
"Tidak perlu sungkan Irina. Kau adalah teman. Sudah sepatutnya aku bantu kamu. Kalau begitu aku keluar ya. Kamu istirahat saja. Aku ada di luar bersama Rio."
"Iya Bu, terimakasih."
Selepas Clarisa pergi. Irina langsung menghubungi seseorang.
"Halo Irina." Sapa seseorang dari sebrang sana. Ketika ia menjawab panggilan telepon dari Irina.
"Halo, Maya. Aku butuh bantuan mu." Ucap Irina dengan suara bergetar, serta air mata yang sudah jatuh kembali di kedua pipi.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Setibanya di rumah sakit, dan ketika Maya sudah sampai di ruangan tempat di mana Irina dirawat. Wanita yang umurnya sebaya dengan Irina tersebut langsung memeluk dengan erat sahabatnya.
Sejak mereka lulus kuliah, baik Irina maupun Maya memang sudah jarang ketemu. Karena mereka disibukkan dengan pekerjaan masing-masing.
"Bagaimana kamu bisa sampai di rumah sakit seperti ini Irina. Apa yang terjadi?" tanya Maya ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya sehingga membuat Irina dirawat.
Mata Maya pun kemudian meneliti sesuatu yang ia tangkap. Sebuah luka lebam di pergelangan tangan Irina.
"Tanganmu kenapa Irina. Kenapa tanganmu terluka seperti itu." Ketika Maya menanyakan luka di pergelangan tangannya, otomatis Irina menyembunyikan pergelangan tangannya di bawah selimut. Karena ia tidak ingin sesuatu yang terjadi pada dirinya diketahui oleh siapapun.
Karena sejauh ini Irina belum punya keberanian untuk membuka mulut perihal pelecehan seksual yang dialami.
"Maya bolehkan aku minta tolong sama kamu. Ada satu hal yang aku sangat ingin kamu lakukan untukku."
"Katakan saja Irina. Apa yang bisa aku bantu aku pasti akan membantumu." ucap Maya.
"Tolong beritahu kepada Mama jika aku mengalami kecelakaan. Sampaikan sama Mama jika lukaku tidaklah serius. Tapi saat ini aku tidak bisa pulang ke rumah karena aku masih dalam perawatan." Ucap Irina menjelaskan.
"Sampaikan pula sama Mama, jika kamu yang saat ini yang telah yang mengurusi ku. Sehingga Mama tidak perlu merasa khawatir. Aku takut mama jadi kepikiran tentang aku. Karena Mama kan masih merawat Papa. Sedangkan Papa sendiri juga tidak bisa di tingal sama Mama."
"Tenang saja Irina, aku pasti akan memberitahukan apa yang kamu alami sama Mama mu. Aku akan sampaikan berita ini ke Mama mu seperti yang kau ingin aku jelaskan pada Tante." ucap Maya.
"Terima kasih Maya." Irina berucap terima kasih sambil menitikkan air matanya.
Tahu-tahu, Irina kini kembali menangis. Ada sebuah perasaan sedih dan perih yang Irina rasakan terhadap dirinya sendiri.
Namun ia tidak kuasa untuk menceritakan apa yang dialami kepada siapapun. Bahkan kepada Maya sahabat dekatnya.
Maya yang melihat ada aura kesedihan terdalam yang Irina alami pun hanya bisa memeluk sahabatnya tersebut dengan pelukan erat.
"Lekas pulih Irina. Bersyukurlah, luka mu tidak serius."
Apartemen
"Bagaimana keadaan Rio."
"Keadaan Irina sudah membaik. Dokter telah mengurusi Irina dengan penahanan yang terbaik."
"Bagus. Kemarin aku menyuruhmu untuk melakukan visum terhadap Irina. Karena ada sesuatu yang aku sangat khawatirkan dan sekarang aku ingin tahu apakah laporannya itu sudah ada, dan kamu sudah membawanya."
"Aku sudah membawa hasil visum Irina Bos. Ini laporan visum yang sudah dokter periksa terhadap Irina. Untuk mendengarkan penjelasannya langsung. Bos bisa telepon langsung dengan dokternya."
"Bagus, kerja yang bagus Rio."
"Ini hasil visumnya Bos."
Kemudian Matthew memberikan sebuah amplop yang disana berisikan keterangan tentang hasil visum yang sudah dilakukan oleh dokter pada Irina.
Dan sebenarnya, dokter itu pun juga seorang dokter profesional yang telah di bayar oleh Matthew secara pribadi. Untuk menangani dan mengurus Irina.
"Terima kasih, kau boleh kembali ke kantor Rio. Aku belum fokus untuk kekantor. Jadi, semua pekerjaan aku limpahkan pada mu sekarang ini."
"Siap Bos."
Sepeninggal Rio, Matthew langsung mengambil ponselnya dan menghubungi dokter yang telah memeriksa Irina.
"Bagaimana keadaan Irina dokter. Aku sudah menerima laporan hasil visum. Tapi aku mau langsung mendengar penjelasannya dari mu secara gamblang. Aku.....aku ingin tau seberapa parah luka yang ia alami." Ucap Matthew dengan suara bergetar. Ketika panggilannya sudah tersambung.
"Kau pasti sudah tau maksud ku kan."
"Setelah melalui serangkaian pemeriksaan yang saya lakukan pada Irina. Memang benar, Irina mengalami kekerasan pada organ kewanitaannya. Dan hasilnya itu semua ada di dalam amplop yang sudah ada di tangan Pak Matthew. Tapi saya bisa jelaskan beberapa hal tentang apa yang Pak Matthew sangat ingin tau."
Matthew nampak penasaran dengan apa yang akan di sampaikan oleh sang dokter.
"Luka yang dialami oleh Irina cukup serius. Bahkan sangat serius. Karena terjadi kerobekan di organ kewanitaannya. Maaf, mungkin anda melakukannya secara kasar. Kami terpaksa melakukan sedikit penjahitan di sana. Tidak hanya kekerasan secara seksual. Irina juga mengalami luka fisik di kedua pergelangan tangan dan kakinya. Semua sudah di tangani. Dan kita hanya menunggu kondisi Irina membaik secara total. Dan satu hal lagi Pak Matthew. Kami juga sudah siapkan seorang psikolog jika sewaktu-waktu Irina tutur. Karena pastinya, apa yang ia alami menimbulkan rasa traumatis dalam dirinya. Semua itu tergantung bagaimana Irina bisa mengatasi apa yang ia alami."
Matthew terlihat menghela nafas panjang sesaat setelah ia mendengarkan penjelasan sang dokter.
Karena apa yang Irina alami semuanya karena ulahnya.
"Terima kasih untuk penjelasannya dokter. Seperti yang aku arahkan. Tolong jaga rahasia ini dengan baik. Dan aku minta hadirkan seorang psikolog handal dan terbaik yang kau tahu untuk bisa memberikan pendampingan terhadap Irina jika memang diperlukan."
"Baik pak Matthew."