After One Night Stand With CEO

After One Night Stand With CEO
Dua Pria Yang Sama



"Jangan tarik terlalu kencang. Sabuk pengaman bisa stuck." Suara yang mengalun merdu itu seketika langsung membuat Irina membekuk. Karena Matthew berucap tepat di telinganya. Dengan jarak wajah mereka yang berdekatan.


Bola mata Irina kini menangkap sepasangan mata berwarna cokelat terang itu. Yang pada saat itu mereka saling bertatapan.


Wewangian yang Matthew gunakan sudah cukup membuat darah Irina berdesir.


Rahang tegas tersebut sepertinya tidak asing. Ia pernah menyentuh rahang tegas yang di seputaran dagunya ada bulu bulu halus sisa bekas cukuran.


Bisa Irina amati rahang itu seperti milik seseorang yang telah mengambil kesuciannya dua kali. Kini ingatan Irina langsung bertraveling pada masa malam kelam itu. Dimana ia sedang melayani seseorang diatas ranjang di sebuah hotel.


Yang sampai sekarang Irina tidak pernah tau wajahnya seperti apa.


Wewangian dan juga postur tubuh Pria itu saja yang masih bisa Irina ingat. Dan juga bau keringat pria pria tersebut.


Flashback


"Mari kita mulai permainan kita yang kedua." Bisik Matthew, mulai mengatur posisinya.


"Apa yang kau rasakan." Bisik Matthew tepat di telinga Irina dengan suara lirih yang mengalun merdu.


"Aku tidak merasakan apa-apa." jawab Irina berbohong. Padahal ia merasakannya sesuatu yang panas di bawah.


"Kau basah. Aku tau apa artinya itu." Ucap Matthew merasa menang.


Napas Irina makin memburu. Kala Matthew kembali berexplorasi pada dirinya. Sensasi yang di hasilkan dari aktivitas yang di lakukan Matthew benar-benar membuat Irina melayang.


Makin lama Matthew makin cepat untuk memainkan permainan panasnya. Sampai-sampai tubuh Irina mengelijang.


Reflek, kedua tangan Irina kini menyusup masuk ke rambut Matthew dan ia nampak sedikit menjambak rambut Pria kaya tersebut. Andai yang melakukan itu bukan Irina. Ia sudah mengusir wanita itu. Tapi karena yang menjambak rambutnya ada Irina. Matthew justru senang. Karena itu tandanya, Irina juga menikmati.


Matthew makin panas dan bergelora. Ia senang dengan reaksi Irina yang makin berani untuk mengimbangi permainan.


Flashback Off


Irina, apa yang kau pikirkan. Bukankah Pria ini adalah Pria itu. Pria yang telah dua kali tidur dengan mu. Sisi jiwa Irina berisik.


Jangan souzon Irina. Jangan berburuk sangka pada pada Pak Matthew. Dia adalah bos mu. Dia hanya ingin membantu mu memakaikan seat belt. Jika dia tampan, wajarlah. Dia banyak uang dan dia memang seorang konglomerat. Wajar jika Pak Matthew ini mirip mirip dengan Pria yang pernah tidur dengan mu. Tapi bukan berarti dia itu adalah Pria yang sama. Sisi pemikiran lain Irina kini saling beradu.


"Irina." Panggil Matthew, ketika memperhatikan Irina justru malah terbengong.


"Eh, iya Pak?"


"Kenapa? Kok kamu bengong."


"Oh, tidak apa apa Pak. Kita bisa langsung jalan. Saya akan kasih tau Bapak jalan menuju rumah saya." Ujar Irina dengan suaranya yang lembut.


"Oke." sahut Matthew, sambil mengulas senyum tipis di wajahnya.


Matthew kemudian kembali mengemudikan mobilnya menuju ke arah rumah Irina.


Irina memalingkan wajahnya untuk menatap sisi jalan ketika ia berada di sisi pintu mobil.


Sedangkan Matthew sendirian nampak fokus mengemudikan mobilnya. Dan sesekali ia menolehkan wajahnya ke arah Irina. Memperhatikan wanita yang tengah duduk di sampingnya itu dengan perasaan gembira.


Naluri casanova Matthew pun kini mulai timbul. Gairah itu mulai menyeruak dari dalam dirinya. Membuat sebuah tuntutan dan berkeinginan. Tapi Matthew sadar, ia hanya menginginkan Irina seorang. Sedangkan Irina sendiri bukanlah seorang wanita yang mudah untuk ia ajak tidur.


Yang Matthew inginkan saat ini adalah menjerat perasaan Irina. Agar Irina melihat dirinya. Dan kemudian suka.


Hanya itu satu satu cara bagi Matthew untuk mendapatkan Irina.


Tidak ada cara lain selain ia harus memiliki Irina dengan segala kepasrahan dan kemauan Irina sendiri yang mau bersama dengan Matthew.


Matthew hanya bisa menarik nafas panjang dan juga harus bersabar untuk memiliki wanita cantik yang duduk di sebelahnya.


Penampilan Irina malam itu sudah cukup menaikan libido Matthew. Dikala ia memperhatikan penampilan Irina dari kepala hingga ujung kaki.


Kaki jenjang mulus putih Irina terexpose dengan jelas. Karena Irina mengenakan bawahan rok span selutut berwarna hitam yang cukup ketat.


Tidak ingin momentum kebersamaannya malam itu dengan Irina cepat berlalu. Matthew kemudian berfikir.


Sesuatu apa yang bisa membuat dirinya dan juga Irina bisa menghabiskan waktu malam itu lebih lama lagi.


Otakmu Matthew bekerja sangat keras. Ia tidak ingin buru-buru mengantarkan Irina pulang. Ia ingin lebih lama menikmati kebersamaannya dengan Irina.


Hingga akhirnya, Matthew mendapatkan ide ketika ia melihat sebuah warung makan tenda yang masih buka di pinggir jalan. Kebetulan juga di warung itu hanya ada beberapa pengunjung yang masih menikmati makanannya.


"Irina, jika kamu tidak keberatan, bisakah kamu menunggu sebentar. Aku ingin makan di tempat makan itu. Aku lapar, sejak siang aku belum makan." Matthew mulai mengutarakan niatnya.


"Aku pikir jika kita ke restoran pasti restoran akan tutup. Jujur saja tadi siang aku tidak sempat makan siang. Jika kau tak keberatan, aku ingin minta waktu sebentar untuk makan dulu." Imbuh Matthew lagi.


.


Irina pun kemudian berpikir. Akan tidak sopan rasanya jika dirinya menolak permintaan sang Bos. Akhirnya, tidak ada pilihan bagi Irina selain menyetujui permintaan sang Bos.


"Baiklah Pak, tidak apa apa. Bapak silahkan makan, saya akan tunggu di dalam mobil saja." Ujar Irina.


"Hemmmm, bagaimana kalau kamu temani saya makan. Sekalian saja kamu makan."


"Tidak usah Pak. Saya tidak lapar."


"Mana mungkin kamu tidak lapar. Kamu belum makan malam. Sudah, ayo kita keluar." Ucap Matthew, yang kemudian ia langsung membuka seat beltnya dan keluar dari mobil.


Irina yang kala itu sudah berusaha untuk menolak keinginan Matthew pun di buat semakin bigung.


"Ayo Irina temani saya." Ucap Matthew lagi. Irina pun dengan terpaksa keluar dari mobil dan menuruti perkataan sang Bos.


Matthew pun tersenyum penuh kemenangan. Di saat ia menutup pintu mobil. Sesaat setelah Irina keluar dari dalam mobil.