
Hari demi hari kian berlalu. Kini Irina semakin nyaman bekerja di perusahaan Alvaro accompany. Dan nyaman dengan jabatannya sebagai marketing pemasaran di perusahaan tersebut.
Irina sangat menikmati pekerjaannya. Sudah hampir dua bulan lamanya Irina bekerja di perusahaan itu.
Kepegawaian Irina dalam menjalin relasi kerja dengan beberapa karyawan cukup membuat teman kerja di sekelilingnya merasa senang dengan sosok Irina. Mereka juga menyukai kepribadian Irina yang hangat, murah senyum dan juga santun tersebut.
Banyak karyawan pria yang terlihat begitu memperhatikan Irina. Mereka bahkan menunjukan rasa perhatiannya.
Dan semua itu tidak luput dari pantauan Matthew.
Menyadari jika banyak karyawan pria yang menyukai Irina. Tentu saja hal itu menjadi berita yang tidak menyenangkan bagi Matthew.
Dan akhirnya, Matthew menyuruh Rio untuk memanggil beberapa karyawan pria dengan alasan meeting.
Padahal, tidak ada meeting kala itu. Tapi Matthew memberikan ultimatum pada beberapa karyawan pria untuk tidak mendekati Irina dan bersikap ramah pada Irina.
Jika mereka melanggar, mereka terancam akan di pecat dari perusahaan. Sejak saat itu, sudah tidak ada lagi karyawan pria yang berani mendekati Irina.
Karena mereka sudah tau jika pimpinan mereka tengah mengincar Irina.
Meskipun Irina adalah orang yang humble, murah senyum dan juga ramah. Tetapi di sisi lain, Irina begitu tertutup dengan kehidupan pribadinya.
Tidak banyak yang tau tentang kehidupan pribadi Irina.
Wanita yang terlihat smart dan memiliki paras cantik itu sangat pintar dan begitu menutup rapat tentang semua hal yang berkaitan dengan kehidupan pribadi.
Seperti biasa, Irina di buat sibuk dengan kegiatan pekerjaannya di jam jam kerja. Siang itu, di saat Irina hendak pergi ke pantai tujuh untuk mempersiapkan meeting. Tidak sengaja Irina berpapasan dengan Matthew ketika ia hendak masuk ke dalam lift.
Mendapati Irina yang baru saja hendak masuk ke dalam lift pun membuat Matthew tersenyum.
"Mau ke lantai berapa?" Tanya Matthew.
"Saya mau ke lantai tujuh Pak."
"Apa kamu mau keruang meeting?" Tanya Matthew lagi.
"Iya, ada meeting setelah makan siang nanti. Ini saya mau menyiapkan berkas berkas untuk kita meeting." Jawab Irina.
"Oke, masuk lah. Kita kelantai tujuh sama sama."
Matthew kemudian menekan tombol ke lantai tujuh.
"Apa Bapak juga mau ke lantai tujuh tadi? Tanya Irina ragu ragu.
"Iya, bukankah kita ada meeting disana." Sahut Matthew santai.
"Tidak masalah, aku sudah membawa laptop ku. Sekalian aku mau kerja di sana sambil menunggu sampai waktu meeting tiba."
Irina pun kemudian sudah tidak berani untuk berbicara lagi.
Kini mereka berdua telah berada di ruang meeting. Begitu memasuki ruang meeting. Irina yang sudah membawa beberapa dokumen yang ada di tangannya kemudian meletakkan beberapa file demi file tersebut kemeja yang akan dihadiri oleh rekan-rekan yang lain.
Sedangkan Matthew sendiri kini telah duduk di kursi kebesarannya di ruang meeting. Kemudian ia membuka laptopnya dan sesekali Matthew melirik ke arah Irina. Mencuri curi pandang pada wanita yang ia taksir.
Atmosfer kehangatan, berdebar dan keringat dingin mulai membahasi tubuh Matthew jika ia berada di dekat Irina. Entah ada magnet apa yang Irina punya sehingga hanya dengan melirik saja sudah membuat tubuh Matthew bereaksi berlebihan. Sampai sampai Matthew mengendurkan dasinya.
"Beberapa hari yang lalu aku mengikuti akun media sosialmu. Kamu sombong sekali tidak mau followback aku." Ucap Matthew memberanikan diri untuk memulai percakapan di luar membicarakan masalah pekerjaan.
Menyadari jika Matthew kini mengajaknya berbicara. Irina kemudian menengadahkan pandangannya ke arah Matthew. Ketika sang Bos mengajaknya berbicara.
"Maaf, saya tidak tahu kalau Bapak memfollow saya. Saya jarang membuka media sosial saya." ucap Irina berbohong. Padahal dia sangat senang sekali ketika akun media sosialnya di follow oleh Matthew.
Matthew pun kemudian kekeh mendengar jawaban Irina.
"Oh begitu ya." Jawab Matthew singkat. Ia kemudian kembali bersiap dingin.
"Saya akan meng followback Bapak." Ucap Irina sejurus kemudian. Kemudian ia mengambil ponselnya dan memeriksa akun media sosial. Lalu Irina mulai mengfollow akun media sosial milik Matthew.
"Oya Irina, meeting siang ini di cansel dulu. Aku ada pertemuan dengan seseorang yang penting siang ini. Sepertinya kamu harus ikut saya. Karena ini berkaitan dengan pemasaran. So, jadi sekarang kamu ikuti saya ya. Kita pergi keluar untuk menemui orang itu sambil makan siang." ucap Matthew secara mendadak.
"Loh, ko bisa berubah Pak. Bagaimana dengan berkas berkas yang sudah saya siapkan."
"Clarisa yang kan mengutusnya. Sekarang kamu ikuti saya." ucap Matthew, yang kini ia sudah berdiri dan kembali menutup laptopnya.
Tidak ada kuasa bagi Irina untuk membantah. Ia pun hanya bisa menghela nafas panjang. Karena sejak pagi ia sudah sibuk menyiapkan berkas untuk meeting. Kini justru meeting di cansel dan ia harus ikut Matthew.
"Pakai seat beltnya." ucap Matthew, memperingatkan Irina untuk mengenakan seat belt saat ia kini sudah berada berduaan di mobil mewah milik Matthew.
"Aku bantu." ucap Matthew lagi menwarkan bantuan. Saat Irina terlihat kesulitan menarik seat belt tersebut.
"Tidak usah Pak. Saya bisa." Sahut Irina, kemudian ia dengan pelan memasukan kuncian seat belt itu pada tempatnya.
Ketika tali seat belt itu kini sudah terpasang sempurna. Ada sebuah pemandangan yang membuat Matthew harus menelan saliva nya dengan susah payah.
Bagaimana tidak, tali seat belt yang terpasang di tubuh Irina nampak membelah dua gunung kembar milik Irina. Sehingga menampakkan dua gundukan miliki Irina yang terlihat kencang itu terlihat begitu jelas di pandangan Matthew.
"Sial." umpat Matthew dalan hati. Karena siang siang seperti itu dirinya mendapatkan godaan gairah yang membuat kepalanya pusing. Karena sudah lama miliknya tidak berolahraga.