
Hari itu adalah hari yang berbahagia bagi Clarissa dan Rio. Karena pada hari itu mereka sedang melangsungkan gelaran pesta pernikahan mereka di sebuah gedung pernikahan.
Clarisa dan Rio sengaja tidak mengundang banyak tamu. Pesta itu hanya di hadiri oleh kerabat keluarga mereka dan beberapa teman penting Rio dan Clarisa.
Pada kesempatan itu, Irina yang diundang untuk menghadiri pesta pernikahan datang bersama Jacob. Karena Jacob sendiri ternyata adalah kerabat dekat keluarga Clarisa.
Duduk dalam satu meja resepsi yang ada di gedung hotel. Jacob dan juga Irina nampak duduk berdampingan di meja yang Rio dan Clarisa secara khusus mereka siapkan untuk teman-teman spesial mereka.
Rio juga mengundang Matthew untuk hadir. Namun Pria lajang itu belum juga menampakkan wajahnya pada acara pesta pernikahan Rio dan Clarisa.
Matthew sendiri sebenarnya juga malas untuk hadir. Tapi ada rasa tidak enak hati pada Rio. Karena selama ini Rio sudah banyak membantunya. Tidak hanya dalam urusan pekerjaan. Tapi Rio juga sigap dalam tugas tugas urusan pribadi Matthew.
Di tengah perbincangan hangat di meja makan kala itu. Seseorang datang dan cukup menyita perhatian para tamu undangan. Termasuk Irina.
Beberapa meter dari meja mereka sedang mengobrol. Matthew nampak berjalan menuju kearah Rio dan Clarisa.
Pandangan Irina seketika langsung menangkap sosok gagah tersebut. Jauh di dalam hati Irina yang paling dalam. Ia sebenarnya terpesona dengan wajah tampan penuh karismatik Matthew.
Beberapa detik, mata Irina dan Matthew bertemu.
Sorot mata Matthew nampak menatap Irina dengan tatapan tajam. Sebuah tatapan sanggar yang sulit diartikan.
Namun tak lama, Matthew membuang tatapannya dan beralih fokus pada Rio dan Clarisa.
"Wah, ini dia Pak Bos sudah datang." ucap Rio, Nampak senang ketika Matthew akhirnya mau datang ke acara pesta pernikahannya.
Rio pun langsung berlari begitu Matthew berjalan ke arahnya.
"Selamat Rio. Akhirnya kamu menikah juga." ucap Matthew, sambil memeluk asisten pribadinya tersebut dan memberikan ucapan selamat.
"Terimakasih Bos. Duduklah, nikmati hidangan dulu." ucap Rio. Mempersilahkan Matthew untuk duduk.
Merasa tak enak hati jika ia langsung pergi. Matthew kemudian menarik sebuah kursi dan kemudian ia duduk di sana. Di sebuah meja yang di peruntukan untuk tamu khusus.
Sebenarnya Matthew ingin langsung pergi setelah ia datang. Karena suasana hatinya sedang tidak baik baik saja.
Pandangan Matthew langsung terarah pada Irina. Mata elang Matthew yang tajam nampak tertuju pada Irina yang duduk di sebrang meja di hadapannya.
Sorot mata itu terlihat aneh. Ada sebuah rasa ketidak sukaaan yang terpancar dari tatapan Matthew pada Irina.
"Rio, hadiah pernikahan mu sudah aku siapkan. Ini adalah tiket pesawat dan hotel pulang pergi untuk kalian." Ucap Matthew, sambil menyodorkan sebuah amplop yang berisikan tiket pesawat dan hotel pada Rio.
"Terimakasih Bos. Semoga Bos juga cepat menyusul ya." Ujar Rio. Matthew hanya mengulas senyum getir saat disinggung soal menikah.
"Doakan saja Rio. Maaf, aku tidak bisa lama lama. Lanjutkan acara kalian." Matthew kemudian bangkit dan pamitan pada Rio.
"Entahlah. Aku juga tidak tahu. Kurasa dia sedang cemburu dengan Irina. Karena Irina datang dengan Pria lain. Aku juga tak menyangka, pria itu ternyata kerabat mu." Tandas Rio.
"Bahaya, Pak Matthew terlihat tidak suka dengan Jacob. Mata Pak Matthew juga terlihat tajam pada Irina." ucap Clarisa dalam hati. Saat ia mencermati perubahan sikap sang Bos.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Menutup dengan pelan pintu mobil milik Jacob, Irina kemudian pamitan pada sahabatnya itu untuk masuk ke dalam rumah. Setelah Jacob mengantarkan dia kembali pulang. Setelah mereka sama sama menghadiri acara pernikahan Clarisa dan Rio.
"Irina tunggu." Panggil Jacob pada Irina. Jacob pun keluar dari dalam mobil dan berjalan ke arah Irina.
"Jadi, serius kau tau mau menerima tawaran ku untuk kau bisa bekerja di perusahaan Papa ku." ucap Jacob, yang masih membahas tawaran pekerjaan untuk Irina.
"Hemmm, setelah aku pikir pikir. Tidak etis rasanya jika aku tiba-tiba berhenti bekerja di perusahaan Pak Matthew. Mungkin aku akan menerima tawaran mu. Tapi tidak sekarang. Saya tidak enak hati pada Bu Clarisa dan juga pak Matthew. Mereka sudah sangat baik pada ku. Aku bisa bisa saja keluar. Tapi, ku pikir itu tidak sopan. Berikan aku waktu beberapa bulan lagi. Aku juga masih di fase banyak belajar."
"Oke, tawaran ku tidak ada kadaluarsa untuk mu Irina. Kapan kamu siap dan akan pindah tempat kerja. Aku akan siap membantu mu."
"Oke, terimakasih untuk semua perhatian mu. Terima kasih juga untuk malam ini. Aku tidak menyangka jika ternyata Bu Clarisa itu masih kerabat mu."
"Tidak ada gunanya kan aku bercerita silsilah keluarga ku pada mu. Aku pulang ya." Jacob kemudian kembali masuk ke dalam mobil dan melanjutkan mobilnya meninggalkan halaman rumah Irina.
Dari kejauhan, seseorang ternyata tengah mengintai Irina.
Matthew nampak mengepalkan tangannya ketika ia mendengar jika Irina punya niatan untuk resign dari perusahaannya.
"Tidak semudah itu kamu bisa kabur dari perusahaan ku Irina. Kamu sepertinya memang buruan mahal. Aku semakin tertantang untuk memburu mu. Saat buruan ku sudah ada di hadapan mata ku. Aku tidak akan biarkan buruan ku kabur." desis Matthew. Yang rupanya kini ia tengah merencanakan sesuatu.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Baru saja Irina hendak memejamkan matanya untuk beristirahat malam itu. Sebuah pesan masuk di ponselnya.
Irina pun kemudian mengecek pesan masuk tersebut. Kedua alis Irina nampak bertaut ketika ia melihat nomor asing mengirimkan pesan padanya.
Penasaran dengan isi pesan tersebut. Irina kemudian membuka pesan itu.
Mata Irina membulat sempurna ketika ia menyaksikan sebuah potongan foto b*Gil diri nya terpampang jelas di ponselnya.
"Astaga." keluh Irina, seketika saat ia melihat dirinya yang tanpa busana nampak tertidur di sebuah ranjang kamar hotel.
Tidak hanya foto. Ada potongan video yang dirinya dengan seseorang saat sedang bercinta. Sontak saja hal itu semakin membuat Irina syok.
"Brengsek, pasti dia." Ucap Irina merasa sangat marah. Karena ternyata pria yang pernah tidur dengannya mendokumentasikan semuanya.