
Irina sungguh merasa kebingungan untuk menemukan pakaiannya. Karena ketika ia mencari pakaian yang semalam tercecer di lantai. Ia tidak mendapati bajunya di seluruh ruangan kamar hotel.
"Sial, dimana pakaian ku. Kenapa tidak ada?" Gerutu Irina panik. Sambil berjalan mengitari sisi tempat tidur untuk mencari pakaiannya. Dengan sambil memegangi selimut untuk menutupi tubuhnya.
Perhatian Irina kini tertuju pada sesuatu yang terdapat di sofa. Dengan sedikit rasa bingung. Irina menghampiri sebuah tumpukan baju di sana.
Irina kemudian mengambil secarik kertas yang tertuliskan sesuatu di sana.
"Ini pakaian baru untuk mu. Untuk menggantikan baju mu yang aku robek semalam." Tulis pesan di sebuah kertas yang diletakkan tepat di atas baju yang sudah terlipat rapi tersebut.
Karena tidak mungkin ia membuka pintu kamar hotel dengan keadaan tidak berpakaian. Irina pun terpaksa memakai baju yang sudah disiapkan pria misterius itu untuknya.
Setelah selesai memakai pakaian. Irina berjalan kearah pintu kamar hotel untuk membukakan pintu. Dalam hati, Irina pun penasaran siapa yang datang.
"Selamat pagi. Bersama dengan nona Irina kan." Sapa sang salah seorang pelayan hotel dengan ramah.
"Iya, saya sendiri." Jawab Irina bigung.
"Saya membawakan sarapan untuk anda. Seseorang telah memesankan sarapan spesial untuk anda. Dan menyuruh saya untuk membawakannya kemari. Boleh saya masuk dan meletakkan sarapan anda?" Izin sang pelayan itu dengan ramah dan santun.
"Oh, silahkan." Dengan sedikit ragu, akhirnya Irina mempersilahkan sang pelayan hotel untuk masuk.
Sang pelayan hotel itu pun kemudian mendorong troli khusus untuk makan dan membawanya masuk ke dalam kamar hotel. Kemudian ia mengatur makanan yang sudah ia bawa ke meja makan yang ada di kamar hotel mewah tersebut.
"Saya bisa tetap di sini untuk melayani anda. Jika anda berkenan."
"Tidak, terimakasih." Tolak Irina, yang tidak ingin ada orang lain di kamar.
"Baiklah jika kemauan anda seperti itu. Silahkan menikmati sarapan spesial anda Nona Irina. Jika anda ingin memesan sesuatu yang lain. Silahkan hubungi kami." Ucap pelayan itu.
"Iya, terimakasih. O ya, jika boleh tau. Siapa yang pesankan ini semua. Dan siapa yang menyuruh mu?"
"Saya tidak sebutkan nama. Yang pesan ini adalah Mr yang menyewa kamar hotel ini. Semua sudah di bayar dan anda hanya tinggal menikmatinya."
Setelah mengantarkan makanan tersebut. Sang pelayan pun kemudian undur diri dari ruangan kamar hotel.
Sepeninggal sang pelayan. Irina cukup tercengang dengan sikap perhatian yang pria misterius itu tujukan terhadap dirinya.
Di lain sisi, tak bisa dipungkiri Irina juga sudah merasa sangat begitu lapar.
Akhirnya, Irina duduk di salah satu kursi dan kemudian ia menikmati sarapan yang telah dibawakan oleh pelayan itu.
Untuk menyegarkan tubuhnya. Erina meneguk sampai habis satu gelas jus jeruk yang sudah di siapkan. Kemudian ia melahap habis satu piring nasi goreng spesial yang juga sudah di siapkan. Irina benar benar kelaparan.
"Aku tidak peduli ini darinya. Aku saat ini butuh makan untuk memulihkan tenaga ku." Ucap Irina, setelah ia selesai menyantap sarapan yang di berikan oleh Matthew.
Entahlah, pikiran Irina kini banyak sekali memikirkan sesuatu.
Setelah selesai sarapan. Irina merasa sudah punya tenaga sekarang. Dan pusingnya pun juga sudah berangsur membaik.
Setelah itu Irina bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Ketika ia sudah selesai mandi dan ingin kembali mengenakan pakaiannya. Irina iseng-iseng mengecek label baju yang tadi diberikan oleh pria yang di anggapnya misterius tersebut.
Karena merk baju tersebut berasal dari brand baju keluaran Eropa yang bila ia beli sendiri harganya bisa mencapai jutaan rupiah dalam satu potong baju yang ia kenakan.
Dan jika ia mengenakan satu setel baju itu secara keseluruhan. Bisa ditaksir secara keseluruhan total harga jumlah pakai yang ia kenakan bernilai puluhan juta.
Mengabaikan harga fantastis satu setel baju yang ia kenakan. Karena ia sangat butuh pakaian. Membuat fokus Irina mengabaikan apa yang sudah di berikan pria misterius itu untuknya.
Karena ia harus segera pergi meninggalkan kamar hotel untuk mengurus urusan yang jauh lebih penting hari itu.
Keluar dari kamar mandi. Irina kemudian berjalan kembali menuju ruangan kamar hotel. Dan tepat di atas meja rias yang ada di kamar hotel. Irina melihat sebuah tas ransel kecil dan ia tahu apa isi di dalam tas ransel tersebut. Karena semalam Irina menginginkan uang dalam bentuk cash.
Setelah memeriksa isi uang dalam ransel tersebut. Dan benar ternyata isinya adalah uang. Irina pun kemudian bersiap untuk segera pergi meninggalkan kamar hotel. Dan ia berniat untuk segera menemui sang rentenir untuk membereskan urusannya.
Tepat sekitar pukul 12.00 siang. Irina pergi meninggalkan kamar hotel.
Berjalan dengan langkah tergesa, Irina segera menuju lobby utama untuk menaiki sebuah taksi yang sudah siap menunggunya di lobby.
Tanpa Irina sadari, ternyata seseorang masih mengawasinya dan ia berada di sebuah lounge hotel dengan mengenakan kacamata hitamnya.
Saat Irina berlalu dari lobby. Pria itu pun menyaksikan kepergian Irina.
Dan ia pun tersenyum melihat Irina yang memakai pakaian yang sudah ia siapkan dan sudah ia belikan secara khusus untuk wanita malamnya itu.
"Kamu terlihat semakin berkelas dengan memakai baju yang sudah aku belikan untukmu Irina. Kamu makin terlihat cantik dan elegan dengan baju itu." ucap Matthew dalam hati.
Yang kala itu melihat Irina berlalu dari lobby hotel untuk pergi dengan taksi yang ia pesan.
Setelah ia memastikan Irina sudah pergi dari hotel. Matthew pun kini juga bergegas pergi meninggalkan hotel. Karena ia ada meeting penting di kantor.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Berada di dalam mobilnya. Matthew yang saat ini sedang dalam perjalanan menuju kantor nampak menghubungi seseorang.
Matthew tampak sedang menghubungi Rio. Entah ada dorongan apa. Matthew merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi pada Irina. Maka ia menugaskan Rio untuk mengawasi Irina.
Entah kenapa ada perasaan khawatir yang menyerang hati Matthew. Perasaan itu timbul begitu saja dan begitu kuat Matthew rasakan pada Irina.
Karena Matthew sudah tau, jika Irina akan pergi menemui seorang rentenir untuk membayar hutang.
"Rio, ada tugas untukmu." Ucap Matthew pada Rio, begitu sambungan teleponnya tersambung.
"Siap Bos. Tugas apa?"
"Aku sudah menyuruh seseorang untuk mengikuti Irina. Dia akan menghubungimu dan akan memberikan lokasi tempat dia berada saat ini. Tolong kamu ikuti orang itu. Dan aku memberikan tugas untukmu untuk menjadi penguntit Irina. Berikan aku informasi tentang apa saja yang dia lakukan. Dan pastikan dia aman." Tutur Matthew pada Rio. Orang kepercayaan Matthew.
"Aku akan segera menuju lokasi Bos. Apapun yang Anda tugaskan pasti akan saya laksanakan. Karena itu sudah menjadi tugasku." jawab Rio patuh seperti biasa.
"Bagus Rio."
Panggilan pun berakhir. Kini Matthew sedikit merasa lega hati karena ia telah menyuruh orangnya untuk mengikuti Irina.