After One Night Stand With CEO

After One Night Stand With CEO
Diterima bekerja



Berjalan mengekor di belakang Clarisa. Irina masih dilanda rasa gugup.


"Silahkan masuk, Pak Matthew sudah menunggu anda." ujar Clarisa, sesaat setelah ia membukakan pintu untuk Irina di ruang kerja Matthew.


Setelah Irina masuk. Clarisa kemudian langsung menutup pintu ruang kerja khusus sang CEO. Dan membiarkan mereka berdua berada di dalam sana.


Dan satu lagi, selama sesi wawancara interview berlangsung. Rio sudah menugaskan Clarisa untuk memastikan Matthew tidak menerima tamu untuk sementara waktu.


Aroma wangi parfum yang familiar itu tercium oleh panca penciuman Matthew. Sebuah aroma parfum khas wanita. Tentu saja itu adalah wangi parfum Irina. Aroma sama ketika ia menjadi seorang penghangat ranjangnya beberapa bulan yang lalu.


Matthew dengan seksama mendengar langkah kaki seseorang yang semakin mendekati meja kerjanya.


Tak ingin tertangkap basah oleh Irina jika pada saat itu ia begitu gugup. Matthew pura pura sibuk dengan pekerjaan di meja kerja.



"Hemmmmmmmmm." Irina sengaja berdehem. Sebagai seorang tamu, ia harus tetap bersikap sopan. Karena Irina juga bigung. Sepertinya seseorang yang ada di hadapannya itu tidak menyadari kedatangannya.


"Permisi." Irina memberanikan diri untuk bersuara.


Barulah saat itu Matthew mengangkat kepalanya untuk menatap wajah cantik wanita yang sudah membuat dirinya remuk redam.


Sebelum Matthew menyahut suara lembut Irina yang berbicara kepada dirinya. Otak Matthew berfikir cepat.


Ia flashback ke belakang, jika ketika itu ia pernah berkata-kata kepada Irina. Dan Matthew kawatir suaranya masih di ingat oleh Irina.


Oleh sebab itu, Matthew berusaha untuk mengubah sedikit nada bicaranya. Agar suaranya tersebut tidak dikenali oleh Irina.


Kini kedua mata itu saling bertatapan. Irina menghentikan langkahnya tepat saat ia kini sudah berada beberapa meter dari meja di mana Matthew duduk di sana.


Pandangan Irina menatap lurus ke depan. Kearah seseorang yang mengenakan baju kemeja putih yang tengah duduk di kursi kebesarannya. Ia yang tadinya terlihat sibuk, kini pria itu nampak memandang Irina dengan tatapan fokus.


Kini, ada perasaan yang membuat hati Irina menjadi berdebar-debar. Ia merasa pria yang ada di hadapannya itu tidak asing bagi dirinya. Dan otak Irina pun kini bekerja keras untuk mencoba mengingat-ingat sesuatu.


Sebuah bayangan wajah yang gelap, postur tubuh yang tinggi, berbadan kekar dan dan beraroma tubuh yang wangi. Entah kenapa kini pikiran Irina justru mengidentifikasi pria yang ada di hadapannya adalah pria yang tidur dengannya.


Meski instingnya mengatakan seperti itu. Tapi Irina berusaha untuk berfikir jernih.


Mana mungkin ia menyamakan pria yang ada di hadapannya ini dengan pria hidung belang yang pernah tidur dengannya.


Mencoba mengenyahkan semua pikiran negatif itu. Kini Irina mencoba untuk kembali fokus dalam sesi wawancara kerja yang akan ia jalani saat ini.


"Hemmmmmm, kau, Irina." Sapa Matthew.


"Ia Pak, saya Irina Ivanka. Saya telah mengirimkan lamaran pekerjaan ke perusahaan Bapak. Dan kemarin seseorang menghubungi saya untuk interview kemari." Ucap Irina, berusaha untuk tetap terkontrol.


"Baik, Irina, silahkan duduk." Imbuh lagi Matthew, menyuruh Irina untuk duduk kesebuah kursi yang ada di ruangannya.


Begitu mendengar suara itu. Irina kembali berspekulasi dengan suara yang sepertinya sudah tidak asing bagi dirinya.


Namun lagi-lagi, Irina mencoba untuk berfikir positif. Dia sendiri juga bigung. Kenapa keberadaan pria yang ada di hadapannya itu malah mengingatkan dirinya pada seseorang itu.


Irina pun kemudian duduk di sebuah kursi yang telah di tunjuk oleh Matthew agar ia duduk di sana.


Walau terlihat casual dan sederhana. Apa yang Irina kenakan pada saat itu sudah membuat wanita cantik tersebut terlihat anggun dan mempesona di mata Matthew.


Irina juga terlihat membawa sebuah buku catatan dan juga pulpen. Agar ia tidak kerepotan jika ia harus mencatat beberapa hal yang penting dalam sesi interview kerja pada saat itu.



Kini baik Matthew dan Irina sudah saling berhadapan. Mereka duduk di sebuah sofa yang berbeda.


"Aku sudah membaca profil mu. Dan profil mu cukup bagus. Aku sangat terkesan dengan pencapaian pendidikan terakhirmu. Aku lihat dalam lamaran pekerjaanmu, sepertinya kamu baru saja lulus kuliah. Berarti kamu adalah seorang fresh graduated. Itu artinya, kamu belum pernah sama sekali ada dan berpengalaman dalam dunia pekerjaan."


"Maaf, saya sudah pernah berkerja di toko kue sebelumnya. Walau tidak lama." Sela Irina, Matthew kemudian menganggukkan kepala.


"Oke, itu nilai tambahan. Aku sudah mempertimbangkan untuk menaruh mu di bagian yang saat ini sedang kosong dan membutuhkan posisi untuk diisi."


"Siap Pak, saya bersedia untuk mengisi posisi apa saja di perusahaan Bapak. Dan saya akan berusaha untuk bekerja dengan baik agar bisa ikut berkontribusi untuk perusahaan."


"Bagus, semangat yang bagus Irina. Sebentar, aku akan minta seseorang untuk mengambilkan minum untukmu."


Kemudian Matthew berjalan ke arah mejanya dan ia melakukan panggilan telepon umum menyuruh seseorang untuk mengantarkan minuman ke ruangannya.


Kini hati Irina benar-benar sedikit lega setelah dirinya dan juga calon bosnya tersebut sudah saling membicarakan soal pekerjaan.


Ketika Matthew sedang menghubungi seseorang, Irina nampak mengedarkan pandangannya untuk menyapu dan memperhatikan seluruh ruangan kerja calon bosnya.


Irina sangat terkesan dengan ruangan sang pemilik perusahaan. Karena ruangan kerja tersebut sangatlah terlihat mewah dan elegan dengan gaya ruangan minimalis.


Setelah menyuruh seseorang untuk mengantarkan minuman ke ruangannya. Matthew kembali duduk di kursinya dan melanjutkan kembali interview kepada Irina.


"Jika boleh aku tau, ada motivasi apa yang akhirnya membuat mu melamar pekerjaan di perusahaan ku?" tanya Matthew.


Walaupun bagaimana Irina bisa melamar pekerjaan di perusahaannya memang sudah disetting oleh Matthew sendiri. Tentu saja semua atas jasa dan bantuan Rio yang telah mensetting semuanya.


"Saya sudah sering lewat gedung perkantoran ini sebelumnya Pak. Dan jujur, saya memang bermimpi untuk bisa bekerja di perusahaan besar. Mana saja perusahaan itu saya sangat berkeinginan. Dan saya bersyukur, bisa berkesempatan untuk menaruh lamaran pekerjaan di sini dan pada akhirnya saat di panggil." Jelas Irina.


"Kau terlihat semangat Irina."


"Tentu saja saya semangat Pak. Saya ingin mencari pengalaman baru dalam dunia pekerjaan. Karena sebelumnya saya masih kuliah dan saya hanyalah seorang anak yang dibesarkan kedua orang tua dengan harapan bisa meraih cita-cita yang saya impikan. Saya berharap melalui bekerja di perusahaan Bapak saya bisa belajar banyak hal di sini. Tidak hanya bekerja, tapi saya juga sangat ingin bisa membantu perekonomian keluarga saya."


Pernyataan Irina sangat membuat Matthew terkesan. Ia kemudian tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.


"Selamat Irina, kamu diterima bekerja di perusahaanku. Dan mulai hari Senin depan kamu bisa langsung masuk. Masalah gaji yang akan kau dapatkan. Kamu bisa membicarakannya dengan HRD perusahaan setelah kamu dari ruangan saya. Dia akan memberitahumu tentang gaji dan juga apa pekerjaan yang akan kamu tangani."


"Baik Pak terima kasih, karena telah menerima saya bekerja di perusahaan Bapak. Saya akan bekerja dengan baik dan patuh pada aturan perusahan ini."


"Sama sama Irina."


Kemudian, Matthew lah yang lebih dulu memberikan tangannya untuk menjabat tangan Irina.


Irina dengan ragu ragu serta gugup, karena ia sedang di lingkupi perasaan bahagia. Kemudian meraih tangan Matthew dan ia menjabatnya.