
"Menuju rumah sakit terdekat Rio, cepat." perintah Matthew.
"Siap Bos."
"Dan kau Clarisa. Aku menugasi diri mu untuk mengurusi Irina. Kau bersama Rio harus memantaunya dan berikan kabar pada keluarga atau sahabat Irina kecuali Jacob. Kabarkan pada mereka jika Irina mengalami kecelakaan. Agar keberadaan Irina tidak membuat keluarganya cemas. Setelah itu kabari aku tentang perkembangan Irina. Jangan tanyakan apapun pada nya jika dia sudah siuman." Ujar Matthew memberikan Clarisa dan Rio arahan.
"Siap Pak Matthew." jawab Clarisa patuh.
"Dan kau Rio, tetaplah berada Clarisa di rumah sakit."
"Siap Bos." jawab Rio yang selalu siaga pada Matthew.
Setelah memberikan arahan kepada Rio dan juga Clarisa. Matthew kemudian kembali memperhatikan wajah Irina yang berada dalam dekapannya. Wajah wanita cantik itu semakin memuncak dengan cekungan hitam di ke-dua kelopak matanya.
Tidak hanya pucat, Irina sepertinya juga mengalami demam.
Matthew kemudian meletakkan telapak tangannya ke kening Irina. Dan benar saja, Irina memang demam.
Matthew pun kemudian berfikir. Apakah ketika ia melakukan percintaan paksa dengan Irina terlalu kasar. Sehingga membuat Irina terluka, pikir Matthew.
Matthew memang telah mendapatkan kepuasan ketika ia kembali menyetubuhi Irina. Tapi di lain sisi, secara fisik sepertinya Irina akan mengalami trauma.
Tidak ingin berpikir yang macam-macam. Matthew kini hanya fokus untuk membawa Irina ke rumah sakit. Dengan harapan keadaannya Irina bisa cepat ditangani oleh dokter.
Tak berapa lama kemudian, mereka kini telah sampai di rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit. Mereka pun langsung disambut seorang perawat yang sebelumnya Rio telah berkoordinasi dengan pihak rumah sakit setempat.
Karena Rio telah mengurus semuanya. Irina pun langsung dibawa ke sebuah ruangan khusus untuk segera bisa mendapat penanganan dokter.
Setelah memastikan Irina sudah ditangani dokter. Matthew kemudian pamitan kepada Rio dan juga Clarissa. Dan menugaskan dua asisten pribadinya itu untuk mengurusi masalah Irina dengan tetap mengikuti arahannya.
Setelah memastikan semuanya terkendali. Barulah Matthew pergi meninggalkan rumah sakit. Karena keberadaan dirinya tidak ingin dilihat oleh Irina.
Satu jam setelah Irina ditangani pihak dokter dan kini sudah berada di ruangan khusus.
Rio dan Clarisa kini menunggu di luar ruangan. Mereka berdua sama-sama berpikir tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi antara Matthew dengan Irina.
Clarisa yang kala itu sempat memperhatikan ada bercak darah di sprei dan kondisi Irina yang terlihat berantakan. Clarisa kini jadi berfikir keras.
"Aku yakin Pak Matthew telah melakukan sesuatu pada Irina. Aku yakin itu, tidak mungkin tidak terjadi apa-apa di antara mereka." ucap Clarisa mengutarakan isi pikirannya kepada Rio.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Rio menyelidik. Padahal sebenarnya, Rio sudah tahu dan bisa menebak apa yang telah di lakukan atasannya itu pada Irina.
Clarisa pun kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Rio dan berbisik.
"Apa mungkin Pak Matthew memperkosa Irina?" Mendengar bisikan Clarisa membuat Rio tersenyum tipis.
"Kenapa kamu bisa berasumsi seperti itu?" tanya Rio yang masih merahasiakan apa yang sudah ia ketahui pada sang istri.
"Mana mungkin seorang karyawan biasa mendatangi sebuah hotel untuk menemui Boa. Dan ujung-ujungnya dia tergeletak tidak berdaya di atas tempat tidur dengan pakaian yang berantakan bahkan ada bercak darah di sprei. Sebagai seorang wanita aku pun bisa menjelaskan jika keadaan itu pasti ada hubungannya dengan Pak Matthew. Mana mungkin Irina akan seperti itu keadaannya jika tidak diapa-apain oleh Pak Matthew. Karena sore tadi kita masih bertemu dengan Irina dan dia baik-baik saja."
Mendengar penjelasan sang istri yang sangat logis hanya membuat Rio tersenyum tipis. Bagaimanapun ia harus tetap merahasiakan apa sudah ia ketahui dari sang Bos pada istrinya.
"Dan aku juga yakin sebagai orang kepercayaan Pak Matthew kamu pasti tahu apa yang terjadi pada malam ini." imbuh Irina yang kini menatap tajam kearah sang suami.
"Sudah sayang jangan kepo, angan mengurusi orang. Kita jalankan saja tugas dari Bos. Aku yakin, Bos akan memberikan kita uang karena kita telah kerja lembur."
"Singkirkan pikiran mu yang apa apa tentang uang itu. Sesama perempuan tentunya aku sangat bersimpati kepada Irina. Karena Irina adalah orang yang baik. Tidak adil rasanya jika apa yang aku pikirkan tejadi pada Irina. Jika misal asumsi ku benar. Aku tidak bisa bayangkan. Betapa hancurnya hidup Irina. Jika Pak Matthew melakukan tindak kekerasan seksual terhadapnya."
"Banyak hal yang tidak kamu tahu tentang Irina dan juga Pak Matthew sayang." Timpal Rio dengan nada lembut.
"Bener kan dugaan ku. Kamu pasti tahu tentang kejadian apa yang terjadi di kamar hotel itu. Atau jangan jangan kamu ikuti kerja sama ya dengan Pak Matthew."
"Sembarangan, jangan menuduhku seperti itu sayang."
"Buktinya tadi kamu bicara jika banyak hal yang sudah terjadi antara Pak Matthew dan Irina. Atau jangan-jangan kamu yang membuat Irina datang ke hotel untuk menemui pak Matthew, iya kah?"
"Aku berani bersumpah jika kejadian di hotel aku tidak tau menahu. Kamu juga tahu sendiri kita sedang dalam masa suasana berbahagia. Mana sempat aku mengurusi semua itu."
Melihat ada aura kejujuran di wajah Rio. Clarisa pun kemudian melembutkan tuduhannya.
"Ya sudah kita tunggu saja apa yang akan dikatakan oleh Irina setelah ia siuman." ucap Clarissa yang gini kembali bersikap sedikit rileks dan menunggu Irina sampai wanita itu sadar.
Satu setengah jam kemudian. Seorang perawat keluar dari ruangan khusus yang Irina tempati. Kemudian perawat itu memangil Rio dan Clarisa.
Rio dan Carissa pun kemudian langsung bangkit dari duduk mereka. Kemudian mereka langsung masuk ke dalam ruangan. Sedangkan sang perawat kini tengah memanggil dokter agar segera bisa mengecek keadaan Irina lebih lanjut.
Irina yang baru saja membuka matanya nampak begitu lusuh dengan cekungan hitam di kelopak matanya. Wanita lajang 23 tahun itu benar-benar terlihat kacau.
Belum lagi bekas luka memar bekas ikatan tali yang ada di kedua pergelangan tangan dan juga kakinya begitu jelas membekas.
Untuk sejenak, Irina nampak memfokuskan konsentrasi. Untuk ia bisa benar-benar sadar dengan situasi dan kondisi yang ia alami.
Meskipun Irina diam. Tapi sebenarnya pikirannya sedang mencerna dan juga bekerja memikirkan sesuatu.
Irina menyadari jika kini ia telah berada di rumah sakit. Padahal sebelumnya ia berada di sebuah kamar hotel dengan Pria berengsek Itu.
Setelah sedikit ada rasa kelegaan jika kini dirinya sudah aman. Irina kemudian mengedarkan pandangannya di sekeliling ruangan.
Seketika pandangannya terhenti pada sosok seorang wanita yang ia kenal yaitu Clarissa.
"Bu." Panggil Irina pada Clarissa dengan nada lemah.
Clarisa pun kemudian berjalan maju untuk mendekati Irina.
"Tenang Irina, kau sudah aman sekarang. Kamu sedang berada di rumah sakit. Dokter sedang menuju kemari untuk mengecek kondisimu." ucap Clarisa dengan nada lembut.
Tak lama kemudian, seorang dokter masuk ke ruangan dan kemudian dia mengecek kondisi Irina.
Setelah mengecek kondisi Irina dan menginformasikan bahwa kondisi Irina sudah membaik serta ia telah menyuntikkan sesuatu ke dalam infusan milik Irina. Sang dokter kemudian keluar lagi dan menyarankan agar Irina banyak beristirahat.
"Pak Rio, bisa tinggalkan saya dan Bu Clarisa sendirian di ruangan ini." pinta Irina.
Rio pun mengangguk dan kemudian ia keluar dari ruangan.
Setelah memastikan Rio keluar. Barulah Irina kembali fokus pada Clarisa.
"Bu, siapa yang membawa saya kemari?"
"Katanya seorang petugas kamar hotel. Kamu sudah berada di ruangan ini saat kami datang."
"Ketika saya kemari, apakah saya sudah berpakaian?" Pertanyaan Irina sedikit membuat Clarisa bingung. Lalu ingatan Clarisa kembali pada saat ia melihat Irina di kamar hotel bersama Matthew.
Terus terang saja Irina bigung dengan situasi saat ini. Karena ketika itu ia tau. Jika ia sedang diperkosa oleh Pria misterius itu. Dan Irina tau dia tidak berbusana apapun kala itu.
Yang jadi pertanyaan Irina, siapa yang memakaikan baju padanya.
Setelah Clarisa sudah menjawab pertanyaannya. Irina sudah tidak bertanya lagi.
"Oya Bu, bagaimana bisa Pak Rio dan Bu Clarisa bisa ada di sini. Siapa yang memberi tau kalian?"
"Oh, soal itu. Ada seorang petugas kamar hotel menghubungiku. Katanya mereka mendapatkan nomor ponsel ku dari ponsel mu. Mungkin mereka kira aku adalah kerabat mu. Setelah mendapatkan laporan diri mu mengalami sesuatu. Aku dan Rio langsung menuju kemari." tutur Clarissa memberikan penjelasan yang logis terhadap Irina. Bagaimana kronologi dirinya bisa ke rumah sakit.
Setelah mendengar penjelasan dari Clarisa. Irina kini benar benar merasakan sedikit kelegaan.
"Jangan banyak berfikir Irina. Kau istirahatkan diri mu dulu. Jika kau mau, aku bisa menghubungi keluarga mu. Supaya mereka tidak khawatir dengan mu."
"Tidak perlu Bu. Saya bisa urus itu sendiri. Saya minta tolong ambilkan ponsel saya." pinta Irina.
Clarisa kemudian mengambilkan handphone milik Irina.
"Terima kasih Bu. Tolong tinggalkan saja sendiri di sini. Atau ibu boleh pulang saja bersama Pak Rio. Terimakasih sudah mengurus saya. Selebihnya saya bisa urus diri saya sendiri." Ujar Irina.
"Tidak perlu sungkan Irina. Kau adalah teman. Sudah sepatutnya aku bantu kamu. Kalau begitu aku keluar ya. Kamu istirahat saja. Aku ada di luar bersama Rio."
"Iya Bu, terimakasih."
Selepas Clarisa pergi. Irina langsung menghubungi seseorang.
"Halo Irina." Sapa seseorang dari sebrang sana. Ketika ia menjawab panggilan telepon dari Irina.
"Halo, Maya. Aku butuh bantuan mu." Ucap Irina dengan suara bergetar, serta air mata yang sudah jatuh kembali di kedua pipi.