
"Pak Matthew, selama malam." Sapa Irina, yang mau tak mau harus menyapa sang Bos. Sebagai bentuk ia punya sopan santun.
"Malam." Jawab Matthew sok dingin. Padahal dirinya kini sudah gemetaran dan berkeringat dingin.
"Bagaimana dengan hari hari mu selama bekerja di perusahaan ku. Apa semua lancar dan kau betah?" Matthew memberanikan diri untuk bertanya.
"Syukurlah, saya betah Pak. Saya bersyukur bertemu dengan teman teman yang hebat dan baik dengan saya. Saya juga tidak mengalami banyak kesulitan dalam mengerjakan semua tugas-tugas saya." sahut Irina mencoba untuk bersikap ramah pada Matthew.
"Baguslah kalau begitu. Pertahankan kinerja mu." Ucap Matthew, mencoba untuk memberikan semangat dan motivasi.
"Siap Pak."
Tak lama kemudian, pintu lift terbuka. Dan Matthew mempersilahkan Irina untuk keluar terlebih dahulu.
Irina dan Matthew sama sama berjalan menuju lobby. Berdiri berjarak beberapa meter, baik Irina dan juga Matthew terlihat sedang menunggu jemputan mobil.
Matthew berusaha untuk bersikap cuek dan sok cool pada Irina. Sebagai seorang atasan yang sudah menjadi fans Irina sejak beberapa bulan lalu. Hal yang sulit untuk Matthew kendalikan adalah sikap salah tingkah dan rasa ingin tau.
Tapi sejak Irina kini telah berada dalam lingkupnya. Sebisa mungkin Matthew harus bisa menahan diri agar tidak terlihat bersikap sarkas.
Ia ingin tetap di nilai Irina sebagai sosok yang dingin dan misterius. Agar Irina merasa penasaran dengan dirinya.
Irina kini dibuat gelisah dengan pesanan taksi onlinenya yang tidak kunjung datang. Karena suasana di kantor sudah lengang. Hanya ada seorang satpam yang bertugas di pos nya.
Tidak tahan untuk tidak melirik ke samping, ke arah Irina. Matthew kemudian menoleh dan mencoba untuk mengamati wanita yang sudah pernah dua kali ia cicipi tubuhnya tersebut.
Irina terlihat gelisah, sesekali ia melihat jam yang melekat di tangan kanannya. Rasa cemas itu menjadi sebuah pemandangan yang membuat hati Matthew kasian.
Di hati Matthew, kini ada sebuah perasaan ingin melindungi wanita yang saat ini berdiri beberapa meter darinya tersebut.
Sebuah perasaan ingin mendekati, melindungi dan juga memastikan bahwa perempuan itu tetap dalam kondisi baik-baik saja.
Seperti yang pernah ia lakukan beberapa bulan yang lalu ketika Irina hendak mendatangi seorang rentenir. Kala itu Matthew punya feeling untuk melindungi Irina. Dan ia pun menyuruh Rio dan beberapa orangnya untuk mengawasi Irina.
Dan benar saja, sebuah kejadian buruk mengancam Irina. Jika ia tidak menyuruh Rio untuk membuntuti Irina. Entah kejadian apa yang akan terjadi pada wanita yang ia obsesikannya tersebut.
Mobil milik Matthew kini sudah berhenti tepat di lobby. Rio lah yang menyetir mobil milik Matthew. Ada juga Clarisa yang duduk di kursi penumpang bagian depan di sebelah Rio.
Begitu mobil berhenti tepat di hadapan Matthew. Matthew pun langsung bergegas untuk masuk ke dalam mobil. Dan duduk di bangku penumpang bagian belakang.
Seperti yang sudah Matthew rencanakan. Rio kemudian menyuruh Clarisa untuk menawarkan tumpangan kepada Irina.
"Irina, ikutlah dengan kami. Ini sudah tengah malam, kami akan mengantarmu pulang." tawar Clarissa kepada Irina dari dalam mobil, saat mobil kini berada tepat di hadapan Irina.
"Saya sudah pesan taksi online Bu Risa. Sebentar lagi pasti mobilnya akan datang." jawab Irina, menolak dengan halus tawaran Clarisa. Dan ia juga merasa tidak enak hati untuk menumpang di mobil milik atasannya.
"Sudah tidak apa-apa Irina. Ayo masuk ke mobil. Ini sudah tengah malam, cansel saja pesanannya. Rio akan menghantarkan mu dulu. Pak Matthew juga tidak keberatan jika harus mengantarkan mu."
"Hemm, tidak usah Bu, terimakasih." Irina masih menolak.
"Bahaya tengah malam seorang perempuan seperti kita sendirian di taksi online Irina. Itu sebabnya aku di antara Rio. Pak Matthew juga tidak keberatan." Rayu Clarisa lagi.
Setelah memikirkan beberapa hal yang sangat krusial pada malam itu. Akhirnya Irina memutuskan untuk mau menerima tumpangan dari Clarissa.
"Baiklah Bu. Saya ikut."
"Kamu duduk di belakang ya." Sahut Clarisa, yang masih duduk di kursi penumpang bagian depan.
"Tidaklah Bu, saya tidak enak hati dengan Pak Matthew. Masa saya harus duduk dengan beliau."
"Tidak usah merasa tidak hati Irina. Sudah masuk saja, jangan buat pak Matthew malah marah karena lama beranda di lobby." Ujar Clarisa lagi.
Merasa tidak hati telah membuang waktu dan tidak menerima itikat baik sang Bos. Irina kemudian langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang bagian belakang bersama dengan Matthew yang telah duduk di sana sebelumnya.
Setelah Irina masuk. Rio kemudian kembali mengemudikan mobil untuk menuju ke apartemennya.
"Maaf Pak, jadi merepotkan." ucap Irina, ketika ia sudah duduk di samping Matthew.
"Tidak masalah Irina. kita semua searah. Lebih baik kita sama sama pulang. Kamu dan Clarisa kan perempuan. Bahaya sendirian malam malam begini " timpal Matthew dengan nada bicara santai.
Di sepanjang perjalanan, ketegangan dirasakan oleh Matthew. Karena ia kini duduk berdampingan dengan wanita yang membuat hatinya remuk redam.
Matthew sendiri mencoba untuk tetap bersikap dingin.
Sebisa mungkin ia bersikap cool dan tidak ingin menunjukkan sebuah sikap keramahtamahannya. Seolah Matthew tengah menjaga imagenya. Padahal dalam hati, perasaan Matthew seolah sedang meledak. Karena wanita buruannya berada dekat dengan dirinya.
Di tengah-tengah perjalanan, Rio ternyata mempunyai rencana lain.
Ia sengaja berhenti di depan Apartemen Clarissa dan membuat alasan jika ia akan menginap di rumah tunangannya tersebut.
Dan hal itu membuat Matthew dan Irina kini hanya berada berdua saja di dalam mobil.
Matthew kini pindah ke depan. Ia yang mengemudikan mobilnya sendiri. Sedangkan Irina pun terpaksa juga harus pindah ke kursi penumpang bagian depan bersampingan dengan Matthew.
Karena ia tidak enak hati jika tetap berada di kursi penumpang bagian belakang.
"Pakai sabuk pengaman mu Irina." Ucap Matthew mengikatkan.
"Oh, iya Pak." jawab Irina.
Irina pun kemudian menggerakkan tangannya untuk meraih sabuk pengaman yang ada di sisi pintu. Namun Irina merasa kesulitan.
Saat Irina kesulitan untuk menarik sabuk pengaman tersebut. Tau tau, secara spontan. Matthew bergerak mencondongkan tubuhnya ke arah Irina dan ia mencoba untuk membantu Irina menarik sabuk pengamannya.
"Jangan tarik terlalu kencang. Sabuk pengaman bisa stuck." Suara yang mengalun merdu itu seketika langsung membuat Irina membekuk. Karena Matthew berucap tepat di telinganya. Dengan jarak wajah mereka yang berdekatan.
Bola mata Irina kini menangkap sepasangan mata berwarna cokelat terang itu. Yang pada saat itu mereka saling bertatapan.
Wewangian yang Matthew gunakan sudah cukup membuat darah Irina berdesir.
Rahang tegas tersebut sepertinya tidak asing. Ia pernah menyentuh rahang tegas yang di seputaran dagunya ada bulu bulu halus sisa bekas cukuran.
Bisa Irina amati rahang itu seperti milik seseorang yang telah mengambil kesuciannya dua kali.