After One Night Stand With CEO

After One Night Stand With CEO
Perhatian Matthew untuk Irina



"Luka yang dialami oleh Irina cukup serius. Bahkan sangat serius. Karena terjadi kerobekan di organ kewanitaannya. Maaf, mungkin anda melakukannya secara kasar. Kami terpaksa melakukan sedikit penjahitan di sana. Tidak hanya kekerasan secara seksual. Irina juga mengalami luka fisik di kedua pergelangan tangan dan kakinya. Semua sudah di tangani. Dan kita hanya menunggu kondisi Irina membaik secara total. Dan satu hal lagi Pak Matthew. Kami juga sudah siapkan seorang psikolog jika sewaktu-waktu Irina tutur. Karena pastinya, apa yang ia alami menimbulkan rasa traumatis dalam dirinya. Semua itu tergantung bagaimana Irina bisa mengatasi apa yang ia alami."


Matthew terlihat menghela nafas panjang sesaat setelah ia mendengarkan penjelasan sang dokter.


Karena apa yang Irina alami semuanya karena ulahnya.


"Terima kasih untuk penjelasannya dokter. Seperti yang aku arahkan. Tolong jaga rahasia ini dengan baik. Dan aku minta hadirkan seorang psikolog handal dan terbaik yang kau tahu untuk bisa memberikan pendampingan terhadap Irina jika memang diperlukan."


"Baik pak Matthew."


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


"Irina, bagaimana kabar mu pagi ini." Sapa Clarisa yang baru saja datang pagi itu menjenguk Irina di rumah sakit, sambil membawa buah-buahan yang sudah dikemas dalam sebuah keranjang yang cantik.


"Tidak perlu repot-repot Bu." ucap Irina, yang kala itu tengah bersandar pada sebuah bantal. Setelah ia diperiksa oleh dokter. Irina merasa tidak enak hati pada Clarisa. Karena sejak pertama dia di rawat, Clarisa lah yang sibuk mondar-mandir untuknya.


"Aku merasa tidak repot. Lagi pula ini bukan dari ku. Ini buah dari Pak Matthew. Dia kan sudah tau kamu tidak masuk kerja karena sakit. Dan Pak Matthew menyuruhku untuk memantau mu. Kau kan sudah menjadi bagian karyawan di perusahaan Pak Matthew. Dan Pak Matthew juga menyuruh ku untuk mengurusi seluruh biaya pengobatan mu. Jadi, kau tidak perlu keluar banyak uang untuk membayar biaya rumah sakit mu."


"Oh, kenapa Pak Matthew lakukan itu. Apakah karyawan yang lain juga mendapatkan perlakuan yang sama saat mereka mendapatkan musibah?" Tanya Irina, yang heran kenapa Bos nya itu membayari seluruh biaya pengobatan rumah sakitnya.


"Iya Irina. Mereka juga mendapatkan itu. Kamu tenang saja, fokus pada kesehatan mu. Soal pekerjaan sudah di handle temen yang lain."


"Sampaikan rasa terimakasih saya pada pak Matthew ya Bu."


"Pasti aku akan sampaikan." sahut Clarisa, yang cukup dekat hubungannya dengan Irina. Walaupun mereka baru dalam menjalin hubungan relasi kerja di kantor.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Seminggu telah berlalu, kini Irina sudah di perbolehkan untuk pulang. Meskipun Irina sudah kembali ke rumah. Tetapi dia belum bisa kembali bekerja. Ada beberapa hal yang membuat Irina belum siap untuk beranda di tengah tengah perkumpulan orang.


Ada rasa malu dan tidak percaya diri yang sekarang selalu melingkupi hati dan perasaannya. Sebuah perasaan takut dan kawatir.


Banyak sekali berbagai perasaan kekhawatiran dan juga overthinking yang selalu meneror perasaan dan hati Irina.


Pikiran-pikiran negatif itu kini nampak berseliweran di pikirannya. Dan ia merasa takut jika sesuatu yang buruk terjadi kepada dirinya kembali.


Tidak hanya pikiran-pikiran buruk yang dalam seminggu terakhir mengganggunya. Tapi Irina juga selalu bermimpi buruk.


Pria yang menggagahinya dengan paksa itu kini telah membuat mental Irina merasakan ketakutan jika dia dilirik oleh seorang pria yang tidak ia kenal.


Apa yang dialami ternyata tidak hanya menimbulkan kekerasan fisik terhadap dirinya, tetapi juga terjadi kekerasan psikisnya.


"Nak, ko melamun." sapa Bu Rahma, Mama Irina. Yang kala itu menyambangi Irina di kamar. Rahma merasakan ada sedikit keanehan yang terjadi pada anaknya. Tidak biasa anak perempuannya menjadi pendiam seperti itu.


"Ma." Irina yang tadinya melamun di sisi jendela. Kini menoleh kearah sang Mama yang baru saja datang ke kamarnya.


"Ada apa? Tidak biasanya kamu melamun. Jika ada masalah, bilang sama Mama. Berceritalah, kamu tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari Mama. Mama bisa melihat sesuatu yang kau pendam. Mama tidak tau itu apa. Makanya, ceritakan sama Mama. Ada apa?"


"Tidak ada apa apa Ma. Tenang saja." dusta Irina, padahal ia menyembunyikan sebuah tragedi besar yang ia alami.


"Semenjak kamu pulang dari rumah sakit, kamu sering melamun." Selidiki lagi Bu Rahma.


"Sungguh Ma, tidak ada apa-apa. Oh ya Ma, Senin depan ini sepertinya Irina sudah bisa kembali bekerja."


"Jika kamu belum sehat benar, sebaiknya kamu minta cuti lagi saja kepada atasanmu. Mama lihat lihat atasanmu baik. Bahkan dia sudah beberapa kali mengirimkan buah-buahan untukmu ke rumah. Meskipun dia tidak datang ke rumah menjenguk mu. Tidak hanya kirim buah- buahan dia juga membayar biaya rumah sakit mu yang mama yakin itu mahal untuk ukuran kita."


Irena pun kemudian tersenyum tipis ketika sang Mama memuji Matthew. Pikiran Irina kemudian mencoba untuk mengingat ingat semua sikap dan perilaku Matthew padanya.


Dan sejauh ini Irina memang merasa bahwa Matthew adalah orang yang baik.


"Apa atasan mu masih single?" tanya Bu Rahma tiba tiba. Dan pertanyaan Bu Rahma membuat Irina tersenyum tak percaya. Jika Mama menanyakan hal yang tak seharusnya Mama nya tanyakan.


"Dari kapan Mama kepo tentang kehidupan orang lain?" tanya Irina.


Bu Rahma pun kemudian tersenyum. "Entahlah, Mama hanya feeling. Mama rasa atasan mu menyukai mu Irina."


Mendengar hal itu, Irina langsung menundukkan wajahnya.


Mana mungkin seorang Matthew Alvaro pemilik perusahaan besar kaya raya dan dari keluarga terhormat akan menyukai dirinya.


Irina merasa dirinya kini sudah kotor. Seorang wanita yang tidak suci lagi. Seorang wanita yang pernah menjual kesuciannya bahkan ia pernah diperkosa.


Memiliki masa lalu yang sangat kelam membuat Irina merasa kecil dan rendah. Jadi tidak mungkin ada pria sebaik dan setampan Matthew Alfaro mau dengannya.


Tidak hanya Matthew, mungkin semua pria juga akan menolaknya.


"Apa yang bisa aku banggakan menjadi seorang wanita sekarang. Sedangkan aku sudah tidak punya lagi sesuatu yang bisa aku persembahkan pada calon suami ku kelak."


Hai reader, sebelumnya saya mau ucapkan banyak terima kasih untuk kalian semua yang sudah mengikuti kisah Irina dan Matthew. Untuk kisah Irina dan Matthew di Novel ini sudah selesai. Tapi, kisah mereka belum benar-benar selesai 🤭🥰🥰🥰 Hanya saja Author akan buat buku baru untuk kisah mereka. Masih menceritakan tentang kisah hubungan penuh misteri antara Irina dan Matthew. Jadi, jangan lupa subscribe, rate, komentarnya ya reader...hanya hanya dengan like...itu sudah menjadi dukungan yang luar biasa untuk saya...jika berkenan jejakkan komentar juga, 🤭 soalnya regulasi baru aplikasi ini beda dengan yang dulu... author mohon untuk jejak kan like di setiap baca bab per bab nya hanya itu ko terima kasih.🥰🥰🥰🥰❤️❤️❤️