After One Night Stand With CEO

After One Night Stand With CEO
Terobsesi



"Na, kenapa kamu kemarin malam tidak pergi kuliah. Kamu sibuk ngapain?" Tanya Maya, sahabat akrab Irina di kampus. Saat dua sahabat itu baru saja bertemu di koridor kelas mereka.


Irina kembali aktif ke kampus setelah 2 hari tidak masuk kuliah. Dan Irina beralasan dia sedang tidak enak badan.


"Aku sedang tidak enak badan. Biasalah kecapean." jawab Irina.


"Tumbenan lu pake syal. Panas panas begini pake syal." ujar Maya yang mengomentari gaya pakaian Irina yang kala itu menutupi lehernya dengan kain syal.


"Kan sudah aku bilang, jika aku tidak enak badan. Ini saja sebenarnya aku malas kuliah. Jika tidak karena hari ini ada mata kuliah penting. Aku malas pergi kuliah." sahut Irina beralasan. Tapi memang sebenarnya ia merasa remuk badannya. Karena Matthew benar benar mengexploitasi dirinya dengan berbagai gaya waktu itu. Dan Irina hanya bisa pasrah.


"Na! Hemmm.....Kok malah bengong sih." seru Maya yang merasa aneh dengan sikap Sahabatnya itu. Sampai-sampai membuat Irina kaget.


"Maya, apaan sih?"


"Kamu yang ada apa. Dari tadi aku perhatikan kamu agak aneh," selidik Maya.


"Jangan souzon. Sudah yuk, masuk ke kelas."


Tidak ingin membahas lebih dalam tentang apa yang dialaminya, Irina mengajak Maya untuk segera pergi ke kelas. Untuk mengalihkan perhatian Maya yang sedang mencurigai dirinya.


Sesampainya di kelas. Irina berusaha untuk berkonsentrasi pada mata kuliahnya pada hari itu. Sebisa mungkin ia fokus.


Padahal di pikirannya pada hari itu banyak sekali hal-hal yang ia pikirkan. Tentang bagaimana ia harus bisa menyambung hidup setelah kedua orang tuanya sakit dan sang kakak kini kabur entah kemana.


Bagaimana caranya ia bisa mendapatkan uang untuk melunasi sisa hutang 30 juta tersebut. Setelah ia pikir, Irina ingin berusaha mencari pinjaman. Tapi dengan siapa dia bisa meminjam uang sebanyak itu.


Pikiran-pikiran itu seolah bercampur aduk menjadi satu dipikiran Irina.


Setelah mata kuliah selesai. Irina yang saat itu berada di kantin, tengah membeli makanan untuk mengisi perutnya. Karena sejak pagi perutnya sama sekali belum terisi apapun.


Tidak jauh dari tempat kini Irina duduk. Seseorang sepertinya tengah memperhatikan Irina. Dan orang itu tidak lain adalah Rio.


Dari jarak yang lumayan dekat, Rio nampak memperhatikan dengan seksama apapun yang dilakukan oleh Irina. Dan ia berusaha untuk mencari informasi apa saja tentang wanita yang sepertinya sedang di sukai bos nya tersebut.


Tak lama berselang. Maya bergabung dengan Irina untuk makan siang. Ketika dua sahabat itu telah bertemu. Irina nampak menumpahkan sedikit keluh kesahnya pada sang sahabat.


Dari cerita Irina, Irina minta tolong pada Maya untuk mencarikan seseorang yang bersedia untuk memberikan ia pinjaman uang sebesar 30 juta.


Maya yang sudah tau kondisi dan keadaan Irina pun ikut prihatin dengan apa yang di alami oleh sang sahabat.


Dan kala itu Maya nampak beberapa kali berusaha untuk menelpon seseorang. Dan ia berusaha untuk m membantu Irina.


"Sorry Na, dari beberapa teman yang aku pikir dia bisa membantu mu. Mereka sekarang sedang tidak ada uang. Jadi Sorry banget. Gue tidak bisa bantuin kamu. Dari temen-temen yang aku telepon. Mereka sedang tidak ada uang sebanyak itu untuk dipinjamkan." ucap Maya, yang sudah berusaha membantu Irina.


"Nggak apa-apa May. Makasih ya udah berusaha untuk bantu aku. Memang uang segitu tidaklah sedikit. Nantilah aku pikir sendiri gimana caranya aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu. Untuk bisa segera melunasi hutang-hutang keluarga ku."


"Gua doain, semoga lu cepat bisa mendapatkan uang itu ya Na. Supaya urusan lu soal utang piutang itu kelar."


"Aamiin, makasih Maya."


Dan, dari tempat Rio duduk saat itu. Rio yang sudah menangkap sedikit informasi tentang masalah Irina segera melaporkan apa yang ia tahu kepada Matthew.


Matthew yang saat ini sudah berada di kantor. Langsung membuka ponselnya ketika ia mendapatkan notifikasi pesan masuk dari Rio.


Matthew yang sudah sangat penasaran ingin tahu tentang Irina. Dengan begitu tidak sabar membuka pesan yang sudah dikirimkan oleh Rio. Karena Rio mengirimkan banyak sekali pesan-pesan ke ponselnya.


Dari pesan-pesan yang sudah Matthew baca dari Rio.


Rio menginformasikan informasi yang begitu detail tentang Irina. Di mana ia berkuliah, di mana ia tinggal dan dengan siapa. Serta masalah apa yang kini sedang dihadapi oleh Irina.


Bahkan Rio juga menuliskan tentang keakraban Irina dengan sahabatnya bernama Maya.


Rio juga memberitahukan kepada Matthew jika saat ini Irina sedang membutuhkan uang sebanyak 30 juta untuk melunasi hutang-hutang keluarganya.


Dari informasi yang ia dapatkan. Matthew semakin terpacu dan juga semakin penasaran dengan kehidupan Irina.


Entah ada dorongan apa yang membuat Matthew begitu kecanduan ingin tahu informasi tentang Irina.


Dan informasi yang Rio berikan. Sudah cukup membuat Matthew merasa senang karena ia sudah tahu kehidupan Irina yang sebenarnya.


Tidak hanya mengirimkan sebuah informasi tentang Irina. Rio juga mengambil gambar-gambar Irina ketika ia berada di kampus.


Bahkan Rio juga menguntit Irina ketika wanita berusia 20 tahun itu selesai kuliah dan telah pulang kembali ke rumah.


"Kerja yang bagus Rio. Teruslah cari tahu informasi apa saja tentang Irina. Jangan khawatir soal bayaran. Karena kau pasti akan mendapatkan banyak uang dariku jika kau mampu untuk memberikan aku informasi tentang Irina." Tulis Matthew dalam balasan pesan chat yang sudah Rio kirim untuknya.


Setelah kembali dari kuliah. Irina nampak mengurung diri di kamarnya.


Persoalan yang ia hadapi membuat Irina harus bisa menghadapinya sendiri. Dan tidak mungkin ia berbagi dengan kedua orang tuanya. Meskipun ia berbagi pun, kedua orang tuanya pasti juga tidak akan banyak membantu. Justru malah akan membuat mereka stres dan kepikiran.


Oleh karenanya, Irina mengunci dirinya di kamar. Mencoba berpikir dan mencari jalan keluar terbaik untuk persoalan yang ia hadapi saat ini.


Ketika ia pernah berucap jika ia hanya sekali saja menjual diri. Dan telah mengorbankan segala kehormatan dan kesuciannya kepada seseorang yang tidak ia kenal yang telah membayarnya mahal.


Kini, terlintas dipikiran Irina untuk kembali menjual dirinya untuk yang kedua kali. Untuk bisa mendapatkan uang sebanyak 30.


Sebenarnya itu pilihan mudah bagi Irina untuk melakukan tindakan yang sama. Tapi menurut Irina, cukup sekali Ia melakukan sebuah dosa dan kesalahan.


Tapi dalam keadaan sulit dan juga mendesak saat ini. Membuat dirinya terlintas dalam pikiran untuk melakukan sebuah tindakan yang sama. Menjual diri.


Tapi jika ia melakukan itu, apa bedanya ia dengan para pelacur itu. Yang selalu menjajakan diri ketika mereka membutuhkan uang dengan cara instan.


Apalah artinya menjaga kehormatan dan juga kesucian. Jika kehormatannya sekarang sudah hancur, kesuciannya sudah hilang. Jika Irina melakukan hal itu lagi. Semuanya akan tetap sama.


Sebuah pertentangan batin yang sungguh sulit untuk Irina pilih. Sedangkan tengang waktu yang diberikan oleh rentenir itu juga semakin dekat.


"Jika memang hal itu adalah pilihan terakhir. Tidak ada cara lain. Selain aku menjual diri lagi." ucap Irina dalam hati. Yang telah siap dengan segala kemungkinannya.


"Toh aku juga sudah kotor. Aku seorang pendosa. Sekalian saja aku berlumuran dosa."