After One Night Stand With CEO

After One Night Stand With CEO
Love and Desire



Matthew POV


Langkah kaki jenjangnya seperti seorang peragawati yang tengah bersolek di atas catwalk dalam peragaan busana seksi.


Wangi parfumnya yang khas begitu menghipnotis ku. Semakin dia berjalan ke arah ku. Semakin membuat diri ku panas.


Tidak hanya hati dan jiwa ku yang terbakar. Tapi di bawah sana juga sudah cukup menegangkan.


Tidak ada hal yang paling membahagiakan bagi ku saat ini selain aku bisa melepaskan semua hasrat ku padanya malam ini.


"Maaf membuat mu menunggu." Ucapnya yang langsung berjalan ke arah ku dan duduk tempat dipangkuan ku.


"Menunggu mu adalah hal yang paling ku benci sayang. Menunggu mu menyiksa ku." Kata ku padanya. Setelah ku selipkan beberapa helai rambut panjangnya yang jatuh berserakan di sekitar pipinya yang memerah.


"Apa yang membuat mu bisa tergila-gila dengan ku? Aku sampai saat ini tidak mengerti. Memangnya bagian tubuh ku yang mana yang membuat mu begitu menyukai ku?" Tanyanya, dengan suaranya yang merdu dan begitu menggetarkan.


"Seluruh tubuh mu adalah magnet bagi ku sayang."


Dengan mengunakan satu tanganku. Ku susup jari jari tangan ku di balik rambutnya. Kutarik sedikit wajahnya untuk bisa lebih dekat ke wajah ku. Kemudian ku letakkan bibir ku ke bibirnya yang ranum dengan pelan. Memberikan sedikit tekanan kemudian aku membuka mulut ku. Mencoba untuk bisa membuat bibirnya terbuka juga.


Setelah berhasil membuat bibirnya terbuka. Aku kembali menekan bibirku di sana.


Untuk beberapa saat, kami berdua saling terhanyut dalam bergulatan bibir kami yang panas.


"Kau pencium yang handal." Selorohnya, sesaat setelah ia menarik bibirnya dari bibir ku.


"Menikahlah denganku sayang. Mari kita membangun sebuah keluarga yang harmonis dan saling mencintai. Mari kita membuat beberapa anak. Agar cinta dan kebersamaan kita bisa abadi. Dengan adanya seorang keturunan."


"Apa kau serius? Mau menikah dengan ku?"


"Tentu saja aku serius. Aku hanya menunggu persetujuan dari mu. Please, aku sudah tidak tahan jika kita hanya menjalani kedekatan seperti ini." Gairah ku mulai membakar.


"Kebersamaan seperti ini menyiksa ku sayang. Kau tidak tau saja, di dalam tubuh ku ini seperti ada bom atom yang sebenarnya ingin meledak tapi bom itu tidak kunjung meledak. Kau tau itu artinya apa."


"Pasti sangat membuat mu tersiksa." Ucapnya meremehkan, sambil tersenyum penuh kemenangan. Karet telah berhasil membuat aku terjebak dalam gairah dan hasrat yang tertahan.


"Kau kejam sekali."


"Itu adalah tantangan untuk mu sayang." Ucapnya, sambil menangkup wajah ku dengan kedua tangannya.


"Semakin kau kuat menahannya dan semakin kau bisa sabar dengan ku. Aku akan melihat itu. Berikan aku waktu menikmati masa lajang ku dengan sebenarnya. Aku belum mau terikat dengan namanya menjalin relasionship dalam pernikahan."


"Aku janji, jika kita sudah menikah. Aku akan tetap memberikan mu kebebasan. Asal kita sudah sah." Dia hanya tersenyum menanggapi kata kata ku yang sudah serius sejak dulu.


"Sabar Matthew sayang. Berikan aku waktu. Aku belum selesai menguji mu."


Andai aku tidak berjanji untuk tidak menyentuhnya untuk yang ke tiga kalinya sebelum kami sah menjadi suami istri. Sudah tentu aku akan langsung membuatnya lemas di atas tempat tidur. Sampai dia berteriak menyerah.


Bruk................(Matthew terjatuh dari atas ranjangnya)


"Sial, aku cuma mimpi."


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Irina POV


Hari ini adalah hari pertamaku masuk bekerja. Dengan penuh semangat dan juga antusias yang terpancar dari dalam diriku. Mulai hari ini aku ingin membuat perubahan dalam hidupku.


Aku ingin melakukan sesuatu yang bermanfaat tidak hanya untuk aku, tapi juga untuk Papa dan Mama.


Masa-masa sulit yang kami lewati beberapa tahun terakhir sudah cukup memotivasi diriku untuk bisa bangkit dari sebuah keadaan yang mengerikan.


Yang membuat aku terpaksa harus mengobarkan sebuah kesucian yang hanya aku miliki sekali seumur hidup. Dan kesucian itu pernah kembali lagi pada ku.


Aku sudah berusaha untuk melupakan kejadian kelam yang pernah aku lakukan.


Tetapi tetap saja memori itu menjadi momok yang menakutkan, dan menjadi sebuah rahasia buruk yang pernah aku lakukan.


Bayangan dosa itu terkadang selalu muncul di benakku di kala aku memandang seorang pria.


Karena bagaimanapun, kelak entah aku tidak tau bagaimana takdir ku. Aku pasti akan bersama dengan seseorang.


Apa yang aku harus katakan kepada pria yang akan menjadi suami ku kelak. Jika ternyata aku sudah tidak lagi seorang wanita yang suci.


Apakah ia akan tanyakan itu?


Jika dia sudah tau, akankah dia akan mau menerima masa laluku?


"Sial, bagaimana aku malah memikirkan itu saat ini."


Untuk saat ini aku tidak ingin memikirkan hal-hal yang membuat hidupku lebih rumit. Ini adalah waktu yang tepat untuk mewujudkan impian dan cita-cita ku. Serta kesempatan untuk membuat Papa dan Mama bangga pada ku.


Yang perlu aku hadapi adalah saat ini. Persetan dengan masa lalu.


"Irina, Sarapan dulu sayang."


"Iya Ma."


Mama sudah berteriak, tanda aku sudah harus mengisi perut. Hari ini adalah hari yang penting. Mengisi perut adalah juga penting. Agar aku fokus dan tidak kelaparan di hari pertama ku berkerja.


"Huffffff...... Semangat Irina."