ABOUT YOU

ABOUT YOU
Tentang Sakti Dan Tatang



Hari ini rasanya campur aduk. Fikiran gue kacau entah mengapa. Gue duduk termenung di warung kopi dekat rumah Tatang. Gue jadi teringat kejadian tadi, saat gue melihat ada pria lain yang mengantar Risa pulang ke rumahnya.


Tadi siang, Risa whatssapp gue. Dia bilang mau pulang bersama teman-temannya. Gue menyetujuinya karena memang dia sudah lama tak pulang bersama dengan teman-temannya. Namun, saat hendak pulang, Asti tiba-tiba saja datang ke sekolah dan memeluk gue tanpa permisi.


Gue yang dipeluk seperti itu, spontan saja langsung melepaskannya. Karena jujur, gue memang sudah tidak ada rasa untuknya.


“Elo ngapain sih pake peluk-peluk segala di depan sekolah gue?” sewot gue galak.


“Gue kangen sama lo, Fan,” katanya menjawab.


“Iya, tapi gak usah peluk-peluk juga bisa, kan? Oh iya, kenapa tadi lo telepon gue? Pake bilang calon pacar gue segala lagi. Maksudnya apa?” tanya gue tak sabaran.


“Yang angkat telepon lo tadi siapa? Pacar lo?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.


“Iya, pacar gue. Kenapa?” tanya gue balik.


“Jadi, bener lo udah punya pacar? Dia lebih cantik dari gue?” tanyanya ngotot.


“Dia lebih baik 100 kali lipat dari pada lo,” jawab gue sinis.


“Elo nyesel pacaran sama gue, Fan?”


“Iya. Harusnya, dari dulu gue pacaran sama Risa bukan sama lo,” jawab gue cepat tanpa fikir panjang.


“Fan?” katanya memanggil


“Udah, gue mau balik. Jangan pernah datang lagi ke rumah sama sekolah gue. Ngerti lo?”


Tanpa pamit, gue langsung pergi meninggalkan Asti yang sepertinya masih memandangi gue. Gue males banget kalau udah ketemu sama Asti seperti ini, rasanya ingin sekali gue tendang dia jauh-jauh dari kehidupan gue. Kalau seperti ini, rasanya gue jadi ingin bertemu Risa. Gue pun memutuskan untuk berkunjung ke rumahnya.


Namun, sialnya gue malah melihat Risa diantar oleh seorang pria tinggi. Cowonya sih ganteng, sepertinya dia kakak kelas. Dan, gue nggak tahu itu siapa karena Risa nggak pernah cerita sama gue. Tapi, entah kenapa gue gak suka dengan pria itu. Risa juga terlihat nyaman sekali bersama dengan pria itu. Dia tersenyum hangat seperti yang sering ia perlihatkan sama gue.


Kini, ada orang lain yang bisa membuatnya tersenyum seperti itu selain gue. Rasanya sakit. Sepertinya, gue cemburu dengan pria itu. Tapi, gue bisa apa? Gue merasa kecil dari pria itu dan gue pun memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah Risa.


“Kenapa? Cemburu?” tanya Tatang yang melihat gue tak bersemangat setelah menceritakan kejadian apa yang telah terjadi tadi.


Kalau urusan perasaan dan perempuan, gue lebih suka curhat sama Tatang. Dia lebih enak diajak cerita dan berdiskusi. Solusinya juga terkadang menghasilkan, dia juga bisa menjaga rahasia. Ngomong-ngomog soal Tatang, gue kenal dia saat gue masih di sekolah lama gue. Gue kenal Tatang saat dia tidak sengaja kena palak musuh bebuyutan gue di sekolah.


Sakti, dia itu musuh bebuyutan gue dari awal gue masuk sekolah gue terdahulu. Entah kenapa, bawaannya dia selalu bikin gue emosi. Mulai dari dia yang sering gangguin Arini dan mengejeknya, hampir merebut Asti dari gue dan yang paling parah dia hampir mencium bibir Arini karena terus menggodanya.


Dia benar-benar sudah melecehkan adik kesayangan gue. Dia juga penyebab gue dikeluarkan dari sekolah. Setelah kejadian perkelahian antara gue dengannya yang menyebabkan dia pingsan dan dilarikan ke rumah sakit, gue baru tahu semuanya dari Seno, teman satu sekolah gue dulu.


Ternyata, Sakti itu pura-pura pingsan dan bilang pake acara geger otak segala supaya gue di keluarin dari sekolah. Gue yang mendengarnya langsung emosi, apalagi dia nyerang anak orang dan malakin si Tatang. Makinlah gue emosi dan sejak itulah gue berkawan dekat dengan Tatang.


Tadinya, gue ingin menuntut balas dendam si Sakti itu karena sudah membuat gue dikeluarkan dari sekolah dan di cap cowo paling bermasalah di mana-mana. Pake nyebarin gossip gue simpanan tante-tante segala lagi. Kan, geblek tuh si Sakti! Tapi, Tatang bilang dia gak usah dibalas. Dan, gue nurut begitu saja dengan ucapannya itu.


“Cemburu itu ternyata tidak menyenangkan, Tang.”


“Ya, nggak apa-apa. Sekali-kali cemburu wajarlah.”


“Asal jangan keseringan aja. Stress gue nanti.”


“Udah kelihatan ko stressnya.”


“Masa, sih?” tanya gue tak percaya.


“Elo sayang banget sama, Risa?” tanya Tatang tiba-tiba.


“Kayanya sih gitu, Tang.”


“Ko, kayanya?”


“Nggak tahulah, Tang. Gue sayang sama dia tiba-tiba gitu aja. Gak bisa dijelasin pake kata-kata, sayang gitu aja gak ada alasan apa pun.”


“Berarti lo tulus sayang sama Risa,” katanya kembali yang membuat gue terdiam. “Rasa sayang lo ke Risa lebih besar dari pada rasa sayang lo sama Asti. Apalagi lo bilang kan, kalau Risa mulai dekat dengan keluarga lo. Elo kan, paling seneng kalau pacar lo dekat sama keluarga lo, khususnya Arini.”


Gue terdiam. Arini memang segala-galanya untuk gue. Walau gue sering berantem, gue berantem juga untuk melindungi harga diri Arini.


“Kalau lo memang sayang sama Risa, elo harus siap apa pun yang terjadi dalam hubungan kalian nanti. Yang namanya menjalin hubungan, pasti akan ada badainya. Mungkin, sekarang badai itu datang untuk menguji kesetiaan cinta lo. Fikirkan apa saja yang membuat lo senang, yang suram gak usah difikirkan. Jangan buat pusing diri lo sendiri.”