matthew lakukan pada sang pemilik toko tersebut tersebut. Rio pun tidak tau.
Setidaknya, Rio bisa sangat berlega hati sudah bisa mengatur dan memfasilitasi pertemuan antara Matthew dengan sang pemilik toko kue tempat wanita incaran Bosnya bekerja.
Dari pertemuan dan pembicaraan tertutup yang di lakukan Matthew dengan Regina, sang pemilik toko kue. Tidak ada banyak hal yang bisa Rio dengar dari pembicaraan tersebut.
"Jadi, bagaimana? Kamu setuju dengan apa yang sudah aku bicarakan tadi." Ucap Matthew pada Regina.
"Saya setuju setuju saja Pak. Selagi saya juga mendapatkan keuntungan. Tanpa menyuruh saya untuk memperlakukan Irina dengan baik. Saya pun juga sudah memperlakukan Irina dengan baik. Karena saya melihat pribadi wanita muda itu yang begitu semangat. Sudah satu minggu ini dia bekerja dengan upah 100.000 ribu setiap hari. Dan upah segitu sudah cukup untuk seorang Irina yang bekerja 6 sampai 7 jam di toko kue ku." Papar Regina, memberi tau upah yang ia berikan pada Irina.
"Berikan dia upaya 500.000 per harinya. Dan aku akan membayarmu satu juta setiap harinya jika kau mau memberikan 500.000 untuk Irina. Jadi yang aku maksudkan adalah. Aku yang mengaji Irina. Bukan kamu. Aku juga akan membayarmu. Karena dia bekerja di toko mu. Anggap saja Irina berkerja di toko kue mu hanyalah sebuah formalitas. Jadi aku harap kita bisa bekerja sama. Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan dirinya. Perlakukan dia dengan baik. Tapi rahasiakan jika akulah yang sebenarnya yang mengaji dia."
"Bagaimana jika dia curiga dengan upah yang terlalu banyak dan langsung naik. Dia pasti curiga dan bingung. Para karyawan tidak paling tinggi di bayar 150.000 perhari."
"Carilah alasan yang masuk akal. Upah yang Irina terima jangan sampai salah seorang karyawan yang lain tau. Mereka akan cemburu pada Irina. Ini adalah kerjasama diam diam antara kita. Karena dia..... karena dia adalah calon istri ku." Ucap Matthew mengada ada. Padahal dalam hati. Ia memang sedang mengincar Irina.
"Saya paham Pak Matthew."
"Bagus."
Sebuah tawaran yang bagus dari Matthew mana mungkin Regina menolaknya.
Sebuah kerja sama yang sudah tentu sangat menguntungkan Regina. Sebuah kerjasama yang begitu menggiurkan tidak mungkin Regina tolak.
Dalam satu hari Regina mendapatkan satu juta dari Matthew dengan hanya mempekerjakan Irina.
Dan upah Irina pun juga sudah di tanggung oleh Matthew. Regina sendiri awalnya juga bigung dengan kedatangan Matthew yang tiba-tiba dan mengajaknya untuk berkerjasama.
Regina pikir Matthew akan mengajaknya dalam bentuk kerjasama soal toko kue miliknya. Tapi ternyata bekerjasama soal Irina.
"Laki laki jika sudah terobsesi dengan seorang wanita ternyata bisa segila itu." ucap Regina dalam hati. Sesaat setelah ia selesai meeting bersama Matthew.