After One Night Stand With CEO

After One Night Stand With CEO
Bersaing



Menikmati makan siang di cafetaria siang itu. Irina nampak menimbang-nimbang tawaran Jacob yang diberikan kepadanya beberapa hari yang lalu.


Sejak Jacob menawarkan tawaran pekerjaan dengan jabatan tinggi di perusahaan milik papanya. Irina pun menjadi sedikit berpikir-pikir jika ia menerima tawaran tersebut.


Sebenarnya tawaran itu adalah kesempatan terbaik untuk dirinya. Dan juga sebuah peluang besar.


Namun di sisi lain, Irina juga tidak ingin latah mengambil tawaran tersebut.


Karena ia merasa masih dalam tahap belajar dalam lingkungan pekerjaan yang ia tekuni saat ini.


Ketika ia duduk melamun sambil menikmati makan siangnya. Tiba-tiba Clarisa datang dan duduk di samping Irina. Sambil meletakkan makan siangnya.


"Hai cantik, kok ngelamun aja siang-siang begini." sapa Clarisa, yang kemudian membuyarkan lamunan Irina.


"Bu Clarisa." sapa Irina, sambil mengulas senyum tipis untuk menyapa Clarisa. Sebagai orang yang punya jabatan penting di perusahaan. Irina terlihat sangat menghormati Clarisa.


"Ada apa?.Ada masalah dengan pekerjaan?" Tanya Clarisa penasaran. Ketika ia melihat Irina melamun.


"Oh, tidak ada Bu. Tidak ada kendala dan masalah soal pekerjaan. Saya cukup nyaman dengan pekerjaan yang saat ini saya kerjakan."


"Bagus, sejauh ini juga saya menilai pekerjaanmu sudah sangat bagus. Aku yakin, kamu pasti akan mendapat promosi jabatan lebih tinggi daripada sebelumnya." ujar Clarisa, memberikan bocoran pada Irina tentang promosi jabatan yang biasanya memang di adakan sekali dalam setahun di perusahaan Alfaro accompany.


Dan biasanya, Matthew sendiri yang akan menunjuk siapa siapa yang berhak untuk mendapatkan atau naik jabatan penting di perusahaan. Sesuai kinerja dan kerajinan.


Irina hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan Clarisa.


"Saya baru bekerja kurang belum dua bulan Bu. Mana mungkin saya mendapatkan promosi jabatan secepat itu." kilah Irina.


"Kenaikan jabatan itu ada di wewenang Pak Matthew sendiri. Biasanya Pak Matthew akan mengangkat siapa siapa yang menurut dia mempunyai kredibilitas dan juga kerja keras yang cukup membuat Pak Matthew merasa harus mengantisipasi kinerja karyawan. Aku saja dulu juga belum lama bekerja di perusahaan ini. Tapi beliau sudah mengangkatku menjadi sekretarisnya." cerita Clarisa pada Irina.


"Saya masih harus banyak belajar untuk bisa benar-benar terjun dalam dunia yang saya jalani saat ini Bu."


"Semangat Irina, aku mendukungmu. Jika kau suatu saat nanti akan dipromosikan oleh Pak Matthew untuk mendapatkan jabatan yang lebih tinggi." ucap Clarisa memberikan dukungan.


"Terima kasih atas dukungannya Bu."


"Sama-sama Irina. Aku berbicara seperti ini karena kamu memiliki potensi. Kamu tahu, sebentar lagi aku akan segera menikah dengan Rio. Saat ini aku memang masih menjabat sebagai sekretaris Pak Matthew. Tapi setelah menikah nanti. Aku akan mengajukan ganti jabatan. Pak Matthew sudah tau itu. Lagi pula juga Rio tidak ingin aku jadi sekertaris Pak Matthew lagi jika kamu sudah menikah. Jadi, posisi sekertaris itu pasti akan kosong. Aku akan merekomendasikan kamu untuk jadi pengganti ku. Aku yakin pak Matthew akan setuju."


"Misal pak Matthew sendiri yang menunjuk saya. Saya sepertinya belum bisa menerima itu Bu. Saya belum siap."


"Apanya yang belum siap. Aku sendiri yang akan memberi tau mu nanti. Apa saja tugas tugas sebagai seorang sekertaris. Jangan tolak kesempatan Irina. Jika kau jadi sekertaris Pak Matthew. Kau akan ikut kemanapun dia akan pergi. Sekalian kau bisa jalan-jalan. Kau single kan. Apalagi, gaji besar, bisa jalan jalan dan dapat bonus." Ucap Clarisa memprovokasi Irina.


Lagi lagi Irina hanya tersenyum tipis.


"Bagaimana bisa Pak Rio tidak cemburu pada Pak Matthew. Bu Clarisa adalah sekertaris Pak Matthew yang setiap hari bertemu dengan Pak Matthew. Tapi di sisi lain Bu Clarisa juga tunangan Pak Rio."


"Kau kita setiap aku pergi meeting bersama pak Matthew, Rio tidak ikut." Ujar Clarisa sambil terkekeh.


"Kau salah tebak Irina. Justru aku dan Rio saling jatuh cinta karena kami sering jalan berdua. Maksud ku, Rio adalah asisten pribadi Pak Matthew, dan aku ada sekertaris nya. Jadi, setia aku pergi dengan Pak Matthew otomatis Rio juga ikut. Lagipula aku jauh dari tipe Pak Matthew." seloroh Clarisa.


"Terima kasih untuk dukungannya Bu. Saya kira Pak Matthew tidak akan memilih saya. Saya belum banyak pengalaman."


"Jangan merendah Irina. Kau ini pintar. Semua karyawan berpeluang, termasuk dirimu."


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Awan hitam terlihat menggantung di angkasa pada jam jam pulang kerja sore kala itu.


Irina yang baru saja keluar dari gedung perkantoran nampak memeluk dirinya sendiri dengan melipat kedua tangannya ke perut. Karena angin terlihat bertiup sangat kencang. Sehingga hawa dingin sore itu begitu terasa.


Berdiri dengan tegap di lobby gedung perkantoran. Irina nampak menunggu kedatangan seseorang yang akan menjemputnya.


Matthew yang kala itu baru saja keluar dari gedung parkiran tak sengaja melihat Irina yang tengah berdiri di lobby gedung.


Kemudian Matthew menghentikan mobilnya dan berniat untuk menawarkan tumpangan kepada Irina.


Gerakan Matthew terhenti ketika ia hendak membuka pintu mobil. Kala ia melihat seseorang baru saja tiba bersama dengan mobil mewahnya berhenti tepat dihadapan Irina.


Seseorang itu kemudian keluar dari mobil dan nampak menyambut Irina dengan wajah yang riang.


Irina pun tersenyum kepada Pria tersebut. Tanpa ragu, Irina kemudian masuk ke dalam mobil pria yang tengah menjemputnya.


Sontak saja hal itu menjadi sebuah rasa kekecewaan pada diri Matthew. Karena tadinya ia hendak menawari Irina tumpangan tetapi sudah keduluan seseorang yang menjemput Irina.


Mengabaikan rasa kecewa yang melanda hatinya. Matthew kemudian kembali membanting pintu mobil dan melanjutkan perjalanan untuk pulang.


Di tengah-tengah guyuran hujan yang deras sore itu. Matthew terlihat melajukan mobilnya dengan kecepatan sedikit tinggi di jalan bebas hambatan di tengah kota.


Sambil menyetir, perasaan Matthew dibuat galau dan juga risau dengan seseorang yang kini sering sekali ia dapati bersama dengan Irina. Keakraban mereka berdua membuat Matthew cemburu.


Sebagai seorang pria, Matthew punya feeling yang sangat kuat. Jika pria yang bernama Jacob itu tidak mungkin hanya menganggap Irina sekedar teman biasa.


Pria itu pasti memiliki perasaan terhadap Irina. Dan tentu saja hal itu bahaya bagi Matthew.


Padahal Matthew telah bertekad dan akan melakukan apa saja demi bisa mendapatkan Irina.


Sejauh ini langkah yang diambil Matthew sudah cukup bagus dengan melakukan pendekatan terhadap Irina secara natural.


Tapi jika intensitas pertemuan Irina dengan Jacob tersebut semakin sering. Bukan tidak mungkin ia akan kehilangan kesempatan untuk bisa memiliki Irina.


Meski Matthew sendiri juga sudah tahu perihal Irina ingin fokus dalam karir. Dan tidak ingin menjalin kedekatan dengan siapapun.


Tapi tetap saja, Jacob adalah sebuah ancaman yang nyata bagi Matthew.


"Aku tidak akan mungkin membiarkan Irina jatuh ke tangan pria manapun selain dia akan menjadi milikku." Desis Matthew, sambil mencengkram setir mobilnya dengan begitu kuat.