
"May, kamu boleh pesan makanan apa saja yang terenak di kantin ini. Nanti aku yang bayar." Ujar Irina, berkata pada Maya sahabatnya. Jika saat itu ia ingin mentraktir sahabatnya tersebut.
"Seriusan, wah. Sejak kapan kamu banyak duit." ejek Maya bercanda.
"Sudah tenang saja. Aku lagi ada rezeki lebih. Aku bersyukur bekerja di toko kue itu. Selain aku bisa kerja paruh waktu. Pemilik toko kue itu juga sangat baik pada ku."
"Di gaji berapa kamu seharian kerja di sana?" Maya terlihat penasaran.
"Ada deh. Mau tau aj. Yang pasti aku sangat bersyukur bisa kerja disana May."
"Bagus lah Na. Aku ikut senang dengarnya. Semoga dari sana kamu bisa menghidupi keluarga mu. Karena mereka pasti sangat tergantung sama kamu."
"Mama juga senang aku kerja di sana. Tadi pagi aku berikan Mama beberapa lembar uang. Itu saja sudah membuat wajah Mama ku ingin nangis. Jadinya kami saling peluk akhirnya. Jadi deh, pagi pagi penuh drama. Ini adalah pengalaman pertama ku berkerja."
"Kalau kerja di sana enak, mau juga dong Irina. Aku di masukin kerja di tempat mu." Goda Maya.
"Serius kamu mau kerja, buat apa. Kamu orang mampu Maya. Kuliah saja kamu bawa mobil."
"Tapi aku juga ingin dapat uang dari hasil kerja sendiri seperti dirimu Irina. Sepertinya rasanya beda." Irian hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan Maya.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
"Clarisa, tolong siapkan meeting siang ini. Ada hal penting yang harus kita rapatkan bersama." Ucap Matthew pada sekretarisnya Clarisa.
"Baik Pak Matthew. Saya akan siapkan ruang meeting sekarang."
"Bagus. Pesan juga snak dan minuman untuk suguhan. Meeting nanti sepertinya akan berlangsung lama."
"Baik Pak."
Clarissa pun kemudian langsung menjalankan perintah atasannya.
Clarissa kemudian menyuruh dua office boy untuk mempersiapkan ruang meeting di kantor.
Setelah selesai menyuruh office boy mempersiapkan ruang meeting. Kini Clarisa di sibukkan untuk mencari sesuatu yang bisa di suguhkan saat rapat. Karena Matthew yang memerintahkannya.
Clarissa kemudian berburu snack apa yang kiranya layak untuk di suguhkan.
Clarisa kemudian mengambil ponselnya dan ia ingin mencari sesuatu untuk suguhan lewat online.
Ketika Clarisa tengah sibuk dengan ponselnya. Tiba-tiba seseorang menabrak Clarisa. Hingga membuat ponsel milik Clarisa terjatuh.
"Rio! Bisakah kamu hati-hati kalau berjalan. Aku sedang sibuk memesan makanan untuk suguhan meeting. Waktunya sudah mepet." Oceh Clarisa pada Rio.
"Maaf aku ngk sengaja." sahut Rio.
Carissa dari Rio memang sudah saling kenal. Mereka berduaan bahkan sudah saling kenal dengan sangat akrab. Mereka sama sama orang kepercayaan Matthew.
"Memang Bos Matthew menyuruh mu apa?"
"Pak Matthew menyuruh ku untuk menyiapkan snack dan juga minuman. Katanya meeting akan berlangsung lama siang ini. Jadi Pak Matthew menyuruh ku untuk mencari snak untuk di hidangkan. Tapi aku bigung snak apa yang bisa aku pesan." curhat Clarisa.
Rio pun kemudian berpikir.
"Soal itu serahkan saja pada ku. Gapang." Ujar Rio sambil tersenyum penuh arti.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Toko Kue
"Irina, hari ini ada pesanan banyak. Tolong kamu antarkan kue kue ini ke alamat ini ya." perintah Regina pada Irina pagi jelang siang itu.
"Alamatnya ada di sini." ujar Regina, sambil menyerahkan secarik kertas pada Irina yang berisikan alamat kantor.
Regina menyuruh Irina untuk mengarahkan pesanan kue ke sebuah gedung perkantoran di pusat kota.
Seseorang memesan kue di toko milik Regina dan seseorang itu juga menyuruh seorang pegawai bernama Irina untuk mengantarkan kue kue itu.
Setelah tau yang memesan kue kue itu ada Rio. Regina pun paham.
"Aku sudah pesan taksi online. Kamu antara kue kue itu ke alamat yang tadi aku sudah kasih ke kamu. Setelah kamu sampai, berikan pesanan kue-kue ini kepada petugas resepsionis. Mereka yang akan ambil dan mengantarkan kue nya pada mereka."
"Baik Bu." Irina terlihat semangat walau ia di tugaskan untuk mengarahkan kue kue tersebut.
Setelah taksi onlinenya datang. Irina pun kemudian membawa kue-kue pesanan tersebut dengan menaiki taksi online menuju alamat yang di tuju.
Sebenarnya Regina bisa saja menggunakan jasa kurir. Tetapi Regina sengaja menyuruh Irina atas perintah Rio. Dan Regina juga sudah tau jika Rio adalah orang kepercayaan Matthew.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Gedung Perkantoran
Di sebuah ruangan yang tertutup. Sebuah rapat tengah berlangsung kala itu.
Sebagai seorang CEO, Matthew terlihat begitu gagah dan berkarisma ketika ia memberikan penjelasan kepada beberapa bawahannya soal perusahaan.
Sebagai seorang pemimpin. Matthew terkenal dengan ketegasannya dalam memberikan arahan dan juga perintah.
Ia adalah orang yang perfeksionis dalam segala hal. Tapi ia juga terkenal loyal pada karyawan yang memiliki integritas tinggi pada perusahaan.
"Aku ingin semua diselesaikan dalam dua hari. Aku tidak ingin ada alasan apapun untuk membuat laporan-laporan itu segera ada di meja kerja ku. Jika kita berhasil mendapatkan tender tender yang sedang kita incar. Aku menjanjikan bonus besar pada kalian semua. Jadi, kita semua harus sama sama bekerja keras." Ucap Matthew pada semua orang yang hadir dalam meeting siang itu.
"Clarisa, bukankah aku tadi menyuruhmu untuk membeli Snack untuk rapat. Kenapa cuma ada air putih." selidik Matthew, menoleh ke arah Clarisa dengan tatapan tajam dan dengan dua aliasnya saling bertaut. Tanda Matthew sedang marah.
Clarisa pun panik.
"Gawat. Pak Matthew pasti marah."
"Maaf Pak, tadi saya sudah pesan lewat online. Harusnya pesanan saya sudah datang. Mungkin dia sedang terjebak macet Pak." Jawab Clarisa.
"Jawaban yang tidak memuaskan. Rapat belum selesai. Kenapa aku suruh kamu pesan makanan supaya kita bisa lanjut meeting lagi sebelum makan siang. Jadi kita bisa santai meetingnya sambil menikmati suguhan. Jangan di ulangi lagi hal sepele macam ini. Aku ingin suasana meeting yang nyaman. Agar mereka semua bisa konsentrasi." celoteh Matthew.
"Sabar Bos. Sebentar lagi pasti datang pesanannya." sahut Rio, yang kala itu ia juga ada dalam ruang rapat.
"Diam kamu Rio. Jangan bela dia."
Baru saja Matthew selesai bicara. Seseorang datang.
Seseorang itu membawa dua buah plastik besar di kedua sisi tangannya. Dan di dalam plastik besar itu terdapat kue kue yang sudah di pesan.
"Permisi, maaf saya terlambat."
Sebuah suara yang lembut dan mengalun merdu itu langsung menggema dan memenuhi seisi ruang meeting.
Kedatangan wanita cantik itu pun sudah langsung menyita perhatian Matthew. Jantung Matthew langsung berdetak kencang. Perasaan menghangat dan keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya. Kedatangan wanita itu sungguh berefek pada diri Matthew.
"Irina." Matthew menyebutkan nama itu dengan sangat lirih.
Mata Pria lajang berusia 27 tahun kini hanya tertuju pada sosok wanita cantik yang sudah membuatnya gila dalam beberapa Minggu terakhir.