
Sebuah suara yang lembut dan mengalun merdu itu langsung menggema dan memenuhi seisi ruang meeting.
Kedatangan Irina pun sempat menjadi pusat perhatian para hadirin yang ada di ruang meeting kala itu.
Kedatangan wanita itu pun sudah langsung menyita perhatian Matthew.
Jantung Matthew langsung berdetak kencang. Perasaan menghangat dan keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya. Kedatangannya sungguh berefek pada diri Matthew.
"Irina." Matthew menyebutkan nama itu dengan bersuara sangat lirih.
Mata Pria lajang berusia 27 tahun itu kini hanya tertuju pada sosok wanita cantik yang sudah membuatnya gila dalam beberapa Minggu terakhir.
"Sekali lagi saya minta maaf. Tadi saya terjebak macet, dan akhirnya membuat saya terlambat untuk mengantarkan pesanan ini. Sungguh aku minta maaf." ucap Irina sambil menganggukkan kepalanya.
Irina merasa takut dan gugup. Karena setelah satu setengah jam ia berjibaku mengejar waktu. Ia baru sampai di lokasinya satu setengah jam setelahnya. Padahal estimasi waktu kala itu hanya memerlukan waktu kurang lebih setengah jam saja.
Clarisa kemudian langsung berdiri dari tempat duduk dan menghampiri Irina.
"Tidak apa-apa Mbak. Terima kasih sudah mengantarkan pesanan saya." ucap Clarisa, kemudian ia mengambil dua bungkusan plastik besar itu dari tangan Irina.
"Rio, tolong ambil ini." panggil Clarisa pada Rio, meminta bantuan.
Rio pun langsung berdiri menghampiri Clarisa. Dan mengambil alih untuk meraih dua plastik besar tersebut.
"Kita bicara di luar untuk melakukan transaksi pembayarannya ya Mbak." Ajak Clarisa pada Irina.
Irina pun kemudian mengikuti langkah Clarisa.
Matthew terlihat masih mematung di tempatnya. Rasa tak percaya kini sedang melingkupi hati dan perasaan Matthew. Karena tiba tiba saja wanita yang ia gilai ada di hadapannya.
Dan yang membuat Matthew sedikit frustasi ialah. Disaat ia terpaku menatap Irina. Justru Irina sendiri seolah-olah tidak melihatnya.
Lagi lagi Matthew merasa di abaikan.
Mungkin karena terlalu gugup membuat Irina tidak sempat menatap Matthew.
Setelah Irina terlalu dari harapannya. Barulah Matthew bisa bernafas lega dan tidak membeku seperti patung.
Bulir bulir keringat dingin itu kini sudah membahasi kemeja putih Matthew.
Kegugupan yang melanda dirinya di sebabkan karena Matthew tidak percaya jika ia melihat wanita yang ia gilai berdiri di harapannya dan menginjakkan kaki di perusahaannya.
"Bos, pesanannya sudah datang." Suara Rio yang terdengar sumbang itu berhasil membuat Matthew tersadar.
"Kau harus jelaskan sesuatu itu pada ku nanti Rio. Aku tau itu adalah rencana mu. Aku keluar dulu. Kamu tahan dulu rapatnya sambil menikmati kue yang sudah kamu pesan." desis Matthew.
Kemudian ia bangkit dari duduknya dan langsung bergegas menuju pintu keluar di ruang meeting.
Ketika Matthew hendak keluar dari ruang meeting. Ia nampak begitu hati-hati untuk membuka pintunya.
Seolah-olah ia terlihat takut untuk keluar.
Dan sikap konyol Matthew itu sempat menjadi pusat perhatian para peserta rapat di kantornya.
"Pak Matthew." panggil Clarisa seusai ia telah selesai dengan Irina soal pembayaran pesanan kuenya.
"Rio Pak."
"Tahan rapatnya sebentar. Aku ada urusan." Ucap Matthew, yang kemudian ia keluar dari ruang meeting dan terlihat sedang mengejar seseorang.
Tidak ingin kena marah sang Bos. Clarisa pun kembali masuk ke ruang rapat.
Ketika mata Matthew masih bisa menangkap sosok Irina. Ia seolah-olah tak ingin kehilangan kesempatan untuk melihat wanita yang telah meluluhlantakkan hatinya.
Dari kejauhan, Matthew memperhatikan Irina yang telah masuk ke dalam lift. Matthew memperhatikan akan pergi ke lantai berapa Irina.
Setelah tau Irina akan pergi ke lantai satu. Saat itu juga Matthew langsung berlari ke arah anak tangga darurat untuk menuju ke lantai satu.
Sebuah kegilaan yang tak pernah Matthew lakukan sebelumnya, ia kini melakukannya.
Dengan langkah cepat, Matthew menuruni anak tangga dari lantai tujuh ke lantai satu. Ia tidak memperdulikan jika saat ini napasnya sudah tersengal-sengar akibat berlari menuruni anak tangga.
Dengan jarak waktu yang bersamaan. Matthew yang sudah tiba di lantai satu ini berdiri beberapa meter dari lift. Ia melihat Irina baru saja keluar dari lift.
Wajah tampan Matthew kini dihiasi senyuman manis. Tatkala ia melihat seseorang yang telah membuat dirinya berlari lari seperti orang gila.
"Lihatlah kamu Irina. Kau saja tidak mengenal ku. Tapi aku begitu tergila-gila dengan mu. Sesuatu yang aneh kan. Kau seperti magnet. Yang menarik setiap perhatian dan insting ke laki laki an ku untuk memiliki mu. Tapi apa daya, kau tak melihat dan bahkan kau tak kenal aku. Padahal kita pernah bertukar peluh, bertukar saliva dan kita berbagi malam panas bersama. Kau pernah tidur dengan ku dan kita sudah melakukan segalanya. Hanya saja kau tak melihat wajah ku. Tindakan ku sudah tepat. Diantara kita kini seperti orang asing. Aku punya peluang untuk mendapatkan mu dengan cara yang benar. Jika dengan cara yang salah aku tidak bisa memilikimu. Liat saja Irina. Kita pasti akan berjumpa lagi. Dengan saling tatap dan saling sapa." Ucap Matthew dalam hati.
Irina yang baru saja keluar dari dalam lift, kini terlihat sedang berjalan menuju toilet.
Matthew pun kemudian mengikuti Irina.
Dari sudut ruangan, Matthew masih memperhatikan Irina.
Matthew bahkan melihat Irina yang sedang mencuci tangannya di sebuah wastafel yang ada di toilet.
Penampilan Irina yang sederhana dan kasual itu menjadi daya tarik tersendiri bagi Matthew.
Kecantikan alami wanita yang sudah pernah dua kali tidur dengannya sudah cukup membuktikan jika Irina spesial dan beda dari wanita wanita yang sudah pernah ia icipi Sebelumnya.
Ketika Irina sedang mencuci tangan. Ia terlihat menggulung kemejanya sampai ke siku. Sehingga terlihatlah tangan putih mulus itu sedang ia bahasi dengan air. Melihat itu saja sudah cukup membuat Matthew menelan saliva nya.
Tahu jika kini Irina hendak keluar dari toilet. Matthew langsung membalikkan tubuhnya agar wajahnya tidak dikenali oleh Irina.
"Halo Pak, ia saya akan segera ke lobby." Irina terlihat sedang menerima panggilan telepon dari seorang driver taksi online.
Irina kemudian berjalan melalui Matthew. Sekelebatan, Matthew menoleh ke arah Irina yang baru saja berlalu dari belakang ia berdiri.
Wangi parfum Irina yang familiar pun tercium oleh panca indera penciuman Matthew. Matthew bahkan menghirup banyak banyak aroma parfum Irina. Dan ia mencoba untuk mengenali aroma parfum yang digunakan oleh wanita incarannya tersebut.
Setelah Irina benar benar sudah pergi. Barulah Matthew kembali pada dunianya.
Kini, tangan Matthew mengenal gemas.
"Rio, kamu harus bertanggung jawab. Kamu sudah mengacaukan konsentrasi ku hari ini. Semua kacau gada gara kamu mengundangnya." gerutu Matthew, merasa geram dengan ulang orang kepercayaan itu.
Ikuti juga kisah mereka 🙏❤️🥰 (Menikahi Pria depresi)