
Matthew tidak ingin terjadi sesuatu dengan Irina. Bisa saja rentenir itu punya niat yang tidak baik pada Irina. Membayangkan itu membuat Matthew kemudian berinisiatif untuk melindungi Irina.
Bisa saja rentenir itu hanya mau uang yang Irina bawa. Tanpa memberikan surat sertifikat itu.
Sebagai seorang pembisnis. Matthew cukup paham dengan situasi dan kondisi yang saat ini Irina alami.
Karena Irina terlalu berani hanya sendirian menemui rentenir itu. Matthew merasa kawatir dan ia kemudian menyuruh beberapa pengawalan rahasia pribadinya untuk mengikuti Irina.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Di sisi lain. Berjalan sendirian melewati ruko-ruko di jalan A yang ada di tengah tengah ibukota. Irina yang saat itu berniat ingin memberikan uang sisa hutang yang dilakukan oleh sang kakak kepada rentenir. Dengan fokus ia berjalan menuju ke sebuah ruko yang sudah ia pernah kesana sebelumnya.
Berjalan melewati gang sempit di sisi ruko. Irina nampak begitu berani untuk datang sendirian menemui sang rentenir.
Tapi, tanpa Irina ketahui. Di belakang kira kira berjarak beberapa meter dari Irina saat ini berada. Sudah ada dua orang yang sedang mengikuti Irina.
Setelah berkomunikasi dengan seseorang yang bertugas penjaga pintu di sebuah ruko. Irina kemudian memasuki ruko tersebut dan ia langsung di arahkan untuk bisa menemui sang rentenir.
Tak lama kemudian, Irina kini sudah berada di hadapan rentenir itu.
"Ini uang sisa hutang yang harus ku bayarkan untuk melunasi hutang kakak ku. Di amplop ini ada uang senilai 30 juta. Jadi urusan kita selesai. Sekarang berikan sertifikat rumahku yang kamu sita. Dengan begitu urusan kita sudah beres." Ucap Irina dengan tegas dan berani.
Pria bertubuh gempal itu lantas terkekeh. Ia sepertinya cukup surprise dengan keberanian Irina.
Ia kemudian berjalan menghampiri Irina dan kemudian ia mengambil sebuah amplop kecil yang sudah Irina berikan dan ia letakkan di atas meja itu.
Rentenir itu kemudian mengecek isi amplop tersebut.
Ia pun tersenyum ketika melihat jumlah uang yang ada di sana.
"Tidak disangka, ternyata kamu ini punya banyak uang juga ya. Nyatanya kamu bisa melunasi hutang hutang Rendra yang pengecut itu. Apakah uang ini halal?" Sindir sang rentenir.
Mata Irina kini menatap tajam ke arah rentenir itu. Karena ia sudah berani mengejeknya.
Tapi Irina lebih memilih diam dari pada menanggapi ledekan rentenir itu.
"Kamu! Ambil sertifikat gadis cantik ini di laci." Suruh rentenir itu pada salah seorang pengawalnya.
"Siap bos."
Seseorang kemudian mengambilkan sebuah surat dari dalam laci meja kerja sang rentenir.
"Karena kamu sudah melunasi uang sisa hutang kakak mu. Maka kamu juga berhak untuk mendapatkan sertifikat rumahmu kembali." Rentenir itu kemudian memberikan sebuah map pada Irina.
Irina pun kemudian mengambil map tersebut dan kemudian ia mengeceknya. Untuk memastikan jika benar sertifikat yang ada di dalam adalah miliknya.
Tapi begitu Irina memeriksa map tersebut. Ia merasa aneh. Karena yang ada di dalamnya bukan sertifikat asli rumahnya. Melainkan hanya sebuah copy an.
"Jangan kira aku bodoh. Ini bukan sertifikat asli rumahku. Berikan aku sertifikat aslinya. Aku sudah melunasi semua hutang-hutang ku. Jangan macam-macam padaku." ucap Irina dengan penuh keberanian. Padahal ia hanya sendirian. Sedangkan sang rentenir itu ada tiga laki laki di belakangnya yang pasti mereka ada para preman.
"Wow.......wow....wow." Seru sang rentenir sambil bertepuk tangan dan mengitari Irina. Ia merasa takjub dengan keberanian Irina yang berucap berani padanya.
"Kau sungguh berani. Aku kira kau hanya orang lugu dan bodoh. Hanya ada dua pilihan untuk mu. Kamu pergi sekarang juga dan selamat. Atau kamu akan dapat masalah jika kau tak pergi sekarang juga." Ancam sang rentenir. Mengusir Irina begitu saja.
Sang rentenir makin terkekeh dengan keberanian yang Irina tunjukkan.
"Kau ini terlalu polos atau bodoh. Kau sudah masuk kedalam kandang singa wanita cantik. Kau cukup berisi. Mungkin kita juga bisa bersenang senang sebentar." Ucap sang rentenir itu makin berani.
Rentenir itu kemudian berjalan menuju ke arah Irina. Selangkah demi langkah sambil menatap wajah Irina dengan tatapan jahat. Pria paruh baya itu makin mendekati Irina.
Sedangkan Irina yang kini sudah merasa dalam bahaya, nampak memasang kuda-kuda dan bersiap untuk melakukan reaksi apapun demi bisa melindungi dirinya.
Ketika sang rentenir itu mulai mengangkat tangannya dan ia hendak memegang pipi Irina. Irina pun buru-buru menepis tangan pria pedebah itu.
"Jangan pernah menyentuhku." Seru Irina dengan nada suara mengancam.
Sang rentenir kembali terkekeh.
"Sok berani kamu. Padahal kamu ini hanya wanita lemah. Tapi aku cukup tersanjung dengan keberanian mu."
"Kamu sudah mempermainkan aku. Jika kau macam macam. Aku tidak segan untuk melaporkan kamu ke polisi."
Mendengar kata polisi. Rentenir itu kembali terbahak.
"Kalau begitu. Sebelum kamu lapor polisi. Kamu akan jadi tawanan ku sumur hidup." ancam sang Rentenir.
"Bawa dia ke kamar." Perintah sang rentenir.
Kini, dua orang pengawal rentenir itu berjalan ke arah Irina untuk melaksanakan perintah Bosnya.
Sebelum dua pria itu sampai pada dirinya. Irina pun mencoba untuk mengambil sesuatu di sudut ruangan. Kala itu Irina melihat sebuah batang kayu tergeletak di lantai. Ia berniat untuk mengambil itu untuk senjata.
Namun, belum sampai Irina mengambil batang kayu itu. Rambut panjang Irina langsung di jambak dengan begitu sandisnya oleh dua pria pengawal sang Rentenir.
Irina nampak memberontak. Dengan sekuat tenaga ia berusaha untuk membela diri.
Tak berselang lama kemudian, dua orang muncul secara tiba-tiba dengan mengenakan penutup kepala.
Mereka dengan gerakan cepat memukul mundur dua pria yang telah mencoba untuk menyakiti Irina.
"Lepaskan wanita ini atau ku tembak kepala mu." Hardik dua pria misterius yang tiba-tiba datang menjadi penyelamat Irina.
"Siapa kalian. Berani beraninya kalian masuk tanpa izin."
"Jangan banyak bicara. Atau aku pecahkan kepala mu." Ancam Rio, yang menjadi salah satu dari dua orang yang mengawal Irina.
"Paling pistol yang kalian gunakan itu hanya pistol mainan dan palsu." Sergah sang rentenir.
Baru saja sang rentenir itu selesai berucap. Rio langsung menembakkan satu pelurunya ke arah kaki salah satu preman yang tadi sudah menjambak rambut Irina.
Seketika preman itu langsung terkapar dengan kaki sudah bersimbah darah.
"Jangan pernah macam macam dengan kami. Dan satu lagi. Jangan macam-macam dengan wanita ini. Jika kalian berani mengganggunya. Mati kalian." Ancam Rio sambil mengarahkan pistol ke arah sang rentenir.
Nyali rentenir itu pun langsung ciut.