After One Night Stand With CEO

After One Night Stand With CEO
Dejavu



Ketika tali seat belt itu kini sudah terpasang sempurna di tubuh Irina. Ada sebuah pemandangan yang membuat Matthew harus menelan saliva nya dengan susah payah.


Bagaimana tidak, tali seat belt yang terpasang di tubuh Irina nampak membelah dua gunung kembar milik Irina. Sehingga menampakkan dua gundukan miliki Irina yang terlihat kencang itu, terlihat begitu jelas di pandangan Matthew.


"Sial." umpat Matthew dalan hati. Karena siang siang seperti itu dirinya mendapatkan godaan gairah yang membuat kepalanya pusing. Karena sudah lama miliknya tidak berolahraga.


Untung saja waktu itu Matthew mengenakan sebuah kacamata hitam pekat yang bertengger di hidungnya. Sehingga membuat Irina tidak bisa melihat tatapan mata Matthew yang sejak tadi mengarah ke arah dadanya.


Tidak hanya buah dada Irina yang terbelah gara-gara seat belt. Tapi ujian datang dari kaki jenjang milik Irina yang begitu jelas terexpose.


Kala ia duduk di sebelah Matthew. Sungguh, pada siang itu keberadaan Irina benar benar mengundang gairah tersendiri bagi Matthew yang hanya bisa diam diam menikmati pemandangan indah itu.


Tidak ingin terlambat untuk meeting. Matthew kemudian kembali mengendarai mobilnya untuk menuju sebuah restoran tempat di mana ia akan meeting dengan seseorang.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Didampingi Irina sebagai marketing pemasaran perusahaan. Matthew bertemu dengan klien pada siang itu untuk membicarakan masalah kerja sama antara kedua perusahaan.


Matthew pun juga dibuat terkesima dengan kepiawaian Irina dalam menjalankan tugas-tugasnya sebagai seorang marketing.


Matthew menilai bahwa Irina punya kemampuan dan juga bakat yang luar biasa dalam urusan pekerjaan yang ia tangani.


Tidak salah jika kini menginginkan Irina untuk menjadi sekretarisnya. Karena tidak hanya cakap dalam bekerja, Irina juga pinta dalam menjalin relasi.


Rapat siang itu berjalan dengan lancar seusai harapan Matthew. Setelah urusan siang itu selesai. Matthew mengajak Irina untuk kembali ke kantor.


Tetapi di saat mereka dalam perjalanan menuju kantor. Matthew punya ide untuk membawa Irina mampir ke apartemennya.


Matthew pun kemudian mencari alasan yang tepat pada Irina. Agar dia mau untuk di ajak mampir ke apartemen.


"Bagaimana kalau kamu ikuti saya masuk dulu. Biar kamu tau dimana aku tinggal." tawar Matthew, mengajak Irina untuk masuk ke apartemen.


"Saya tunggu di mobil saja Pak."


"Mampirlah sebentar. Clarisa dan Rio sudah sering ke mari. Terkadang mereka juga menginap. Ayolah, jangan kawatir. Aku tidak akan macam macam dengan mu, jika kau takut pada ku dan berfikir negatif dengan ku."


"Bukan, bukan soal itu Pak." sergah Irina, padahal ia sebenarnya ia memang kawatir soal itu. Bagaimanapun ia harus tetap hati hati.


"Ada Bik Nana di apartemen. Dia sudah lama bekerja untuk ku. Dia baik sekali, bahkan dia sudah aku anggap sebagai keluarga. Ayolah, mampir dulu."


Merasa tak enak, Irina akhirnya mau untuk di ajak masuk ke apartemen mewah milik Matthew.


Seperti layaknya pria gentleman, Matthew kemudian buru-buru keluar dari mobilnya. Ketiga Irina sudah mengiyakan kalau ia mau untuk di ajak mampir ke apartemen miliknya.


Dengan gerakan cepat Matthew membekukan pintu untuk Irina. Dan sikap Matthew yang seperti itu sudah cukup membuat hati Irina sedikit merasa kaget. Karena seorang Bos seperti Matthew memperlakukannya secara spesial.


Kenapa Pak Matthew membukakan pintu untukku segala? Sebenarnya ada apa dengan Pak Matthew.


Sungguh itu tidak lazim dilakukan seorang bos untuk karyawan yang baru saja bekerja di kantornya. Irina pun membatin. Karena banyak sekali sikap dan gestur tubuh Matthew yang Irina rasa terlalu berlebihan pada dirinya.


Berjalan beriringan melewati sebuah koridor. Irina kini menjadi deg-degan perasaannya di saat ia berjalan dengan pria bertubuh tinggi besar yang ada di sampingnya.


Karena ingatan Irina tiba tiba kembali pada beberapa bulan yang lalu. Ketika ia diliputi perasaan yang sama. Deg degan dan takut. Saat ia hendak menemui Pria yang telah membeli dirinya.


Perasaan Dejavu itu kembali muncul pada diri Irina. Dan pada Matthew, entah kenapa setiap kali ia melihat Matthew. Irina jadi ingat dengan pria yang telah dua kali menyetubuhinya.