
Megan sudah siap dengan setelan outfit berwarna merah maroon serta slingbag hitam yang sudah bertengger manis di pundak kanannya. Suara flatshoes hitamnya terdengar bersutan saat menuruni tangga. Hari ini ia akan berkencan untuk pertama kalinya selama ia menjadi kekasih seorang Edward James Mark. Soal perasaan, Megan sudah tak dapat memungkirinya lagi bahwa ia sangat nyaman jika berada didekat pemuda jangkung itu.
“Ed”
“Wait, bisakah aku menghentikan waktu sekarang ini juga” batin Edward. Mata elangnya menatap intens setiap jengkal dari gadis yang baru dikencaninya beberapa hari lalu.
“Ed” panggil ulang Megan membuyarkan lamunan Edward.
“Ah kau sudah siap”
“Sudah. Apa kau ada masalah? Kau melamun tadi”
“Tidak, hanya sedikit terpana dengan kecantikan kekasihku” jujur Edward membuat pipi Megan memanas.
“So, apa kita akan terus diam disini?”
“Baiklah tuan putri. Mari berangkat” ucap Edward semangat lalu merangkul posesif bahu gadisnya, Megan pun sudah tak sungkan melingkarkan tangannya pada pinggang Edward.
BMW i8 itupun perlahan meninggalkan garasi dan melesat membelah keramaian jalan hdgdk sore ini. Senyum bahagia masih setia melengkung pada bibir ranum milik Megan. Berbeda dengan Edward, mata elangnya menatap tajam kaca spionnya. Sebuah sedan hitam tampak mengikuti mobilnya sejak keluar dari gerbang rumahnya. Edward menekan dial saat 4 nama sudah digabungkan dalam sebuah panggilan.
“Jalan Albion sekarang”
Megan yang mendengar itupun mengerutkan keningnya heran “Ada apa Ed?”
“Tak apa. Kau keberatan jika kita harus ke California?” tanya Edward.
“Sekarang?” Edward mengangguk.
“Kenapa tiba-tiba sekali? Aku bahkan tidak membawa apapun”
“Just a little surprise baby” ucap Edward setenang mungkin sambil mengacak pelan puncak kepala Megan membuat si empunya mencebik.
Keduanya kini telah sampai di Bandara Internasional Pearson Toronto. Sebuah jet pribadi sudah siap untuk lepas landas. Pandangan heran Megan tunjukkan pada beberapa pria tubuh besar berpakaian serba hitam yang terlihat sangat menakutkan. Megan mengeratkan pegangannya pada lengan kiri Edward.
“Tak perlu takut, mereka hanya menjagamu” ucap Edward menenangkan gadisnya.
Interior mewah menyambut Megan yang baru saja memasuki jet pribadi milik keluarga Mark.
“Aku akan menelphone sebentar” izin Edward yang langsung mendapatkan anggukan dari Megan.
“Dad aku akan ke California”
“Daddy sudah mengirim beberapa orang”
“Baiklah, jaga diri kalian”
Panggilan dimatikan. Edward langsung menghubungi teman-temannya lewat panggilan grub.
“Aku akan ke California untuk sementara, menjauhkan Megan dari jangkauan Thunder”
“Sungguh disini sangat busuk” Leo bersuara.
“Tahan Leo” Harry menyahut lalu diikuti tawanya.
“Kau jaga saja Megan Ed, mataku masih cukup jernih untuk mengenali anak buah Thunder” lapor Jovial.
“Mereka berpakaian abu-abu. Look around you guys” Arthur ikut melapor.
“Apa kau bisa melihat warna pakaian dalam mereka Arthur”
“Crazy Leo!” maki Harry.
“Tetap kabari aku” ucap Edward lalu masuk kembali tanpa mematikan panggilan.
“Kenapa lama sekali!” sembur Megan saat Edward muncul.
“Maaf, kita akan berangkat sekarang” ucap Edward lalu menggenggam lembut jemari gadisnya.
Welcome to Sun Fransisco International Airport.
“Kita akan beristirahat dulu. Besok baru kita berkeliling” ucap Edward saat memasuki mobil yang sudah disiapkan.
“Hm”
“Apa kau sakit?”
“Aku hanya kelelahan” Edward mengangguk memaklumi.
Mobil Edward berhenti di halaman sebuah mansion mewah di kawasan elit. Gadis di sampingnya sudah menutup mata tak lama setelah mereka sampai.
“Aku minta maaf karena telah membawamu masuk dalam masalahku. Aku mencintaimu” ucap Edward lirih lalu menaikkan selimut Megan.
Edward menjawab panggilan dari ayahnya “Ya dad”
“Mereka sudah lumpuh”
“Aku lega mendengarnya”
“Tapi daddy akan mengirim beberapa pengawas untuk kalian”
“Hm”
“Aku tau dad. Aku juga akan membantunya”
“Baiklah jaga diri kalian”
Setelah mematikan telephon dari ayahnya, Edward segera menuju komputer nya. Tangganya sangat lihat bergerak menekan beberapa tombol keyboard.
"Kita harus selesai malam ini" perkataan Edward mampu di dengar teman-temannya. Mereka tersambung pada panggilan grub. Sebuah earpiece putih menggantung di telingan kanannya.
"Mereka meningkatkan keamanan sistemnya" suara Leo.
"Kuncinya berlipat-lipat" Harry menyahut.
"Arthur bobol sistem teratasnya" Edward kembali bersuara.
"Shit, ada yang ingin memasuki sistem kita" umpat Arthur.
"Jo tingkatkan keamanan. Leo bobol sistem baru nya, mereka sedang sibuk memasuki sistem kita. Harry bantu Leo"
"Aku berhasil meretas sistem teratas"
"Segera salin datanya"
"Yashh" kelima pemuda tersebut menghembuskan nafas lega saat mereka berhasil menyelesaikan misinya.
"Yaishh, jariku hampir saja putus" keluh Leo.
"Baiklah. kalian bisa beristirahat malam ini. Terimakasih"
"Tak perlu berterimakasih, kita ini keluarga bukan" suara Jovial menenangkan semuanya.
"Kapan kau akan kembali Ed?"
"Entahlah. Mungkin sepekan lagi"
"What!! Itu sama saja dengan liburan bodoh!" sungut Leo.
"Calm down Leo. Kita akan mendapat bagian sendiri"
Edward melepas earpiece nya. Kaki panjangnya melangkah menuju kamar mandi. Diliriknya jam dinding besar berwarna gold yang menunjukkan pukul 3 pagi. Sebaiknya ia cepat-cepat membersihkan diri lalu mengistirahatkan badannya juga pikirannya.
🌚
Jovial, Harry, Leo, dan Arthur baru saja sampai dengan motor besar mereka. Seperti biasa Leo dan Harry yang sudah memasang wajah genitnya. Sedangkan Jovial dan Arthur masih setia dengan tampang dingin mereka.
Pekikan gadis-gadis NSS terdengar riuh membuat keadaan loby semakin ramai.
Arthur beberapa kali menguap, kantuknya sungguh tak bisa ditahan lagi. Beberapa kali ia menabrak punggung Jovial yang ada di depannya.
"Apa kau mengantuk?" tanya Jovial.
"Sangat. Aku bahkan tak bisa tidur dengan benar semalam"
"Aku tak yakin kau akan mendengarkan penjelasan Mr. Clack pagi ini" ucap Jovial lalu membelokkan langkahnya.
"Ah Thunder sungguh membuatku muak" kesal Arthur lalu menenggelamkan wajahnya pada tumpukan kedua tangan.
"Bunuh saja" balas Jovial tenang.
"Jika Edward mengizinkanku, mungkin Thunder sudah berada di neraka sekarang". Jovial terdengar menertawakan ucapan Arthur.
Tak jauh berbeda dengan mereka berdua, Harry dan Leo sedang mati-matian menahan mata agar tak menutup. Jika sampai mereka tertidur, sungguh Leo dan Arthur tak akan bisa membayangkan masa depan mereka.
Di depan Mrs. Angela terlihat lebih kejam dengan lipstik merah nya.
"Ah sungguh, dia lebih terlihat seperti ******" Leo bersuara.
"Tutup mulutmu atau kau akan tau akibatnya"
Mrs. Angela baru saja meninggalkan kelas. Dering telepon membuat Leo mengurungkan niatnya untuk tidur.
"Kemarilah. Aku tau kalian sangat mengantuk"
Tubuh Leo menegak "Aku akan segera kesana"
"Siapa?" tanya Harry dengan separuh nyawanya.
"Time to sleep dude". Mendengar itu Harry langsung bergegas pergi. Ia sudah paham bahkan sangat paham dengan apa yang dikatakan Leo.
Ruangan berukuran 10×10 ini terlihat sangat nyaman dan sederhana. Ruangan yang Edward minta untuk sekedar berkumpul bersama.
"Dimana Arthur?" tanya Harry saat memasuki ruangan. Jovial menggerakkan dagunya pada sebuah ayunan tidur.
Harry merebahkan tubuhnya pada sebuah sofa dan perlahan menutup matanya.