After One Night Stand With CEO

After One Night Stand With CEO
Malam panas



"Rangkullah aku." Perintah Matthew.


Irina pun menurut. Ia kemudian mengalungkan kedua tangannya ke leher Matthew. Mereka kini berposisi duduk bak sepasang kekasih. Saling duduk dengan posisi mesra dan posesif.


Jantung Irina makin berdebar ketika ia duduk di pangkuan Matthew. Entah apa yang terjadi dengan harinya kala itu. Ada sebuah perasaan lain yang berbeda yang Irina rasakan.


Begitu pula dengan Matthew. Ia juga merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Irina.


Mereka duduk bak sepasang kekasih yang sedang kasmaran. Saling duduk berhadapan dengan posisi mesra.


"Minumlah." Matthew kemudian meminumkan winenya ke mulut Irina. Namun Irina nampak menahan gelas yang sudah menyentuh bibirnya itu.


"Aku tidak minun." Matthew tersenyum kecut dan menghela nafas berat. Ia suka dengan sikap berani wanita yang sudah membuatnya gila itu.


"Kau lupa, kau sudah meminumnya malam itu. Jadi siapa bilang kau tak pernah minum." Goda Matthew.


"Aku bilang minum ya minum." Ucap Matthew sedikit tegas. Kemudian ia mengarahkan lagi gelas winenya ke mulut Irina. Dan dengan terpaksa, Irina pun meneguk sedikit wine tersebut.


Setelah Irina minum, Matthew kemudian meminum juga wine itu tepat di bekas dimana tadi Irina minumnya.


"Bersediakah kau menjadi wanita panggilan ku yang selalu standby. Kau akan mendapatkan lebih banyak lagi dari ku. Jika kau bersedia." Tawar Matthew.


"Aku tidak bisa. Aku bukan wanita penghibur."


"Jangan jual mahal Irina. Sekarang saja kau sudah menjadi wanita penghibur ku."


"Akan ku pastikan ini adalah malam terakhir aku melayani mu." jawab Irina tegas.


Mendengar itu, Matthew pun tersentak. Tapi tak lama berselang, Matthew meragukan kata kata Irina.


Wanita yang ada di pangkuannya itu pasti akan mencarinya lagi demi kepentingannya.


"Oke, kita liat saja nanti. Siapa yang akan saling membutuhkan." Sindir pria yang begitu bergairah dengan tubuh sempurna Irina tersebut.


Sudah tidak tahan lagi untuk bermain dengan Irina.


Matthew memulai permainannya. Irina hanya diam saja. Tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali diam dan pasrah. Karena ia telah menjual dirinya pada malam itu. Jadi hak Matthew untuk menjamah tubuhnya.


"Aku suka tubuh mu Irina. Kau sungguh wangi." Puji Matthew, Irina tak pernah menjawab setiap pujian yang Matthew lontarkan padanya.


Setelah puas mencumbu Irina di sofa. Kini Matthew mengendong Irina dan membawanya ke tempat tidur ala bridal style. Merebahkan tubuh Irina dengan pelan dan juga hati hati.


Pria lajang yang memiliki ketampanan sempurna itu benar benar dengan begitu teliti merengkuh kenikmatan dari tubuh Irina.


Matthew seolah tidak melewatkan bagian tubuh Irina yang tidak ia sentuh. Matthew seperti mendapatkan harga karun yang tersembunyi. Yang begitu membuat dirinya bahagia.


Irina yang makin terbawa permainan bibir Matthew. Kini hormon kenikmatan yang ada di dalam dirinya mulai bangkit.


Ada yang aneh terjadi pada tubuhnya. Sesuatu itu juga kian menuntut. Sebuah respon skin to skin yang liar. Hal yang membuat Irina bigung harus menanggapi bagaimana untuk rasa yang muncul dari dalam dirinya.


Meskipun ia benci dengan apa yang ia lakukan dan mengutuknya. Tapi secara naluriah. Tubuh Irina juga merespon dan bahkan menerima.


Sampai sampai, kini Irina mengeluarkan suara rintihan akibat ulah Matthew yang begitu memanjakannya.


"Kau beruntung Irina. Kau tau, akulah yang seolah-olah menjadi laki laki penghibur mu. Karena aku melakukanya untuk mu. Kau pasti juga merasa itu kan. Kamu tidak bisa berbohong. Aku mendengar suara mu tadi. Dan kau begitu basah di bawah sana." Ketahuan jika Matthew mendengar suaranya. Membuat Irina malu dan tidak tau apa yang sedang ia rasakan saat ini.


Dan kini, ketika Matthew sudah pada puncaknya. Irina hanya bisa pasrah untuk dimiliki oleh Matthew.


Luapan rasa kebahagiaan dan kemenangan menyelimuti hati Matthew yang masih belum selesai dengan aktivitasnya pada Irina.


Setelah beberapa saat. Matthew menghentikan aktifitasnya karena dirinya sudah tak berdaya lagi. Entah Irina sadari apa tidak. Matthew sengaja membiarkan cairan vanillanya membanjiri milik Irina.


"Tidak usah malu. Kau tau Irina. Aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya." Matthew mengakui.


"Menjijikkan." Ucap Irina membatin.


"Ada apa dengan diri ku. Dan ada apa dengan dirinya. Kenapa menjadi seperti ini." Irina kembali membatin.


Ia bigung dan frustrasi dengan apa yang ia rasakan pada malam ini. Seolah-olah ia juga menikmati permainan yang Matthew lakukan padanya.


"Aku janji pada diriku sendiri. Dan demi kebaikan diri ku. Jika malam ini adalah malam terakhir aku menjual diri." Merasa apa yang ia lakukan penuh dengan dosa. Irina berjanji pada dirinya untuk tidak mengulanginya.


Jantung Irina makin berdebar kencang. Dan nafasnya mulai memburu. Saat tubuhnya yang polos kini telah duduk tepat di pangkuan Matthew yang sama polosnya dengan dirinya.


Dengan mata yang masih tertutup. Sebenarnya Irina begitu penasaran dengan wajah asli pria yang telah menyentuhnya itu.


"Kau begitu cantik Irina. Bagaimana kau bisa secantik ini. Padahal aku sudah sering bertemu wanita wanita cantik itu. Tapi mereka semua tidak ada yang menarik perhatian ku. Kau padahal biasa saja. Tapi aura mu berbeda dengan yang lain. Diri mu penuh pesona." Puji Matthew, sambil membelai pipi Irina dengan punggung tangannya.


"Apa kau sudah menikah?" Entah apa yang membuat Irina berani bertanya seperti itu pada Matthew.


Matthew nampak terkekeh. Ia merasa tergelitik dengan pernyataan Irina yang sepertinya sangat penasaran dengannya.


"Memangnya jika aku sudah menikah kenapa?" Matthew nampak penasaran.


"Berarti kau telah selingkuh. Dan menduakan istri mu. Kamu sangat jahat." Jawab Irina tegas.


"Dia tidak tau aku melakukan ini semua. Dia sudah hidup nyaman dengan uang yang aku berikan. Jadi, dia tidak tau aku suka jajan seperti ini." ucap Matthew berbohong. Ia penasaran dengan reaksi Irina jika ia mengaku sudah menikah. Padahal dia sendiri masih single.


"Lalu kenapa kau menjual diri?" Tanya balik Matthew.


"Aku butuh uang." Jawab Irina singkat.


"Apa kau tak takut terkena penyakit?"


"Aku bahkan siap mati demi keluarga ku. Jika Yang Maha Kuasa mengutuk ku untuk sebuah tindakan kotor ini aku siap. Jika sewaktu-waktu aku sakit akibat ulah ku ini. Aku siap menerima konsekuensinya."


"Aku kira itu hanya alibi mu saja itu Irina."


"Tidak ada untungnya membuat mu percaya pada ku. Terserah."


"Apa kau punya pacar?"


"Bukan urusan mu."


Matthew tertawa sinis dengan jawaban singkat Irina. Yang terkesan jual mahal itu pada dirinya.


Meskipun begitu, Matthew begitu menyukai wanita yang kini sudah ada dalam kekuasaannya tersebut.