After One Night Stand With CEO

After One Night Stand With CEO
Irina Vs Matthew



"Terimakasih untuk hari ini Irina." Ucap Regina, seusai ia memberikan uang upah pada Irina untuk kerjanya pada hari itu.


"Terimakasih Bu." Irina kemudian menerima uang yang di berikan padanya. Tapi mata Irina sedikit terkejut manakala ia menerima lima lembaran uang kertas pecahan senilai 100 ribu rupiah.


"Bu, maaf. Ini kebanyakan." Ujar Irina jujur.


"Itu tidak kebanyakan. Tapi aku sengaja memberikan mu lebih."


"Tapi Bu, ini terlalu banyak."


"Tidak apa Irina. Anggap saja uang lebihnya itu adalah uang bonus dari ku. Aku suka dengan cara kerja mu. Dan aku juga memahami kondisi keluarga mu. Itung-itung, anggap saja aku bantu kamu."


"Tapi saya tidak enak hati menerimanya Bu. Saya karyawan baru. Jadi saya merasa tidak enak hati dengan karyawan yang sudah lama bekerja di sini." Tukas Irina pada Regina. Yang merasa tak enak hati menerima uang lebih itu dari bosnya.


"Selama kamu tidak beritahu mereka. Semua aman Irina. Sudah, jangan di bahas lagi. Ambil saja uang ini. Jangan menolak rezeki."


Dan akhirnya, Irina menerima uang tersebut. Walau sebenarnya ia enggan. Karena ia merasa belum pantas dibaiki sebaik itu oleh Bu Bosnya.


Dengan mengendarai ojek online. Irina baru sampai di rumah sekitar pukul sepuluh malam.


"Ini ongkosnya Pak." ucap Irina, memberikan uang ongkos pada sang pengemudi ojek online.


"Ini kebanyakan Non." Ujar sang pengemudi ojek online. Karena Irina memberikan uang lebih pada pengemudi itu.


"Tidak apa apa pak. Saya sengaja melebihinya. Saya hari ini dapat rezeki lebih. Jadi ngk ada salahnya saya berbagi sama bapak." ucap Irina tulus.


"Oh, terimakasih Non. Semoga Non di tambah lagi rezekinya sama Allah."


"Aamiin." Jawab Irina sedang tersenyum ramah.


Setelah itu Irina kemudian memasuki pelataran halaman rumah dan berjalan menuju ke rumah.


Tanpa Irina sadari, dari kejauhan sebuah mobil mewah berwarna hitam nampak berhenti beberapa meter dari rumah Irina. Dan seseorang nampak memperhatikan Irina dari dalam mobil tersebut.


Pria itu tidak lain adalah Matthew. Ia sengaja mengikuti Irina pada malam itu. Dan itu adalah kali pertamanya bagi Matthew menguntit Irina secara langsung.


"Aku merindukanmu Irina. Kapan aku bisa menyentuhmu lagi. Melihatmu dari tempat aku duduk saat ini pun aku sudah sangat bahagia. Bisa membantumu pun aku juga sudah sangat senang. Apalagi aku bisa menyentuh dan menatap mu dari dekat lagi wanita ku. Andai kau tau, kamu sudah membuat aku jadi gila seperti ini. Seorang Matthew yang takluk pada seorang Irina yang angkuh pada seorang pria. Justru hal itu yang membuat aku menyukai mu." Matthew nampak bergumam pada dirinya sendiri.


Malam itu ada secercah rasa bahagia dan lega. Yang Matthew rasakan. Karena ia bisa melihat wajah cantik alami Irina.


Wajah Irina yang teduh, lugu, dan juga yang terlihat cerdas itu telah menjadi magnet tersendiri bagi Matthew.


Setelah memastikan Irina telah masuk ke dalam rumah. Matthew kembali melajukan mobilnya untuk pulang ke apartemen.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Irina sendiri yang baru saja sampai di rumah langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Ia sengaja membawa kunci rumah sendiri agar tidak menggangu kedua orang tuanya disaat ia pulang. Karena biasanya, Mama dan Papa sudah tertidur disaat ia pulang.


"Sepertinya inikah rasanya menjadi dewasa. Dan seperti inikah rasanya menjadi tumpuan harapan orang tua." Guman Irina pada diri sendiri. Ketika ia memandangi langit-langit kamarnya.


"Aku tidak sesama sekali keberatan dan tidak terima dengan apa yang sudah aku lakukan. Justru sebaliknya. Aku sungguh merasa berarti. Karena hanya aku yang bisa mereka andalkan. Bagaimana aku bisa marah dan tak terima dengan apa yang harus aku lakukan saat ini. Sedangkan mereka sudah tak berdaya. Apalagi Rendra, sebagai anak tertua saja dia tidak punya otak. Justru membuat hanya membuat beban keluarga. Setidaknya Papa dan Mama aman bersama ku. Aku akan berjuang juga untuk mereka. Siapa lagi jika bukan aku yang merawat mereka." gumam lagi Irina.


Yang kini mereka punya tagung jawab besar untuk merawat dan menafkahi kedua orangtuanya.


Setelah selesai dengan ritual mengeluarkan segala uneg-unegnya pada diri sendiri. Irina mulai memejamkan matanya dan mencoba untuk beristirahat.


Karena ada hari esok yang harus ia sambut dengan penuh semangat lagi.



🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Apartemen.


Flashback On


"Kau begitu cantik Irina. Bagaimana kau bisa secantik ini. Padahal aku sudah sering bertemu wanita wanita cantik itu. Tapi mereka semua tidak ada yang menarik perhatian ku. Kau padahal biasa saja. Tapi aura mu berbeda dengan yang lain. Diri mu penuh pesona." Puji Matthew, sambil membelai pipi Irina dengan punggung tangannya.


"Apa kau sudah menikah?" Entah apa yang membuat Irina berani bertanya seperti itu pada Matthew.


Matthew nampak terkekeh. Ia merasa tergelitik dengan pernyataan Irina yang sepertinya sangat penasaran dengannya.


"Memangnya jika aku sudah menikah kenapa?" Matthew nampak penasaran.


"Berarti kau telah selingkuh. Dan menduakan istri mu. Kamu sangat jahat." Jawab Irina tegas.


"Dia tidak tau aku melakukan ini semua. Dia sudah hidup nyaman dengan uang yang aku berikan. Jadi, dia tidak tau aku suka jajan seperti ini." ucap Matthew berbohong.


Ia penasaran dengan reaksi Irina jika ia mengaku sudah menikah. Padahal dia sendiri masih single


Flashback Off


Berada di atas tempat tidurnya yang mewah. Matthew kembali teringat dengan percakapan singkat antara dirinya dan juga Irina pada saat itu.


Matthew jadi tersenyum-senyum. Ketika ia ingat jika dirinya telah berbohong dan berkata pada Irina jika ia telah menikah.


"Yang jadi pertanyaan ku, kenapa kamu tanya aku sudah menikah Irina? Pasti kamu juga penasaran pada diriku." ucap Matthew yang kala itu masih terjaga di atas ranjangnya.



"Ada sisi baiknya aku berjumpa dengan mu Irina. Sejak bertemu dengan mu. Aku jadi tidak suka kelayapan sekarang. Aku lebih suka menyendiri di apartemen sambil berimajinasi dengan mu. Kau seolah-olah telah hidup di dalam pikiran dan jiwa ku. Salahkah aku jika menginginkan mu. Bahkan aku sekarang menginginkan mu untuk menjadi istri ku. Aku tidak bisa membayangkan. Bagaimana bahagianya aku bisa hidup bersama mu. menghabiskan waktu bersama sama. Atau kita membuat sebuah keluarga kecil. Dengan memiliki beberapa anak keturunan kita." Kini imajinasi Matthew making tinggi pada Irina.


"Sial. jika sudah berimajinasi dengan mu. Miliki ku jadi tegang Irina. Kau harus bertanggungjawab." Matthew pun kemudian bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju ke kamar mandi.