After One Night Stand With CEO

After One Night Stand With CEO
Interview



Berada di ruangan khusus untuk presiden direktur. Matthew terlihat duduk di kursi kebesarannya dan nampak sibuk memeriksa file demi file pekerjaan pada hari itu.


Disaat Matthew tengah sibuk memeriksa dokumen yang telah menumpuk di mejanya. Seseorang datang memasuki ruangan setelah Matthew mengizinkan seseorang itu untuk masuk.


Bagi Matthew, ruang kerja di kantor adalah rumah keduanya. Sehingga tidak semua orang bisa masuk tanpa izin dari Matthew. Atau tanpa ingin Matthew bertemu dengan orang itu biasanya Matthew enggan untuk menyuruh orang lain masuk ke ruangannya.


"Ada apa Clarisa. Kau sudah menganggu pekerjaan ku." Ucap Matthew, tanpa menoleh ke arah Clarisa, sekertarisnya.


"Maaf Pak sebelumnya, jika saya telah mengganggu Pak Matthew. Saya di tugaskan oleh Rio untuk mengantarkan beberapa form lamaran pekerjaan yang telah masuk di meja HDR."


"Lamaran kerjaan urusan HDR." Sahut Matthew, masih terlihat sibuk tanpa sedikitpun melirik ke arah Clarisa.


"Tapi kata Rio ini penting untuk anda periksa." Imbuh Clarisa lagi. Baru setelah itu, Matthew baru sadar. Mungkin Rio sudah mendapat sesuatu yang telah ia perintahkan padanya.


"Mana formnya?"


Clarisa kemudian meletakkan beberapa form lamaran pekerjaan yang telah ia bawa. Dan ia meletakkan foam itu ke meja kerja Matthew.


"Kata Rio, Pak Matthew harus memeriksa sendiri lamaran pekerjaan itu."


"Ya sudah, terima kasih. Kau boleh keluar sekarang. Jangan ada yang mengganggu ku. Jika ada yang ingin bertemu dengan ku, tolong bilang aku sibuk dan sedang tidak ingin di ganggu." Pesan Matthew.


"Baik Pak."


Setelah selesai melakukan tugasnya. Clarisa pulang pergi meninggalkan ruangan Matthew.


Sepeninggal Clarisa dari ruangannya. Matthew langsung meraih beberapa tumpukan foam lamaran pekerjaan itu. Kemudian ia memeriksa satu persatu foam tersebut. Ketika membuka form tersebut dan ia membaca namanya. Matthew sangat berharap ada nama seseorang yang sangat ia inginkan ada di sana.


Kini hati Matthew menjadi berdebar-debar. Seolah-olah jantungnya berdetak lebih cepat dan bertalu-talu.


Keringat dingin pun kini telah membanjiri tubuh Matthew. Jika ia sedang di landa rasa cemas. Matthew punya kelemahan. Yaitu berkeringat dingin.


Setelah memeriksa 5 foam berisikan lamaran pekerjaan seseorang. Nama yang sangat Matthew inginkan tidak ada di sana.


Kini tinggal satu form yang belum ia periksa.


Kembali dibuat deg-degan dan penasaran. Matthew dengan perlahan membuka foam lamaran terakhir yang ada di mejanya.


Baru saja ia membuka form tersebut dan membaca siapa pelamar pekerjaan di perusahaannya. Keringat dingin itu kembali membanjiri tubuh Matthew. Bahkan kemeja putih yang melekat pas pada tubuh kekarnya. Kini sudah basah oleh keringat yang keluar dari tubuhnya.


Hanya membaca nama tersebut sudah membuat gairah Matthew bangkit. Padahal ia hanya membaca nama seseorang yang selama ini membuat jiwanya bergetar.


Dengan seksama, Matthew memeriksa isi foam tersebut.


Matthew dibuat takjub dengan ijazah yang terlampir di dalam form lamaran pekerjaan itu. Karena Irina adalah seorang mahasiswi yang mendapatkan mendapatkan IPK tinggi dari kampus tempat ia berkuliah.


Wajah Matthew kini semakin merona ketika ia membaca keseluruhan identitas diri Irina.


Setelah memeriksa lamaran kerja Irina. Matthew langsung menghubungi seseorang.


"Rio ke ruangan ku sekarang." Perintah Matthew begitu sambungan teleponnya tersambung.


Rio yang saat itu berada di ruangannya pun tersenyum puas. Karena ia tahu, Bos itu pasti sudah membaca lamaran pekerjaan milik Irina.


"Pasti Bos sangat bahagia karena aku telah berhasil untuk membuat Irina bekerja di perusahaannya. Siap-siap saja Bos untuk menyerahkan mobilmu padaku." Guman Rio, kemudian ia berdiri dan kursi kerjanya dan berniat untuk menemui Matthew di ruangannya.


"Ada apa Bos?" Tanya Rio pura pura tidak tau apa apa.


Matthew kemudian melemparkan sesuatu ke arah Rio. Dan dengan sigap, Rio langsung menangkap sebuah benda yang di lemparkan pada dirinya.


Matthew melemparkan kunci mobilnya pada Rio.


"Mulai sekarang mobilku yang terparkir di parkiran gedung ini sudah menjadi milikmu. Bawa pulang mobil itu. Urus sendiri untuk balik namanya." ucap Matthew jumawa. Rio yang sudah sangat paham dengan karakter sang Bos pun hanya tersenyum tipis. Dan sebenarnya ia sangat bahagia bisa mendapatkan imbalan yang superior dari Matthew. Sebuah imbalan besar yang belum pernah ia terima sebelumnya.


"Terima kasih Bos untuk mobilnya." Ucap Rio tersenyum puas.


"Bersiaplah untuk bertemu dengan pujaan hati mu Bos. Karena besok Bos harus menginterview langsung Irina." ucap Rio mengingatkan.


"Aku tau, atur saja jadwal ku untuk bertemu dengannya. Urusan mu sudah selesai kau bisa pergi Rio." usir Matthew.


Rio yang sudah berhasil mendapatkan target pekerjaan nya keluar dari ruangan Matthew dengan hati puas.


"Clarisa, hubungi pelamar yang bernama Irina. Dan atur jadwal pertemuan wanita itu dengan Bos Matthew." Ucap Rio pada Clarisa.


"Oke, aku akan hubungi dia."


Dan pada hari itu juga. Clarisa menghubungi Irina untuk bersedia melakukan wawancara interview di kantor.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Betapa senang dan bahagianya hati Irina ketika ia mendapatkan balasan email dari sebuah perusahaan, jika ia telah diterima bekerja dan harus datang untuk melakukan interview terlebih dahulu.


Email yang ia terima pada hari itu sungguh membuat hati Irina senang. Setelah membaca email tersebut, Irina kemudian langsung membuka lemari pakaiannya dan mencari baju yang sesuai dan yang akan ia kenakan untuk interview esok hari.


Saking senang dan bahagianya ia mendapatkan panggilan pekerjaan. Irina kemudian mendatangi sang Mama dan menceritakan apa yang sedang ia rasakan.


Sang Mama pun turut bergembira dan juga senang dengan apa yang Irina usahakan. Bu Gita, Ibu Irina pun mendoakan sang putri untuk kelancaran interview esok hari.


"Semoga Irina cocok bekerja di perusahaan itu ya Ma."


"Aamiin, semoga anak Mama mendapatkan pekerjaan yang bagus dan kau betah disana. Ini adalah awal dari karir mu sayang." Ucap Bu Gita memberikan semangat.


Keesokan harinya, dengan penuh semangat Irina mendatangi sebuah perusahaan untuk melakukan interview.


Duduk di sebuah ruang tunggu dengan perasaan cemas dan juga berdebar. Irina terlihat begitu gugup.


Tidak lama berselang, Clarisa kemudian mendatangi Irina dan menyuruh Irina untuk pergi ke ruang Presdir.


"Irina Ivanka, mari ikut saya untuk ke pergi ke ruangan presiden direktur." ucap Clarisa ramah.


"Oh, iya Bu." Jawab Irina tergugup.


Berjalan mengekor di belakang Clarisa. Irina masih dilanda rasa gugup.


"Silahkan masuk, Pak Matthew sudah menunggu anda." ujar Clarisa, sesaat setelah ia membukakan pintu untuk Irina di ruang kerja Matthew.


Setelah Irina masuk. Clarisa kemudian langsung menutup pintu ruang kerja Matthew. Dan membiarkan mereka berdua berada di sana.


Dan satu lagi, selama sesi wawancara interview berlangsung. Rio sudah menugaskan Clarisa untuk memastikan Matthew tidak menerima tamu untuk sementara waktu.