
Sambil menghela nafas panjang. Pagi itu Irina nampak bersiap untuk pergi ke kampus.
Sejenak ia memejamkan kedua matanya dan berdoa. Agar pada hari itu, semua yang akan ia kerjakan bisa berjalan dengan lancar. Tentang kuliah dan juga tentang bekerja di hari pertamanya.
Setelah siap untuk pergi meninggalkan kamar. Irina yang baru saja membuka pintu itu kemudian bertemu dengan sang Mama tepat di depan pintu kamarnya.
"Mama baru saja mau panggil kamu. Sarapan dulu Irina. Mama sudah siapkan sarapan spesial untuk mu. Hari ini pasti membuat mu sedikit grogi. Karena sehabis kuliah kamu langsung akan kerja."
"Jangan kawatir Ma. Irina sudah siap dan semangat." Jawab wanita yang punya paras cantik tersebut.
"Ya sudah. Ayo ke meja makan. Kamu harus isi perut." Irina dan Bu Laksmi pun kemudian berjalan menuju meja makan.
"Maaf Ma, tadi aku nggak sempat bantuin Mama masak. Karena tadi semalam Irina kerjain banyak sekali tugas kuliah. Dan akhirnya aku bangun kesiangan."
"Sudah tidak usah di pikirkan, tidak apa-apa. Mama bisa masak sendiri kok. Habiskan sarapan mu dulu, menyangkan perut mu."
"Iya Ma," Sahut Irina sambil tersenyum manis.
"Maafkan Mama dan Papa yang Irina. Karena kamu harus menjadi tulang punggung keluarga saat ini. Andai Papa mu sehat dan bisa bekerja. Kamu pasti tidak akan di paksa melakukan semua hal ini." ucap Bu Laksmi, merasa sedikit sedih dengan keadaan mereka saat ini.
Yang terpaksa membuat Irina harus kerja. Untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.
"Sudah Ma, jangan di bahas. Kita masih beruntung dan harus bersyukur. Meksi kita susah sekarang. Kita masih ada tempat tinggal. Dan aku bisa berusaha untuk cari uang. Banyak ko Ma. Orang orang yang jauh lebih buruk nasibnya dari pada kita." Jawab Irina pada sang Mama.
"Mama bangga sama kamu sayang. Mama hanya bisa doakan. Apapun aktivitas yang kamu jalani hari ini semoga semua lancar ya nak. Dan kamu semoga selalu dalam perlindungan Tuhan. Mama sungguh bangga sama kamu. Sebagai seorang anak perempuan yang seharusnya masih di tanggung hidupnya oleh keluarga. Kamu kini malah jadi tulang punggung keluarga. Kamu sangat berani. Bahkan kamu sudah bisa mengambil kembali sertifikat rumah ini. Yang sebelumnya digadaikan oleh kakak mu. Dan sekarang, kamu yang harus menanggung semua hutang-hutang itu."
Padahal soal hutang hutang itu sudah selesai. Irina sudah membereskannya. Walau harus menggadaikanya dengan kehormatan dirinya. Soal itu, hanya Irina yang tau. Baginya, kedua orang tuanya tidak perlu tau apapun yang ia lakukan.
"Sudah Ma. Tidak usah bahas masalah sertifikat. Yang penting kita baik baik saja sekarang. Dan makasih atas doa doa yang mama berikan pada Irina. Itu sudah cukup untuk membakar semangat Irina. Tenang saja Ma, selama Mama dan Papa masih punya Irina. Aku akan berjuang untuk Mama dan juga Papa. Mungkin ini adalah bentuk bakti ku pada kalian." Ucap Irina dengan tulus.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Setelah selesai sarapan. Irina pamitan kepada kedua orang tuanya.
Seperti biasa Irina menggunakan fasilitas kendaraan umum untuk pergi ke tempat kuliah.
Karena kendaraan motor yang pernah ia punya juga tidak luput dari ulah sang kakak . Rendra membawa pergi motor milik Irina yang sebelumnya ia gunakan sebagai transportasi.
Berangkat dengan penuh rasa semangat yang membara dari rumah. Wajah Irina terlihat ceria.
Sesampainya di kampus. Irina langsung bergegas masuk ke dalam kelas dan mengikuti mata kuliah pada hari itu.
"Wah lihatlah dirimu. Ada apa gerangan, kamu begitu bahagia hari ini. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya." selidik Maya yang telah duluan berada di kelas.
Irina yang baru saja tiba di bangku pun hanya tersenyum tipis menanggapi rasa ke ingin tau an Maya sahabatnya.
"Ingat pepatah May, ada pepatah yang mengatakan. Bandai pasti berlalu kan. Aku meyakini pepatah itu sekarang. Jika sebuah hal buruk menghantam dan terjadi pada kehidupan kita. Tidak selamanya kita akan berada dalam pusaran masalah itu. Semua cepat atau lambat pasti akan menemukan titik terang selagi kita berusaha untuk menyelesaikan masalah itu." Sahut Irina, mencoba memberikan Maya gambaran tentang kerumitan hidup yang pernah ia alami.
"Benar, benar. Bijak sekali kamu Irina. Salut dengan mu." puji Maya. Irina pun nampak tersenyum. Tapi senyumannya kembali pudar jika ia ingat bagaimana ia menyelesaikan masalahnya dengan menjual diri untuk membayar hutang.
Mengabaikan semua moment penuh dosa yang ia lakukan. Irina kembali menghela nafas panjang untuk tetap berkonsentrasi pada hari itu. Karena sesuai kuliah ia harus berkerja.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Sebuah kegemparan terjadi di lingkungan kampus. Tepatnya di belakang bangunan perpustakaan kampus. Seorang petugas kebersihan kampus menemukan janin bayi berkelamin perempuan di buang begitu saja di tong sampah.
Dan sepertinya janin itu belum lama di buang oleh sang pemilik janin.
Sontak saja berita itu menghebohkan seluruh mahasiswa di lingkungan kampus.
Banyak para mahasiswa dan mahasiswi yang ingin melihat langsung janin yang di buang itu.
Dan beberapa diantara mereka pun saling bertanya tanya. Janin siapa itu.
Irina dan juga Maya yang baru saja selesai dengan maka kuliahnya. Di buat kaget dengan kegemparan yang terjadi pada saat itu.
"Ada apaan sih. Heboh benar?" gumam Maya, saat melihat beberapa temanya berlari kearah belakang bangunan kampus. Irina pun ikut penasaran.
"Ada apa sih di sana. Kok banyak orang berkerumun." Tanya Irina pada salah seorang teman.
"Ada penemuan janin di tong sampah belakang gedung perpustakaan." Jawab salah seorang mahasiswa yang di tanya oleh Irina.
"Janin." seru Maya. Tanpa aba aba, Maya langsung menarik tangan Irina untuk ikut melihat kehebohan yang terjadi kala itu.
Irina pun tak hanya bisa pasrah saat di tarik tangannya oleh Maya untuk melihat kegemparan yang terjadi saat itu.
"Terkutuk, jahat dan tega sekali mereka membuang janin yang tak bersalah itu. Mereka enak enak melakukan bersetubuhan. Saat apa yang mereka lakukan jadilah janin itu. Mereka malah membuangnya. Dasar psikopat, kejam, tak berperasaan dan jagat." oceh Maya, sesuai ia dan Irina melihat sendiri janin yang di buang di tempat sampah kala itu.
"Janinnya masih kecil. Kira kira usia berapa ya Mau kandungan wanita yang tega membuang bayinya itu?" Tanya Irina penasaran.
"Kalau di liat dari ukurannya. Janin itu kira kira berusia kurang lebih 10 Minggu. Mereka sengaja mengeluarkan janin itu agar dia tidak hidup. Mungkin mereka malu. Dan menganggap janin itu sebagai aib jika tumbuh. Aku benci dengan pelakunya." Oceh Maya lagi. Yang begitu geram dengan ulah seseorang yang tega membuang janin tersebut.
Sedangkan Irina hanya diam seribu bahasa. Karena ia sendiri pun belum lama ini telah berzina.